Bertahan 40 Tahun, Ini Rahasia Lontong Orari Hj. Rusminah yang Bikin Ketagihan

Ramli - Food
23 April 2026 15:13

BANJARMASIN - Sekitar 500 meter dari tepian Sungai Martapura, di kawasan Jalan Simpang Sei Mesa, Banjarmasin Tengah, berdiri sebuah rumah makan panggung yang nyaris tak pernah sepi. Bangunannya jauh dari kesan mewah, namun dari dapurnya menguar janji rasa lontong sayur yang berbeda. Namanya telah melintasi waktu lebih dari empat dekade: Lontong Orari Banjarmasin.

"Saya mulai berdagang di rumah ini sejak 1978, atau awal 1980-an, untuk menghidupi lima anak saya," tutur Hj. Rusminah, sang pemilik, dalam Bahasa Banjar. detikfood menjumpainya pada Selasa (21/4/2026) petang. Selama perbincangan, sang menantu yang akrab disapa Mamah Kevin membantu menerjemahkan.

Kelima anaknya merupakan buah dari tiga pernikahan, dengan suami yang masing-masing berprofesi sebagai pegawai negeri dan anggota DPRD. Ketiganya telah lebih dulu berpulang, disusul dua dari lima anaknya. Dalam kondisi itu, Rusminah-yang pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Kepandaian Putri setingkat SMP-harus berjibaku menopang hidup keluarga.

Awalnya, ia hanya menjajakan lontong sayur untuk sarapan warga sekitar. Namun, dalam hitungan hari, respons di luar dugaan. Warung kecil itu cepat dikenal sebagai "Warung Lontong Mak Haji". Nama "Lontong Orari" muncul belakangan, ketika para pemuda yang aktif berkomunikasi lewat radio Orari kerap berkumpul-atau "ngebreak"-di tempat ini. Seiring waktu, nama itu melekat dan menjadi identitas yang tak tergantikan.

Cita rasa lontong di sini bertumpu pada bumbu habang-bumbu merah khas Banjar yang kaya rasa. Gurih, manis, dan sedikit asin berpadu dalam kuah santan kental yang harum, dilengkapi taburan bawang goreng.

Lauk-pauknya pun memperkaya sajian: telur bebek rebus, ayam goreng berbumbu, serta sayur nangka muda bersantan. Ikan haruan, atau gabus khas sungai Kalimantan, sempat menjadi primadona. Namun dalam beberapa bulan terakhir, lauk ini absen dari meja saji. Menurut Mamah Kevin, pasokannya menurun dan ukuran ikan yang tersedia tidak lagi memenuhi standar.

Baca juga:
"Motif Sakit Hati, Warga Maros Tewas Ditebas Ipar dan Ponakannya"

"Saya tidak mau pelanggan kecewa kalau ikannya makin kecil," kata Rusminah. Ia memilih menghentikan sementara penyajian haruan hingga kualitasnya kembali sesuai.

Untuk menghasilkan lontong yang padat namun tetap lembut dan legit, Rusminah menggunakan beras premium sekelas beras Cianjur. Khusus untuk lontong, ia memilih beras yang cenderung pera dan telah disimpan некоторое waktu. Setiap bungkus lontong diisi sekitar dua setengah sendok makan beras, lalu dimasak selama lima jam dengan kayu bakar, atau hingga delapan jam jika menggunakan kompor minyak.

Dalam operasionalnya, Rusminah dibantu anak, menantu, kerabat, hingga tetangga-total sekitar 15 orang. Setiap hari, mereka mengolah 35 hingga 60 kilogram beras menjadi lontong, memasak sekitar 40 ekor ayam dan 400 butir telur bebek, serta berbagai lauk lainnya. Untuk daun pisang saja, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp1 juta per hari.

Soal harga, menu di sini memang sedikit di atas rata-rata. Seporsi lontong dengan telur dibanderol sekitar Rp22 ribu, dengan ayam Rp31 ribu, dan sebelumnya dengan haruan mencapai Rp37 ribu. Namun, dengan porsi besar dan rasa yang konsisten selama puluhan tahun, pelanggan setia menilai harganya sepadan.

 

Related Posts

Comments (0)

There are no comments yet

Leave a Comment