Pernyataan Londo Ireng: Prabowo Picu Polemik, IJTI Sampaikan 7 Poin Tegas
JAKARTA – Dunia pers Tanah Air kembali bergelora. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut adanya pihak-pihak berperilaku seperti "Londo Ireng" (komprador/adu domba) dengan bersembunyi di balik profesi wartawan, menuai polemik tajam. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) pun angkat bicara dengan menyampaikan tujuh poin pernyataan tegas, penegasan, dan masukan konstruktif demi menjaga iklim kemerdekaan pers dan keutuhan demokrasi.
Ketujuh poin tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua Umum IJTI Herik Kurniawan dan Sekretaris Jenderal Usmar Almarwan. Berikut isi lengkapnya:
1. Jurnalis Bukan Kaki Tangan Asing
IJTI dengan tegas menegaskan bahwa jurnalis independen yang bekerja sesuai kaidah profesi bukanlah kaki tangan asing ("Londo Ireng") maupun pihak yang ingin merusak bangsa. "Tugas kami adalah menghadirkan informasi yang jujur, faktual, dan berimbang demi kepentingan publik, bukan untuk memecah belah," demikian bunyi pernyataan tersebut.
2. Jurnalis Adalah WNI yang Cinta Tanah Air
Seluruh jurnalis yang bernaung di bawah norma kebebasan pers adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang mencintai Republik Indonesia. Mereka bekerja di lapangan bahkan sering kali bertaruh nyawa semata-mata untuk menjaga transparansi, menyuarakan kebenaran, dan mengawal perjalanan demokrasi agar tetap berada di jalur yang benar.
3. Gunakan Mekanisme Hukum, Bukan Label Generalisasi
IJTI mengimbau semua pihak untuk menggunakan mekanisme resmi melalui Dewan Pers (Hak Jawab, Hak Koreksi, dan pengaduan) sesuai amanat UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, jika terdapat pemberitaan atau media yang dianggap bermasalah. "Bukan dengan memberikan label generalisasi kepada seluruh profesi jurnalis," tegas pernyataan tersebut.
4. Presiden Prabowo Adalah Pemimpin Baik, Pers Siap Jadi Mitra Kritis
IJTI meyakini bahwa Presiden Prabowo Subianto adalah seorang pemimpin yang baik, mencintai jurnalis, serta berpihak pada rakyat. "Kami percaya bahwa pernyataan beliau lahir dari ikhtiar menjaga kedaulatan bangsa, dan pers siap menjadi mitra kritis serta strategis dalam menyuarakan aspirasi rakyat kepada pemerintah," ujar IJTI.
5. Hindari Diksi Negatif bagi Profesi Jurnalis
Jika pernyataan Presiden ditujukan untuk tindakan "premanisme" dengan menyalahgunakan profesi jurnalis sebagai cara mendapatkan keuntungan ekonomi, IJTI meminta Presiden untuk menghindari diksi yang bisa memberi label negatif bagi seluruh profesi jurnalis.
6. Pernyataan Presiden Berdampak Luas, Pilih Diksi yang Tepat
IJTI mengingatkan bahwa pernyataan seorang Presiden bukan sekadar opini personal, melainkan pernyataan kenegaraan yang memiliki dampak sosial-politik yang luas. "Pelabelan 'Londo Ireng' terhadap profesi jurnalis berisiko menjadi justifikasi pihak lain melakukan intimidasi, pengawasan berlebihan, atau pembatasan terhadap kerja jurnalistik. IJTI meminta Presiden dan pejabat publik memilih diksi yang tepat dan positif," tegas pernyataan tersebut.
7. Negara Harus Lindungi Ekosistem Pers, Bukan Intervensi
IJTI menyoroti kondisi industri dan ekosistem pers nasional yang sedang menghadapi krisis berat akibat disrupsi digital, ancaman keberlanjutan ekonomi media, hingga masalah kesejahteraan jurnalis. "Negara harus hadir memberikan bantuan dan perlindungan ekosistem, bukan dalam bentuk intervensi redaksional, melainkan regulasi yang adil dan mendukung keberlanjutan media nasional," pungkas pernyataan tersebut.
Menutup pernyataannya, IJTI mengingatkan semua pihak mengenai pentingnya memahami landasan kerja jurnalis. "Pers menduduki posisi strategis bersama eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Tanpa pers yang bebas dan kritis, fungsi check and balances dalam pemerintahan tidak akan berjalan optimal. Menghormati profesi jurnalis yang bekerja sesuai Kode Etik Jurnalistik, sama halnya dengan merawat kebebasan rakyat dan menjaga martabat demokrasi di Indonesia."
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyinggung keberadaan pihak-pihak yang disebutnya sebagai "Londo Ireng" saat menghadiri Puncak Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (23/7/2026) malam.
"Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng, ya. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM," kata Prabowo saat itu.










