Goresan Perempuan Muraya Studio: Merawat Kehidupan di Tembok Nipah
Di antara deru aktivitas urban Nipah Park, sebuah bidang dinding beton kini tak lagi bisu. Warna-warna primer (kuning menyala, biru, dan hijau) meledak dalam komposisi yang dinamis, membingkai sosok manusia yang tengah menopang tanaman. Di balik skala monumental karya ini, berdiri seorang perempuan muda di antara tangga aluminium dan kaleng-kaleng cat, menandai kehadiran Muraya Studio dalam perhelatan Makassar Biennale 2025.
Kehadiran Muraya Studio dalam pesta seni rupa terbesar di Makassar ini membawa narasi yang berbeda. Di tengah lanskap seni jalanan (street art) dan mural yang kerap diasosiasikan dengan maskulinitas, Muraya Studio hadir sebagai anomali yang menyegarkan. Mereka menegaskan diri sebagai satu-satunya kolektif mural di Makassar Biennale 2025 yang memiliki perempuan dalam tim intinya. Fakta ini bukan sekadar statistik, melainkan sebuah pernyataan politis dan estetis yang mengubah cara pandang terhadap ruang publik.
Perspektif Feminin dalam Skala Monumental
Dalam tema besar "ReVIval" yang diusung Makassar Biennale tahun ini, Muraya Studio tidak memilih visual penaklukan atau heroisme klise. Sebaliknya, mereka menawarkan visual tentang "pemeliharaan" dan "perawatan". Kehadiran perempuan dalam kolektif ini memberikan dimensi perspektif yang unik: sebuah kepekaan untuk melihat dunia lewat kacamata kepedulian (care) dan inklusivitas.
Hal ini tercermin kuat pada objek utama mural: sepasang tangan yang merawat bunga dalam pot dengan gestur penuh perhatian, bukan mencengkeram. Figur ini dikelilingi oleh burung merpati yang terbang bebas, menciptakan dialog visual tentang hubungan manusia dan alam yang tidak hierarkis, melainkan saling menopang.
Baca juga:
Pria dan Wanita Ditemukan Tak Bernyawa di Indekos Makassar
Bagi Muraya Studio, ornamen warna-warni yang melingkari komposisi tersebut bukan sekadar dekorasi pemanis. Goresan-goresan itu adalah energi dan pertumbuhan yang terus bergerak. Di sinilah peran perspektif perempuan dalam tim menjadi krusial; mereka menerjemahkan kompleksitas kehidupan (pertumbuhan, adaptasi, dan transformasi) ke dalam bahasa visual yang lembut namun tegas di ruang publik yang keras.
Mengubah Beton Menjadi Ruang Dialog
Keputusan untuk menempatkan karya ini di Nipah Park adalah strategi untuk mendekatkan seni kepada publik tanpa sekat. Mural ini tidak mendekam di ruang galeri yang sunyi, melainkan hidup di tengah lalu-lalang masyarakat. Warna-warna cerah yang tumpang tindih merefleksikan kompleksitas Makassar kontemporer: perpaduan antara tradisi, modernitas, dan aspirasi ekologis yang saling berinteraksi secara organik.
Muraya Studio membuktikan bahwa "monumental" tidak harus selalu tentang kekerasan atau kemegahan fisik semata. Melalui tangan perempuannya, kolektif ini menunjukkan bahwa kekuatan visual bisa lahir dari tema-tema tentang harapan, vitalitas, dan kepedulian terhadap kehidupan. Karya di Nipah Park ini menjadi bukti bahwa ekosistem seni Makassar semakin terbuka, di mana suara perempuan tidak hanya didengar, tetapi juga terpampang megah, mewarnai wajah kota.

Comments (0)
There are no comments yet