Pendidikan di Sekolah Itu, Sesungguhnya Hanyalah Mengadopsi Nilai-nilai Sang Penindas

Redaksi - budaya
10 May 2026 02:33
Deposito

Irfan Palippui (Dosen UNIFA)

Apa yang Anda pikirkan tentang sekolah atau pendidikan formal? Untuk mendapat pekerjaan di masa depan, berguna untuk bangsa dan agama. Begitu biasanya kita dengar ketika bertanya untuk apa sekolah. Kalau begitu jawabannya, selamat, Anda sudah tersedot ke dalam mitos rekayasa sosial, di mana seseorang secara tidak sadar terjerat bahkan sebelum sekolah itu sendiri secara resmi merebut kebebasan peserta didik. Tulisan ini akan mengulik apa yang disebut pendidikan pembebasan oleh Paulo Freire, filsuf pendidikan dari Brazil: bagaimana sekolah menempatkan peserta didik sebagai bank, wadah kosong tempat guru sebagai nasabah menyetorkan pengetahuan; dan bagaimana sekolah pada akhirnya hanya menyisakan dua pilihan, membebaskan atau memapankan status quo sang penindas melalui rekayasa stratifikasi sosial yang abadi.

Mari kita mulai dengan memahami bagaimana konsep pendidikan gaya bank itu bekerja. Coba bayangkan ketika Anda bertemu seseorang, dan di saat yang sama orang tersebut hanya mau didengarkan. Di matanya, Anda hanyalah makhluk pasif yang tidak punya kapasitas apa-apa, sehingga tidak memiliki hak untuk didengarkan, apa yang ada dalam pikiran Anda, apa yang Anda rasakan, nyaris tidak ada ruang untuk bicara. Begitulah konsep pendidikan gaya bank: peserta didik sekadar ditempatkan sebagai wadah kosong yang selalu tersedia untuk diisi. Mereka dipandang semata-mata sebagai benda mati yang tugasnya menyimpan kekayaan dari mereka yang punya hak bicara, yang diukur bukan dari kedalaman pikiran, melainkan dari jumlah simpanannya.

Dalam pendidikan gaya bank, guru atau dosen adalah depositor, orang yang dianggap telah memiliki begitu banyak hal, sehingga merasa berhak menitipkan harta pengetahuannya kepada siswa atau mahasiswa. Ruang gerak peserta didik pun dibatasi sekadar sebagai penerima: mencatat, menghafal, mengerjakan tugas. Tumpukan informasi ditransfer, bukan dipertukarkan. Seperti orang yang mendatangi kita dan hanya mau didengarkan sendiri, guru atau dosen merasa telah memberikan "hadiah" kepada mereka yang dianggap tidak tahu apa-apa. Perasaan paling tahu inilah yang melenyapkan ruang setara dalam dialog, sekaligus menutup kesempatan peserta didik untuk menolak atau melakukan penyelidikan mandiri atas deposito informasi yang dikirimkan kepada mereka.

Di sinilah praktik penindasan mulai berakar. Pertama, lahir keyakinan bahwa sekolah adalah satu-satunya jalan menuju pekerjaan layak, sebuah mitos yang mengikat. Kedua, nalar kritis dan kreativitas perlahan mati. Ketiga, kesenjangan dan ketidakadilan sosial dibiarkan terus berlangsung karena tidak pernah dipersoalkan. Dan inilah, tentu saja, yang diharapkan oleh para perekayasa sistem, kelompok dominan yang memelihara dirinya tetap dominan dengan cara menjaga yang lain agar tetap diam.

