DKSS Posisikan Diri Sebagai “Rumah Bersama”, Siap Jembatani Ekosistem Seni di Makassar Biennale 2025
MAKASSAR – Perhelatan akbar Makassar Biennale 2025: "REVIVAL" yang dimulai hari ini (17/11) mendapat dukungan penuh dari Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS). Ketua Umum DKSS, Dr. Arifin Manggau, M.Pd., menegaskan bahwa momentum ini sangat vital bagi perkembangan ekosistem seni di Sulawesi Selatan.
Arifin Manggau menyatakan, DKSS memposisikan diri sebagai mitra strategis yang berperan aktif dalam menjembatani seluruh elemen komunitas seni untuk menyukseskan perhelatan ini.
"Makassar Biennale adalah aset kita bersama. Ini bukan hanya perhelatan milik satu komunitas, tapi milik seluruh pegiat dan penikmat seni di Sulawesi Selatan," ujar Manggau di Makassar, Senin (17/11).
Menurutnya, tema "REVIVAL" atau Kebangkitan sangat relevan dengan fungsi DKSS saat ini, yaitu merawat dan membangkitkan gairah ekosistem kesenian.
Menjadi Jembatan dan Ruang Kolaborasi
Lebih lanjut, Manggau menjelaskan posisi DKSS dalam konstelasi seni rupa di Sulsel. Ia menegaskan bahwa DKSS hadir bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai "rumah bersama" dan fasilitator.
"Tugas utama kami di DKSS adalah menjembatani," tegasnya. "Kami menjembatani para seniman dari berbagai disiplin—baik itu seni rupa, pertunjukan, sastra, maupun film—untuk saling terhubung. Kami juga menjembatani komunitas-komunitas yang mungkin selama ini berjalan sendiri-sendiri agar bisa berkolaborasi."
Baca juga:
Insiden Perundungan Guru di Takalar : Siswi Dijemur, Sekolah Berjanji Usut Tuntas
Dalam konteks Makassar Biennale 2025, peran "jembatan" ini menjadi krusial. DKSS, yang juga tercatat sebagai salah satu mitra penyelenggara, berupaya memastikan agar biennale ini dapat diakses dan dirasakan manfaatnya oleh sebanyak mungkin pelaku seni.
Mendukung Penuh Ekosistem Seni
Dukungan DKSS terhadap Makassar Biennale tidak hanya bersifat seremonial. Menurut Manggau, dukungan ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang DKSS untuk membangun ekosistem seni yang sehat dan berkelanjutan di Sulawesi Selatan.
"Perhelatan berskala internasional seperti Makassar Biennale ini adalah motor penggerak ekosistem," jelasnya. "Di sinilah terjadi pertukaran wacana, regenerasi seniman, perluasan jaringan, dan peningkatan apresiasi publik. Ini yang kami sebut sebagai investasi ekosistem."
Ia berharap, melalui kolaborasi yang erat antara DKSS, Yayasan Makassar Biennale, akademisi, komunitas, dan pemerintah kota, "REVIVAL" dapat menjadi momentum kebangkitan yang sesungguhnya bagi seni dan budaya di Makassar.
"Kami di DKSS akan selalu mendukung dan memfasilitasi setiap inisiatif yang bertujuan memperkaya dan mengembangkan ekosistem seni di Sulawesi Selatan. Makassar Biennale adalah salah satu pilar utamanya," tutupnya.

Comments (0)
There are no comments yet