Irfan Palippui
Tahukah kamu kalau entrepreneur sejati itu sebenarnya adalah seorang “penghancur”? Tenang, bukan menghancurkan segalanya, melainkan menghancurkan cara-cara lama untuk melahirkan kreativitas baru! Untuk memahaminya, mari kita bedah DNA kewirausahaan ini, yang ternyata sudah dimulai sejak era para penjelajah dunia. Dari pembedahan ini, kita akan menjawab: siapa sebenarnya yang layak disebut entrepreneur? Sebelum lanjut, sebagai disklaimer awal, tulisan ini bukan ulasan pakar atau ahli bisnis, tetapi semata didedikasikan dari rasa keterpikatan pada semangat entrepreneur itu sendiri, yakni keberanian, ketangguhan, dan resiliensi dalam menghadapi proses serta perjalanannya.
Untuk menjawabnya, mari kita menengok ke belakang pada era yang masih segar di ingatan kita—sebuah era “penghancuran”. Perubahan terjadi begitu cepat, memaksa kita terus meninggalkan kebiasaan lama. Masih ingat dengan masa kejayaan rental DVD, VCD, atau kaset pita video? Kebiasaan itu tiba-tiba tergantikan ketika orang beralih ke warung internet (warnet) untuk mengunduh film. Tak lama kemudian, akses streaming dari rumah dengan beragam platform melumpuhkan model warnet tersebut. Dampaknya, kini kita melihat bioskop terseok-seok mempertahankan penontonnya. Runtuhnya bisnis tontonan konvensional ini persis seperti layanan transportasi ojek pangkalan yang kini diambil alih oleh layanan online (ojol). Hampir semua hal lama di ingatan kita satu per satu gugur, digantikan oleh model usaha baru. Itulah wujud inovasi yang memaksa dunia beradaptasi.
Pengalaman di depan mata itu menyadarkan kita bahwa entrepreneur bukanlah sekadar jabatan atau profesi di kartu nama, melainkan wujud keberanian yang merentang melintasi zaman. Keberanian ini sudah ada sejak pelaut Macassan (sebutan untuk pelaut Bugis, Mandar, dan Makassar) memecah ombak dan menantang kengerian Samudra Hindia demi mencari teripang hingga ke utara Australia (May et al., 2013). Kini, keberanian yang sama menjelma dalam bentuk invensi para inovator teknologi yang menembus batas, entah di mana ujungnya, khususnya di era kecerdasan buatan (AI) saat ini.
Jalan panjang entrepreneur ini seolah tak memiliki batas. Evolusi kehancuran yang sering kali ditakuti justru menjadi bekal kehidupannya; kehancuran tatanan lama adalah basis bagi kehidupan yang baru. Jika begitu, bagaimana ketika kecerdasan buatan (AI) hadir sebagai invensi paling radikal? Alih-alih sekadar memandangnya sebagai ancaman eksistensial atau “mutan” yang akan memusnahkan manusia, AI sejatinya adalah alat “penghancuran kreatif” terbaru dan paling masif. Di era ini, nyali entrepreneur kembali diuji: apakah mereka akan mengambil peran menggunakan AI untuk meruntuhkan batas-batas kreativitas lama, atau justru ikut hancur karena menolak beradaptasi? Di sinilah kewaspadaan tingkat tinggi harus segera disadari—apakah kita akan tergilas zaman, atau terus berjalan dan mengambil posisi serta peluang di antara runtuhan puing-puing peradaban lama untuk hidup kembali di dalam invensi yang baru.
Sayangnya, di tengah pergerakan zaman yang serba cepat ini, masyarakat awam kerap mereduksi makna entrepreneur semata pada urusan pertukaran atau jual beli. Akibatnya, ketika mendengar kata ini, isi kepala kebanyakan orang langsung tertuju pada pedagang atau pemilik warung. Kekeliruan ini amatlah wajar, sebab aktivitas transaksi ekonomi itulah yang memang tampak paling nyata dalam keseharian. Padahal, wajah entrepreneur jauh lebih dalam dan kompleks dari sekadar memindahkan barang dari penyuplai ke pembeli. Di balik transaksi yang terlihat, ada proses penciptaan nilai, di mana “kehancuran” cara-cara lama dan “kebaruan” ide saling menghidupi.
