Firman Jamil: Karya Seni Modern Gampang "Hangus", Kontinuitas dan Arsip Jadi Kunci Makassar Biennale
MAKASSAR – Seniman Firman Jamil, yang hadir dalam pembukaan dan simposium internasional Makassar Biennale (MB) "Revival" 2025, menyoroti dua poin krusial untuk masa depan perhelatan tersebut: kontinuitas dan pengarsipan.
Di tengah kondisi biennale saat ini, ia menekankan bahwa yang terpenting adalah "peristiwanya" tetap terjadi, dan setiap prosesnya wajib didokumentasikan secara serius agar tak hilang ditelan zaman.
Menurut Firman, perlu ada inisiatif dari pengelola atau panitia untuk memahamkan para seniman mengenai kondisi biennale saat ini. Ia menegaskan bahwa MB 2025 "harus terjadi, harus dilaksanakan", bahkan dengan segala keterbatasan yang ada, demi menjaga keberlanjutan.
"Kita butuh kontinuitas. Butuh peristiwa ya, butuh peristiwanya. Untuk kontinu," tegas Firman saat ditemui di Kalla Institute, Senin (17/11/2025).
Pemahaman ini, lanjutnya, juga menyangkut siasat dalam biaya produksi. Seniman perlu diberi pengertian mengenai situasi finansial yang ada.
"Misalnya soal seni mural," ia memberi contoh. "Mural itu kan tidak harus perfect seperti poster film. Bisa dalam bentuk gagasan. Apa idemu tentang mural? Itu seniman harus melaksanakan itu. Tapi kalau memang dia butuhkan biaya produksi besar, ya mungkin pending dulu."
Baca juga:
Kabar Baik untuk Petani, SK Pupuk Subsidi Segera Dikeluarkan Menkeu Sri
Selain kontinuitas, Firman menekankan pentingnya "pencatatan-pencatatan kearsipan" atas segala peristiwa yang terjadi selama biennale berlangsung. Poin ini menjadi vital, katanya, karena karakteristik karya seni media modern yang tidak bertahan lama.
Ia membandingkannya dengan karya seni purba yang mampu bertahan ribuan tahun.
"Apalagi kalau seniman berkarya menggunakan media modern, itu biasanya tidak bertahan lama. Beda dengan karya-karya manusia purba yang dibikin di dinding-dinding gua. Di Leang-leang itu, materialnya kan bisa bertahan sampai ratusan tahun," jelasnya.
Firman menyebut, konteksnya kini telah berbeda. Seni purba menggunakan "metode lingkungan, nature", sementara seni kontemporer menggunakan "produk industri" yang gampang hangus dan rusak.
"Kalau tidak (diarsip), kita tidak akan tercatat oleh peradaban masa depan. Karena materi-materi kita gunakan itu hangus, habis. Makanya butuh pengarsipan, pendokumentasian. Yang juga harus bagus," pungkasnya.

Comments (0)
There are no comments yet