Line of Flight: Membaca Ulang "Yang Politis" dari Sitti Nurbaya

Redaksi - budaya
24 October 2025 03:00
Ilustrasi gambar AI mengenai "Line of Flight"

Irfan Palippui (Dosen dan Pendiri Parangtambung Literature Clinic)

Membaca ulang
Sitti Nurbaya: Kasih tak Sampai (1922) karya Marah Rusli mengajak kita memeriksa kembali hal-hal yang "tak tampak" dalam pembacaan karya ini sebelumnya. Meski telah berusia lebih dari seabad, novel ini sering kali direduksi sebagai sekadar roman picisan—kisah cinta yang kandas oleh adat. Pembacaan ulang ini penting untuk menemukan signifikansi "yang politis" dari yang "tak terlihat," khususnya dengan mengeksplorasi garis pelarian sebagai bentuk perlawanan.

Pembacaan ini menemukan bahwa Sitti Nurbaya bukanlah tokoh pasif. Ia tampil sebagai subjek politik aktif yang melampaui tragedi cinta, menjadikan tubuhnya sebagai arena pertarungan antara tatanan lama (adat) dan hasratnya sebagai individu merdeka. Setiap penolakan yang ia lontarkan—baik dalam percakapan singkat maupun surat-suratnya—bukanlah ekspresi keputusasaan, melainkan sebuah "garis pelarian" (line of flight) yang "membocorkan" tatanan kaku sebagai upaya menemukan kembali tubuh yang dipasung oleh adat dan kapital.

Salah satu poin paling mencolok dalam kisah ini adalah unsur yang dijadikan tatanan utama dalam hidup: adat dan kapital. Implementasi adat yang secara rigid dapat ditemukan melalui tokoh Putri Rubiah, kakak Sutan Mahmud, tantenya Samsulbahri. Melalui karakter ini, kita dapat melihat bagaimana adat menjadi panduan hidup dan penentu status keturunan (bangsa) dalam pernikahan.

Putri Rubiah mengeritik keras adiknya, Sutan Mahmud, karena menikahi perempuan biasa yang asal usul silsilah keluarganya "tidak terlihat" dari garis tatanan utama. Dalam pandangannya, status sosial dan keturunan adalah hal yang fundamental. Ia berkata dengan penuh keyakinan:

“Sampai sekarang aku belum mengerti, bagaimana pikiranmu, tatkala mengawini perempuan itu. Apanya yang kau pandang? Bagusnya itu saja? Apa gunanya beristri bagus, kalau bangsa tak ada…”

Melalui dialog ini, terlihat jelas bagaimana Putri Rubiah memposisikan status perempuan dalam ranah sosial—sebuah posisi yang sangat terkait dengan dominasi kapital (harta) dan cara pandang patriarkal. Dalam perspektif adat yang dipertahankannya, perempuan menjadi sekadar komoditas pasif untuk melegitimasi otoritas laki-laki, khususnya bangsawan berdarah "utuh" yang diakui sebagai bagian utama dari tatanan adat. Bahkan, sistem ini menganggap "hina" jika seorang laki-laki hanya memiliki satu istri.

Putri Rubiah juga memandang pendidikan formal bagi perempuan bukan hanya tidak perlu, tetapi berpotensi merusak moral dan tatanan sosial. Menurutnya, anak perempuan yang pandai menulis dan membaca cenderung menjadi "jahat." Ia percaya bahwa bagi seorang perempuan bangsawan seperti Rukiah, masa depan yang terjamin terletak pada pernikahan dengan laki-laki berstatus tinggi. Ketinggian bangsanya, dalam pandangannya, sudah cukup untuk menarik minat lelaki kaya dan bangsawan, meskipun ia "bodoh" (tidak berpendidikan). Untuk mengamankan pernikahan ini, ia mengharapkan keluarganya mampu memenuhi permintaan mahar yang tinggi—mulai dari uang jemputan ratusan rupiah, jam emas, cincin berlian, pakaian lengkap termasuk kain sarung Bugis dan batik Jawa, hingga bendi beserta kudanya. Jalur pernikahan inilah, yang difasilitasi oleh status dan kemampuan finansial keluarga, yang menjamin kehidupan nyaman seorang perempuan bangsawan, bukan pendidikan formal.

Kontras menarik tampak ketika membandingkan strategi Putri Rubiah dengan jalan hidup adiknya, Sutan Hamzah. Keduanya mengandalkan sistem adat yang sama, namun untuk tujuan berbeda. Rubiah menggunakan adat perkawinan bangsawan—dengan mahar tinggi yang ditanggung mamak—sebagai mekanisme pertahanan untuk menjamin masa depan putrinya melalui status dan kekayaan suami. Sebaliknya, Hamzah secara aktif mengeksploitasi status kebangsawanan dirinya sebagai laki-laki untuk hidup bermewah-mewah tanpa bekerja.