Karena begitu kompleksnya peran tersebut, literatur sejarah ekonomi telah memberikan setidaknya dua belas identitas atau peran yang berbeda kepada wirausahawan. Robert F. Hébert dan Albert N. Link, dalam buku A History of Entrepreneurship (Hébert & Link, 2009) mencatat bahwa berbagai wajah ini merangkum tema-tema utama yang melekat pada sosok entrepreneur sepanjang sejarah pemikiran ekonomi, yaitu:
- Entrepreneur adalah orang yang mengambil atau menanggung risiko yang terkait dengan ketidakpastian.
- Entrepreneur adalah orang yang menyediakan modal keuangan untuk suatu usaha.
- Entrepreneur adalah seseorang yang membawa pembaruan atau inovasi.
- Entrepreneur adalah pihak yang mengambil keputusan-keputusan strategis dalam bisnis.
- Entrepreneur adalah sosok yang memimpin jalannya suatu industri.
- Entrepreneur adalah individu yang bertindak sebagai manajer atau penilik (superintendent) operasional.
- Entrepreneur adalah orang yang mengorganisasikan serta mengoordinasikan berbagai sumber daya ekonomi.
- Entrepreneur adalah individu yang memiliki sebuah badan usaha.
- Entrepreneur adalah pihak yang mempekerjakan faktor-faktor produksi, termasuk tenaga kerja.
- Entrepreneur adalah seseorang yang mengikat kontrak kerja.
- Entrepreneur adalah pelaku arbitrase yang mengambil keuntungan dari perbedaan harga di pasar.
- Entrepreneur adalah seseorang yang bertugas mengalokasikan sumber daya di antara berbagai alternatif penggunaan.
Kendati keduabelas wajah yang diuraikan oleh Hébert dan Link ini mendefinisikan entitas yang spesifik, pada kenyataannya terdapat banyak tumpang tindih (overlap) di antara peran-peran tersebut. Kebanyakan ekonom, di saat bersamaan, lebih menekankan satu karakteristik, meski saling mengisi. Di sinilah pandangan-pandangan tersebut saling bersaing, sementara pandangan lainnya justru saling melengkapi. Banyaknya cara ungkap untuk menelaah posisis entrepreneur (wirausaha) dan entrepreneurship (kewirausahaan) membuktikan betapa sulitnya untuk mendefinisikan itu secara tunggal dan kaku. Hanya saja, ketika keduabelas wajah ini disatukan, terdapat satu benang merah utama yang sangat menonjol: wirausahawan selalu direpresentasikan sebagai subjek (khususnya agen ekonomi) yang dinamis, bukan agen yang pasif.
Sebagai agen yang dinamis, sejarah mencatat bahwa wujud paling awal yang mendominasi panggung dunia adalah wirausahawan sebagai penanggung risiko. Di masa lalu, risiko sering kali dibayar lebih mahal ketimbang nyawa. Christopher Columbus dapat disebut wujud nyata dari pelaku kewirausahaan maritim (Gerardovich & Almacén, 2023), atau pelaut-pelaut Nusantara tadi adalah wujud nyata dari entitas ini (May et al., 2013). Jika kita mundur lebih jauh ke belakang, pada abad pertengahan, fungsi entrepreneur memang dijalankan oleh para pedagang penjelajah ini. Istilah "entrepreneur" itu sendiri berasal dari bahasa Prancis abad ke-14 yang berarti "melakukan" atau "mengambil alih" (entreprendeur). Awalnya, istilah ini digunakan untuk arsitek, pembuat kastil, dan kontraktor militer. Dalam kontrak pinjaman laut abad ke-12, pemodal menerima tiga perempat keuntungan, sementara pelancong yang mempertaruhkan nyawa hanya menerima seperempat. Saat itu, nyawa dianggap lebih murah sementara modal adalah sesuatu yang sangat langka (Hébert & Link, 2009).
