Presiden Iran: Saya Tidak Dukung Perang Berlanjut, Tapi Kita Harus Perkuat Ketahanan Negara
TEHERAN — Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan sikap tegasnya: ia tidak mendukung kelanjutan perang dengan Amerika Serikat. Namun, ia menyerukan penguatan ketahanan negara untuk menghadapi fase berikutnya.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian dalam pertemuan dengan para pimpinan universitas di Iran, Jumat (11/9/2026), seperti dilaporkan kantor berita Mehr News Agency.
"Saya tidak mendukung kelanjutan perang, namun kita harus memperkuat ketahanan negara dalam menghadapi perkembangan di masa mendatang," ujarnya.
Pezeshkian menegaskan bahwa penguatan ketahanan negara menuntut langkah yang tidak memaksa Iran bernegosiasi dengan "musuh" dari posisi yang lemah. Ia pun meminta universitas mendukung pemerintah dalam hal ini.
Ia juga mengingatkan bahwa langkah-langkah ekonomi harus mempertimbangkan kondisi sosial yang ada. Kebijakan yang tidak diperhitungkan dengan matang, katanya, justru akan merugikan alih-alih memberikan solusi.
Pezeshkian menyerukan pemanfaatan kontribusi mahasiswa dari Generasi Z untuk memecahkan masalah masyarakat. Ia ingin mereka terlibat dalam menghadirkan solusi, bukan dalam aksi protes.
"Kita harus memanfaatkan kontribusi mahasiswa dari Generasi Z untuk memecahkan masalah masyarakat, serta memastikan partisipasi mereka dalam menghadirkan solusi alih-alih terlibat dalam aksi protes," ujarnya.
Sebagai presiden, Pezeshkian menegaskan tidak memiliki ikatan politik dengan kelompok tertentu. Ia menyatakan keterbukaan untuk bekerja sama dengan semua arus politik dan siapa pun yang berkontribusi dalam mengatasi krisis yang dihadapi negara.
AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu Teheran menembakkan rudal ke arah Israel serta menyerang target dan pangkalan AS di beberapa negara kawasan.
Iran juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran, yang menyebabkan gangguan luas terhadap arus energi dan perdagangan global.
Pada 18 Juni, Washington dan Teheran mencapai nota kesepahaman untuk mengakhiri operasi militer, termasuk jaminan bagi pelayaran kapal komersial melalui Selat Hormuz dan dimulainya negosiasi untuk mencapai kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari.
Namun, kesepahaman tersebut kemudian gagal. Konfrontasi kembali terjadi pada Juli, di mana AS melancarkan serangan baru terhadap target-target di dalam wilayah Iran serta memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Di tengah ketegangan yang belum mereda, Pezeshkian memilih jalur diplomasi dan penguatan internal bukan eskalasi perang.