Keduanya sama-sama menolak jalan modern (pendidikan/pekerjaan) dan mengandalkan struktur adat untuk keamanan finansial. Namun, di balik taktik mereka yang berbeda, terdapat "lorong" pragmatisme dan oportunitas semata. Apa yang sesungguhnya mereka lakukan adalah menafikan bentuk lain dari potensi peran dalam sistem matrilineal—khususnya, peran perempuan sebagai penjaga pusaka yang anti terhadap hukum kolonial. Novel ini tidak menampilkan peran penting posisi Rubiah sebagai penjaga tanah ulayat dalam menghadapi kolonialisme Belanda. Bahkan, tidak tampak dasar kuat bagi kritik Rubiah terhadap sistem pendidikan saat itu, karena fokusnya hanya pada status pernikahan yang dianggap menjamin segalanya.

Marah Rusli lebih memfokuskan narasi pada bagaimana Putri Rubiah menempatkan status bangsawan sebagai modal sosial utama bagi putrinya demi mengamankan pernikahan yang menguntungkan. Konsekuensinya, pendidikan formal dianggapnya tidak relevan, bahkan berpotensi merusak moral dan tatanan sosial. Pandangan ini ia tegaskan dengan percaya diri:

“Karena orang bersekolah itu orang yang hina dan miskin, yang tak dapat makan, kalau tiada berkepandaian. Anakku putri, bangsanya tinggi, tak perlu bekerja untuk mencari makan. Biarpun ia bodoh, masih banyak orang kaya dan bangsawan yang suka kepada ketinggian bangsanya.”

Berbeda dari Putri Rubiah dan Sutan Hamzah, Datuk Meringgih tidak diketahui asal muasal silsilahnya. Namun, ia tidak mendapatkan tatapan sinis sebagaimana yang diterima oleh perempuan dari kalangan orang kebanyakan. Di sinilah terlihat perbedaan signifikan tentang makna menjadi laki-laki versus menjadi perempuan dalam konteks adat dan kapital.

Dengan kemampuan kapitalnya, Datuk Meringgih mudah mendapatkan "jalan tikus" untuk memasuki teritori yang diinginkannya. Ia tidak hanya merepresentasikan, tetapi secara aktif menunjukkan cara kerja kapitalisme tradisional di eranya. Dengan sadar dan serius, ia melakoni monopoli melalui penguasaan aset. Ia menempuh segala cara untuk memenuhi ambisi penguasaannya—mulai dari menjalankan praktik lintah darat untuk menghisap potensi akumulasi, menguasai jaringan kriminal, hingga melakukan sabotase untuk meluruhkan semua rivalitas bisnisnya.

Di sinilah pula Datuk Meringgih dan adat menjadi "aparatus penangkap" yang mengontrol tubuh dan menjadikannya komoditas, objek transaksi. Dengan akal bulusnya, Meringgih berhasil menjadikan Nurbaya sebagai objek pertukaran demi sang ayah. Ia memberikan perpanjangan waktu pembayaran hutang dengan syarat yang ganas:

Baca juga:
Phinisi Hospitality Indonesia Group Luncurkan Paket Pergantian Tahun 2023 - 2024

“Apabila dalam sepekan itu tiada juga dibayar hutang itu, tentulah akan disitanya rumah dan barang-barang ayahku dan ayahku akan dimasukkannya ke dalam penjara. Hanya bila aku diberikan kepadanya, raksasa buas ini, bolehlah ayahku membayar utang itu, bila ada uangnya.”

Hal yang menarik di sini adalah kesadaran kritis yang dimiliki Sitti Nurbaya terhadap kondisi yang menimpanya. Ia sepenuhnya sadar akan siasat busuk Datuk Meringgih yang secara brutal menjadikannya komoditas transaksional, objek pertukaran demi melunasi utang ayahnya. Ini menggambarkan cara kerja ideologi yang lebih kompleks: berbeda dari pandangan lama bahwa subjek terjebak karena ketidaktahuan, Nurbaya justru mengetahui perangkap ideologi—kombinasi adat patriarkal dan logika kapital—yang menjeratnya.

Namun, kesadarannya ini ("she knows, but...") tidak cukup untuk membebaskannya. Kekuatan kapitalisme, yang berkelindan dengan adat dan kekuasaan personal Meringgih, terbukti sebagai kekuatan yang tak memberi jalan keluar, terus menjerat meskipun perangkapnya terlihat jelas. Dengan mata yang gelap dan pikiran yang hilang, Nurbaya akhirnya mengambil keputusan:

“Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada kuketahui, keluarlah aku, lalu berteriak, "Jangan dipenjarakan ayahku! Biarlah aku jadi istri Datuk Meringgih!"

Kembali ke tokoh Sitti Nurbaya dan Samsulbahri. Meski Nurbaya memilih masuk ke dalam jerat yang brutal, ini bukan semata pengorbanan. Ini adalah keberanian mengambil keputusan yang takkan berhenti mencari "jalan tikus" untuk melarikan diri dari teritori adat dan kapital. Dan benar adanya, kematian ayahnya menunjukkan jalur dan pintu keluar tersebut, membuat Nurbaya benar-benar masuk ke dalam area baru yang sejak di bangku sekolah telah "dipikirkannya" bersama Samsul Bahri.