Evolusi makna ini kemudian berlanjut pada abad ke-18, ketika Richard Cantillon memberikan makna ekonomi pertama pada istilah ini. Baginya, fungsi wirausaha bukan sekadar menciptakan barang baru, melainkan keberanian menanggung ketidakpastian finansial. Sebelumnya, pandangan ekonomi klasik sangat statis dan hanya menganggap entrepreneur sekadar manajer yang menjaga keseimbangan pasar (Hébert & Link, 2009). Lalu pada abad ke-20, Joseph Schumpeter mendefinisikan ulang entrepreneur sebagai inovator dan agen perubahan. Mereka menghancurkan keseimbangan lama melalui inovasi yang ia sebut sebagai "penghancuran kreatif" (Haldar, 2025).
Oleh karena itu, supaya kompleksitas identitas ini lebih mudah dicerna, mari kita peras 12 wajah tersebut menjadi tiga kategori utama: entrepreneur sebagai kreator, penanggung risiko, dan eksekutor. Secara sederhana, wajah inovator terangkum dalam sosok Kreator; penyedia modal, pemilik perusahaan, dan pelaku arbitrase melebur dalam Penanggung Risiko; sementara pembuat keputusan, manajer, pemimpin industri, pengorganisasi, kontraktor, pemberi kerja, dan pengalokasi sumber daya bersatu dalam wujud Eksekutor. Pertama, sebagai kreator, ia adalah pendobrak yang hadir melalui ide-ide murni. Contohnya adalah para inventor atau penemu "dunia baru" seperti Columbus, maupun pelaut Macassan yang berlayar hingga berjumpa dengan penduduk suku Yolngu di Australia Utara. Mereka inilah penemu pasar baru yang mampu memicu lahirnya kebiasaan atau produk budaya baru.
Kedua, entrepreneur sebagai penanggung risiko. Para pelaut atau perantau tadi sejatinya adalah penantang risiko yang berani menghadapi segala kemungkinan di luar jangkauan keadaan normal. Sosok bernyali tinggi ini selalu berani melangkah di atas ketidakpastian—katakanlah saat menghadapi badai krisis—dan berupaya keluar dengan keputusan-keputusan berani, meski harus mempertaruhkan nyawa maupun finansial.
Ketiga, entrepreneur sebagai eksekutor, yakni otak di balik segala peristiwa dan lahirnya keputusan. Merekalah yang mengelola dan menyutradarai panggung pertunjukan, sekaligus memastikan setiap aktor memainkan perannya dengan baik. Ide brilian dan keberanian mengambil risiko tidak akan menjadi apa-apa tanpa eksekusi operasional yang presisi. Lihat saja bagaimana Ray Kroc mengeksekusi sistem manajemen McDonald's hingga menjadi raksasa global (Pahlefy & Putri, 2025), atau bagaimana para pendiri startup modern menyusun algoritma dan logistik untuk mewujudkan ide di atas kertas menjadi layanan yang nyata dan mengubah dunia (Baierl et al., 2019).
Kalau bukan karena pelaut Macassan yang berani menantang laut ganas, kita tidak akan mengenal komoditas teripang beserta jalur-jalur dagang dan asimilasi budaya di Australia saat ini. Atau, tanpa pelayaran berani Columbus, kisah monopoli Eropa yang secara tragis meminggirkan masyarakat setempat tidak akan pernah tercatat. Memang, fakta sejarah ini kadang memprihatinkan jika hanya didudukkan melalui kacamata sempit etos ekonomi kekuasaan. Namun di sisi lain, peristiwa-peristiwa ini mewariskan sebuah energi dan spirit keberanian yang bisa diaplikasikan di ruang mana saja. Di era modern, spirit ini mewujud dalam ide-ide gila, seperti layanan transportasi pintar. Seseorang cukup duduk di rumah, lalu kendaraan jemputan tiba di depan pagarnya.
