Dari Limbah Kerang hingga Air Bersih: Inovasi SMFT UNIFA Atasi Krisis Air di Pangkep
Pangkep – Senat Mahasiswa Fakultas Teknik (SMFT) Universitas Fajar (UNIFA) Makassar menegaskan komitmennya dalam pengabdian masyarakat melalui Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (PM BEM) 2025. Program ini menyasar Desa Kabba, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep.
Pesona alam Lamperangan, sebuah kawasan wisata yang menyuguhkan keindahan pegunungan kars Pangkep, tersembunyi ironi krisis air bersih. Selama ini, warga Lamperangan harus puas mengonsumsi air langsung dari mata air kars tanpa pengolahan memadai, berisiko terhadap kesehatan.
Rombongan mahasiswa dan dosen dari Senat Mahasiswa Fakultas Teknologi (SMFT) UNIFA datang membawa solusi cerdas, menggabungkan teknologi berkelanjutan dan kearifan lokal, mengubah limbah laut menjadi sumber air minum yang aman.
Inisiatif ini berpusat pada pemanfaatan kitosan, sebuah biopolimer alami yang diekstraksi dari limbah cangkang kerang hijau. Biasanya terbuang, cangkang kerang ternyata mengandung kadar kitosan yang tinggi.
Kitosan dikenal sebagai agen koagulan dan flokulan yang efektif. Molekulnya memiliki muatan positif yang kuat, memungkinkannya mengikat partikel-partikel bermuatan negatif seperti lumpur, mikroorganisme, dan kontaminan organik di dalam air.
Kitosan menawarkan keunggulan sebagai bahan penjernih air yang tidak beracun (non-toksik), mudah terurai secara alami (biodegradable), dan merupakan alternatif ramah lingkungan dari bahan kimia penjernih air konvensional.
Dengan memproses limbah cangkang kerang menjadi kitosan, tim SMFT UNIFA tidak hanya menjernihkan air, tetapi juga mengatasi masalah lingkungan berupa penumpukan limbah laut.
Puncak dari program inovatif ini adalah pembangunan kolam penjernihan air berkapasitas 20 meter persegi. Kolam ini dirancang untuk mengaplikasikan kitosan dalam proses koagulasi dan sedimentasi, memastikan air yang dihasilkan memenuhi standar kelayakan konsumsi.
Baca juga:
Ramadan ke 9 1445H, MWC NU Tamalate Berbagi Kebaikan bersama LAZISNU Makassar
Lebih lanjut, kolam penjernihan ini dilengkapi dengan pompa air tenaga surya. Pemilihan teknologi ini adalah langkah strategis menuju keberlanjutan. Wilayah Lamperangan yang mungkin memiliki akses listrik terbatas atau biaya operasional listrik yang tinggi dapat diatasi dengan energi matahari yang melimpah dan gratis.
“Teknologi pompa surya menjamin pasokan listrik yang efisien dan berkelanjutan, memastikan air bersih dapat terus mengalir ke rumah-rumah warga tanpa terhambat oleh masalah listrik,” ujar Riswandi, Ketua Senat SMFT UNIFA.
Program ini dimulai dengan serangkaian sosialisasi dan pelatihan, membekali warga dengan pengetahuan dasar tentang pentingnya air bersih dan cara memproses cangkang kerang menjadi kitosan. Tujuannya adalah menanamkan rasa kepemilikan dan kemampuan teknis kepada masyarakat.
Harapan terbesar tim mahasiswa adalah agar inisiatif ini tidak berhenti pada pengadaan, melainkan bertransformasi menjadi aset kolektif yang dijaga dan dipelihara dan dimanfaatkan oleh warga.
“Kami berharap apa yang telah kami buat dapat dilanjutkan pemeliharaannya oleh warga dan terus dijaga sebagai aset yang bermanfaat bagi masyarakat,” tutup Riswandi.
Inisiatif SMFT UNIFA di Lamperangan adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi antara sains terapan (teknologi kitosan), energi terbarukan (pompa surya), dan pembangunan komunitas dapat menawarkan solusi holistik dan berkelanjutan terhadap krisis air bersih, sekaligus membuka potensi baru pemanfaatan limbah lokal.

Comments (0)
There are no comments yet