Secara simbolis, setting sepulang sekolah dan percakapan mengenai matematika di atas bendi merupakan fondasi dari "teritori baru" yang telah lama terajut dalam pikiran kedua tokoh ini. Ketika Samsul Bahri menguraikan soal jam melalui analogi orang berjalan kaki dan berkuda, ia mendemonstrasikan cara berpikir alternatif—sebuah kemampuan yang hanya menunggu kesempatan untuk berjumpa dengan teks atau penanda lainnya dalam konteks kehidupan nyata. Kemampuan inilah yang kemudian terus merimpang, membuka lorong-lorong kecil dan jalan tikus sebagai metafora untuk menemukan penanda-penanda berikutnya menuju narasi yang makin kompleks.

“Ah, jalan hitungan yang semacam ini, hampir sama dengan jalan hitungan yang telah kuterangkan dahulu kepadamu, yaitu tentang perjalanan orang yang berjalan kaki dan naik kuda. Jarum panjang itu misalkanlah si A, yang menunggang kuda, dan jarum pendek si B, yang berjalan kaki…”

Interaksi antara Samsul Bahri, Sitti Nurbaya, Arifin, dan Bahtiar mengungkapkan pola komunikasi yang jarang menampilkan transfer pengetahuan konvensional. Sebaliknya, percakapan mereka didominasi oleh upaya pemecahan masalah konkret. Melalui interaksi ini, kita dapat melihat bagaimana pendidikan tidak sekadar berfungsi untuk mentransfer informasi, melainkan sebagai ruang pembentukan kesadaran kritis dan solidaritas intelektual.

Candaan antara Arifin dan Bahtiar mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam. Melalui kata-kata sederhana—makan dan kue—pembaca diajak masuk dalam lorong interpretasi baru untuk memahami bagaimana jabatan publik pribumi di era kolonial dimaknai dalam novel. Sebagai anak seorang Hopjaksa, Arifin dekat dengan isu kekuasaan, konflik sosial, dan hukum—hal-hal yang melampaui urusan perut. Sebaliknya, Bahtiar, meski anak seorang guru, justru obsesif terhadap "kue dan makan." Paradoks ini bermakna: meskipun pendidikan seharusnya membentuk orientasi pengetahuan, ingat bahwa menurut Putri Rubiah, pendidikan itu sendiri adalah penanda kehinaan bagi kelas tertentu. Obsesi Bahtiar pada urusan kehidupan sehari-hari melalui metafora "kue dan makan" mencerminkan bagaimana keturunan, adat, dan kapital mendominasi tatanan sosial, bahkan meremehkan (diheningkan melalui anak seorang guru) hal-hal yang justru penting bagi orang lain.

Ruang dan waktu dalam narasi yang digerakkan oleh Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri merupakan jalan untuk "menjadi." Inilah proses yang telah terbuka sejak awal cerita melalui percakapan matematika mereka tentang pemecahan masalah hidup yang kompleks. Keduanya membangun gaya kesetaraan intelektual sejak awal, menciptakan ruang bersama yang berfungsi sebagai pemantik menuju teritori baru untuk melarikan diri dari persekongkolan kapital dan adat yang mengekang.

Inilah yang menjawab pertanyaan mengapa Sitti Nurbaya bukanlah tokoh pasif. Meskipun harus melalui "jalan tikus" yang berbahaya setelah terjebak dalam pernikahan paksa, baik Samsul Bahri maupun Sitti Nurbaya sama-sama memperjuangkan kesetaraan sebagai ruang baru untuk hidup. Mereka tidak sekadar melarikan diri, tetapi menciptakan alternatif kehidupan yang berbeda dari tatanan yang telah menjerat mereka.

Catatan ini memang belum sepenuhnya menguraikan bagaimana yang politis ditemukan dalam apa yang tidak terlihat dan tidak terdengar, lalu diangkat menjadi bagian dari dunia yang sebelumnya tidak menghitungnya. Tetapi, pembacaan ini setidaknya memungkinkan kita untuk menandai bentuk perlawanan Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri sebagai sebuah "jalan tikus"—sebuah line of flight yang mereka ciptakan untuk melepaskan diri dari jeratan ideologi. Melalui pilihan terhadap pendidikan, cinta, pelarian, hingga pilihan bunuh diri, kedua tokoh menunjukkan bentuk perlawanan paling radikal terhadap "aparatus penangkap" (adat, patriarki, dan kapital) yang menjeratnya.

Upaya membaca ulang novel ini memungkinkan kita berjumpa dengan elemen-elemen yang membangun cerita di luar domain cinta yang kandas. Membatasi pembacaan hanya pada tragedi cinta justru mereduksi apa yang tidak tampak dan tidak terdengar—dimensi "yang politis" yang berhadapan langsung dengan kekuasaan. Pembacaan ini mengungkapkan bahwa Sitti Nurbaya, sebagai subjek, terus mencari jalan keluar, melawan, dan menentukan nasibnya sendiri meskipun dalam kondisi tertawan. Di sinilah letak signifikansi politis itu terjadi.

Distrik Pattallassang, 24/10/2025

Related Posts

Comments (0)

There are no comments yet

Leave a Comment