Baca juga:
Perkuat Kerja Sama, RI Dan Arab Saudi Bentuk Dewan Koordinasi Tertinggi
Akan tetapi, kita juga tidak boleh meromantisasi “penghancuran” ini dengan mata buta. Creative destruction ala Schumpeter selalu memakan korban—entah itu pengangguran struktural, matinya usaha kecil tradisional, atau munculnya ketimpangan baru (Cueto et al., 2022). Pengakuan atas paradoks ini justru membuat kita semakin sadar bahwa kewirausahaan membawa tanggung jawab sosial yang sama besarnya dengan keuntungan finansial yang dikejarnya (Haldar, 2025). Tentu saja, setiap dobrakan baru ini akan mengorbankan model-model lama yang tertinggal jauh. Begitulah ide, keberanian, dan pengorganisasian beroperasi dalam dua mode sekaligus: menghancurkan babak sebelumnya (beserta segala pengorbanannya) dan menghidupkan babak baru yang membawa cerita serta manfaat yang lebih luas.
Dari sini, kita semakin jelas melihat wujud asli dari entitas entrepreneur. Mereka adalah sosok yang sudi melampaui batas dengan gagah berani, memiliki pikiran-pikiran yang tak biasa, serta mampu mewujudkannya melalui kecakapan pengelolaan yang mumpuni.
Di titik ini, kita semua dihadapkan pada pilihan di tengah proses panjang yang terus-menerus ini. Lihatlah, bagaimana klasifikasi-klasifikasi di atas mulai menyatu: inovasi dan keberanian kini menjadi syarat mutlak untuk masuk ke arena. Sebagai sintesisnya, inovator yang tidak berani menanggung risiko hanya akan menjadi pemimpi. Sebaliknya, penanggung risiko yang tidak berinovasi hanyalah penjudi. Entrepreneur modern harus menjadi penanggung risiko yang inovatif untuk mencapai wirausaha yang berkelanjutan. Evolusi ini akan terus berlanjut dari penjelajah, penanggung risiko, hingga inovator disruptif. Kini, pertanyaannya ada di tanganmu: apakah kamu akan masuk ke arena dan mengambil bagian dari perjalanan ini, atau hanya akan duduk menjadi penonton tanpa menyerap sedikit pun semangatnya? Terserah di bidang apa pun kamu berada, konsekuensi dan manfaatnya sudah terbentang jelas di depan mata.
References
Baierl, R., Behrens, J., & Brem, A. (Eds.). (2019). Digital Entrepreneurship: Interfaces Between Digital Technologies and Entrepreneurship. Springer International Publishing.
Cueto, L. a., Frisnedi, A. D., Collera, R. B., Batac, K. T., & Agaton, C. B. (2022). Digital Innovations in MSMEs during Economic Disruptions: Experiences and Challenges of Young Entrepreneurs. Administrative Sciences, 12(1). https://doi.org/10.3390/admsci12010008
Gerardovich, N. & Almacén, M. (2023, 11 28). On the interdependent relationship of entrepreneurial practices and non-submergible naval transportation vessels. International Journal of Research in Engineering and Science (IJRES), 11(2023), 26-29. https://www.ijres.org/papers/Volume-11/Issue-11/11112629.pdf
Haldar, S. (2025). Sustainable Entrepreneurship and the Global South: Resolving the Energy, Economy, and Environment Trilemma in India. Routledge, Chapman & Hall, Incorporated.
Hébert, R. F., & Link, A. N. (2009). A History of Entrepreneurship. Taylor & Francis.
May, S. K., & Clark, M. A. (Eds.). (2013). Macassan History and Heritage: Journeys, Encounters, and Influences. ANU E Press.
Pahlefy, M. R., & Putri, A. A. (2025, January). INFLUENCE TACTICS OF LEADERS: THE ROLE OF RAY KROC’S TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP IN SHAPING MCDONALD’S ORGANIZATIONAL CULTURE AND GLOBAL SUCCESS. Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi, 2(1), 223-240. https://journal.hasbaedukasi.co.id/index.php/jurmie

Comments (0)
There are no comments yet