Melacak Embrio Bangsa di Parangtambung: Gugatan Literasi "Bumi Manusia" di Tengah Pendangkalan Sejarah

Redaksi - budaya
09 February 2026 22:03

Mengabari.com-Di saat ruang publik semakin disesaki oleh konsumsi konten instan, kolektif Parangtambung Literature Clinic (PLC) justru memilih jalan sunyi yang provokatif. Melalui program rutin "Satu Tahun Membaca Indonesia", PLC akan menggelar bedah karya monumental Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer pada Selasa, 10 Februari 2026.

Kegiatan yang memasuki pertemuan kelima ini bukan sekadar diskusi buku biasa. PLC mencoba meletakkan sastra sebagai alat bedah sosiologis untuk melihat kembali bagaimana identitas "Indonesia" dikonstruksi. Di tangan kolektif akar rumput ini, teks Pramoedya ditarik keluar dari rak perpustakaan menuju meja diskusi warga untuk menjawab kegelisahan zaman: Sejauh mana kita benar-benar berdaulat secara pemikiran?

Diskusi kali ini akan dipantik oleh Susi Febriani, aktivis sastra dari Universitas Negeri Makassar (UNM). Dalam pembacaannya, Susi menyoroti bahwa Bumi Manusia adalah otokritik terhadap dunia pendidikan.

"Membaca mahakarya ini adalah proses menyakitkan sekaligus membanggakan. Melalui Minke, kita melihat bagaimana literasi menjadi senjata utama melawan penindasan," ujar Susi. Ia menekankan bahwa relevansi roman ini bagi pembaca hari ini bukan pada romatismenya, melainkan pada bagaimana pendidikan seharusnya memerdekakan manusia, bukan sekadar menjadikannya sekrup dalam mesin industri.

Baca juga:
Dukung Program Pesantren, Bupati Bantaeng Raih Penghargaan Pesantren Award 2025

Salah satu kekuatan program PLC adalah inklusivitasnya. Nyul, penggerak kegiatan, menegaskan bahwa diskusi ini terbuka bagi siapa saja, dari akademisi hingga masyarakat umum. Upaya ini merupakan praktik nyata untuk meruntuhkan sekat eksklusivitas intelektual yang selama ini sering kali hanya berputar di lingkungan kampus.

"Kami mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk hadir. Kehadiran berbagai perspektif akan membuat diskusi ini lebih hidup. Kita perlu membaca Indonesia secara kolektif," ajak Nyul.

Acara akan berlangsung di Parangtambung dan diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nalar kritis warga melalui karya-karya sastra besar tanah air.

Related Posts

Comments (0)

There are no comments yet

Leave a Comment