Lantas, apakah sekolah/kampus sudah saatnya ditinggalkan? Freire tidak bilang begitu. Yang dipersoalkan adalah kenyataan yang masih kasat mata kita saksikan. Tarolah begini, apa jadinya misalnya, ketika anak-anak sejak dari rumah tidak mendapatkan penghormatan sebagai subjek berbicara dan mendapat tempat untuk didengarkan. Kemudian, berlanjut sampai di sekolah (bahkan masih kelihatan di kampus) masih diposiskan sebagai mahluk pasif yang kodratnya hanya mendapatkan “hadiah” atau ceramah kebaikan saja. Dan, paling ironis, saya bahkan merasakan secara psikologis, jangankan hak bicara patut didapatkan siswa maupun mahasiswa, gesturnya pun sebagai bahasa non verbal tidak mendapatkan tempat untuk bersuara. Sebagai contoh, ketika saya masih di bangku sekolah benar-benar merasakan ruang sekolah laiknya teror bagi tubuh dengan segala batasannya. ironisnya, hampir seluruh batasan yang disebut pendisiplinan hanya terjadi dalam satu arah. tidak ada percakapan sebelum hukum-hukum pendisiplinan ditetapkan, sehingga mau tak mau hanya menjadi brankas pasif yang siap disetel dari pemilik suara sah. 

Baca juga:
Mantan Pejabat Pemkot Makassar Didakwa Korupsi Industri Sampah Rp45 Miliar

Freire tidak menyoal keberadaan sekolah, tetapi bagaimana sekolah memandang peserta didik sebagai subjek aktif. Bukan semata ember kosong yang tidak bisa berbahasa. tawaran Freira dengan istilah pendidikan pembebasan, ketika baik pengajar dan yang diajar ditempatkan setara sebagai subjek, bukan objek. Konsep bank yang mejadikan guru/dosen sebagai depositor selayaknya disadari telah mengakibatkan mini otoritarianisme yang anti dialog. Hasillnya memapankan stratifikasi sosial serta melanggengkan status quo di mana yang terlanjur berada di atas (berkuasa), selamanya akan berada di posisi teresebut. Tidak terjadi dorongan untuk sama-sama belajar membaca realitas yang dihidupi bersama sebagai bukan semata kemampuan membaca kata bagi peserta didik, tetapi belajar membaca dunia. di sini, Freire bilang perlunyapenyadaran kritis (conscientização) di mana dengan berada sebagai aktivasi bersama sebagai subjek maka keduanya akan sama dapat mempertanya sitausi sekitarnya. misalnya. mengapa kemiskinan selalu ada dan hanya diwarisi oleh subjek yang sama. mengapa kita diam, tetapi tahu ada yang salah. maka, kata Freire, di seitulah pendidikan sejatinya mulai berlangsung.   

Tentu saja, apa yang baru diungkap di atas tidak akan sebegitu mudahnya dilakukan, sebab ini bukan semata metode mengajar. kehadiran sekolah atau pendidkan formal sesungguhnya tidaklah pernah netral. Hanya ada dua pilihannya: membebaskan atau mengikuti apa yang diinginkan oleh sistem. Pilihan membebaskan peserta didik dengan dialog, penyelidikan, melihatnya sebagai subjek aktif, otomatis guru/dosen tersebut akan melabrak pakem dan mengganggu zona nyaman sistem. sementara, sistem tidak pernah memerlukan itu, manusia yang berpikir,m ia hanya butuh sikap patuh. Sehingga, pikirnya adalah tenang-tenang saja. ini sudah jalannya, takdir, bukan konstruksi yang secara sengaja direkayasa oleh sistem melalui pendidikan. Akhirnya, jelaslah sudah bahwa bukan metode yang bermasalah. Pendidikan yang membebasakan sesungguhnya memerlukan guru/dosen untuk yang memiliki sikap politik atas hasil bacaan berdasarkan kenyataan di atas. konsekuensinya bersedia dan siap menanggung risikoi, arus belainan dari yang memilih itu sebagai takdir, bahkan berani jujur untuk rela menghadapi pemahaman siswa/mahasiswa yang telah dibentuk dan tersedot sedari awal oleh sistem yang sama. 




 

 

Related Posts

Comments (0)

There are no comments yet

Leave a Comment