Pendidikan sekolah itu, sesungguhnya hanyalah mengadopsi nilai-nilai sang penindas
Irfan Palippui (Dosen UNIFA)
Apa yang Anda pikirkan tentang sekolah atau pendidikan formal? Untuk mendapat pekerjaan di masa depan, berguna untuk keluarga, agama, bangsa dan negara. Begitu mulianya suara itu. Semacam impian puncak menjadi manusia. Itu terdengar ketika pertanyaan, untuk apa sekolah mendatangi seseorang.
Hanya saja, kalau jawabannya demikian: selamat, Anda sudah tersedot ke dalam mitos rekayasa sosial, di mana seseorang secara tidak sadar terjerat bahkan sebelum sekolah itu sendiri secara resmi merebut kebebasan peserta didik.
Tulisan ini akan mengulik apa yang disebut pendidikan pembebasan oleh Paulo Freire, filsuf pendidikan dari Brazil: bagaimana sekolah menempatkan peserta didik sebagai bank, wadah kosong tempat guru sebagai nasabah menyetorkan pengetahuan; dan bagaimana sekolah pada akhirnya hanya menyisakan dua pilihan, membebaskan atau memapankan status quo sang penindas melalui rekayasa stratifikasi sosial yang abadi.
Mari kita mulai dengan memahami bagaimana konsep pendidikan gaya bank itu bekerja. Coba bayangkan ketika Anda bertemu seseorang, dan di saat yang sama orang tersebut hanya mau didengarkan. Di matanya, Anda hanyalah makhluk pasif yang tidak punya kapasitas apa-apa, sehingga tidak memiliki hak untuk didengarkan. Apa yang ada dalam pikiran Anda, apa yang Anda rasakan, nyaris tidak ada ruang untuk bicara. Begitulah konsep pendidikan gaya bank: peserta didik sekadar ditempatkan sebagai wadah kosong yang selalu tersedia untuk diisi. Mereka dipandang semata-mata sebagai benda mati yang tugasnya menyimpan kekayaan dari mereka yang punya hak bicara, yang diukur bukan dari kedalaman pikiran, melainkan dari jumlah simpanannya.
Dalam pendidikan gaya bank, guru atau dosen adalah depositor, orang yang dianggap telah memiliki begitu banyak hal sehingga merasa berhak menitipkan harta pengetahuannya kepada siswa atau mahasiswa. Ruang gerak peserta didik pun dibatasi sekadar sebagai penerima: mencatat, menghafal, mengerjakan tugas. Tumpukan informasi ditransfer, bukan dipertukarkan. Seperti orang yang mendatangi kita dan hanya mau didengarkan sendiri, guru atau dosen merasa telah memberikan "hadiah" kepada mereka yang dianggap tidak tahu apa-apa. Perasaan paling tahu inilah yang melenyapkan ruang setara dalam dialog, sekaligus menutup kesempatan peserta didik untuk menolak atau melakukan penyelidikan mandiri atas deposito informasi yang dikirimkan kepada mereka.
Di sinilah praktik penindasan mulai berakar. Pertama, lahir keyakinan bahwa sekolah adalah satu-satunya jalan menuju pekerjaan layak, sebuah mitos yang mengikat. Kedua, nalar kritis dan kreativitas perlahan mati. Ketiga, kesenjangan dan ketidakadilan sosial dibiarkan terus berlangsung karena tidak pernah dipersoalkan. Dan inilah, tentu saja, yang diharapkan oleh para perekayasa sistem: kelompok dominan yang memelihara dirinya tetap dominan dengan cara menjaga yang lain agar tetap diam.
Baca juga:
UNIFA Sosialisasikan Program RPL di Bulungan, Buka Peluang ASN Tingkatkan Kompetensi Pendidikan
Lantas, apakah sekolah sudah saatnya ditinggalkan? Freire tidak bilang begitu. Yang dipersoalkan adalah kenyataan yang masih kasat mata kita saksikan. Tarolah begini: apa jadinya ketika anak-anak sejak dari rumah tidak mendapatkan penghormatan sebagai subjek yang berhak berbicara dan didengarkan, kemudian berlanjut di sekolah bahkan kampus masih diposisikan sebagai makhluk pasif yang kodratnya hanya menerima ceramah kebaikan. Yang paling ironis, saya bahkan merasakan secara psikologis bahwa jangankan hak bicara, gestur pun sebagai bahasa nonverbal tidak mendapat tempat untuk bersuara. Ketika saya masih di bangku sekolah, ruang kelas terasa laiknya teror bagi tubuh dengan segala batasannya. Hampir seluruh aturan yang disebut pendisiplinan berjalan satu arah, tanpa percakapan sebelum hukum-hukum itu ditetapkan, sehingga mau tidak mau peserta didik hanya menjadi brankas pasif yang siap disetel oleh pemilik suara yang sah.
Freire tidak menyoal keberadaan sekolah, tetapi bagaimana sekolah memandang peserta didik: apakah sebagai subjek aktif, atau sekadar ember kosong yang tidak bisa berbahasa. Tawaran Freire, yang ia sebut pendidikan pembebasan, adalah ketika pengajar dan yang diajar ditempatkan setara sebagai subjek, bukan objek. Sistem deposit yang menjadikan guru sebagai depositor telah mengakibatkan mini otoritarianisme yang anti dialog, hasilnya adalah pemapanan stratifikasi sosial dan kelanggengan status quo, di mana yang terlanjur berada di atas akan selamanya berada di posisi tersebut. Tidak ada dorongan untuk bersama-sama membaca realitas yang dihidupi, bukan sekadar kemampuan membaca kata, tetapi belajar membaca dunia. Di situlah Freire berbicara tentang penyadaran kritis (conscientizacao): ketika keduanya hadir sebagai subjek yang aktif, keduanya pun akan sama-sama mulai mempertanyakan situasi sekitarnya. Mengapa kemiskinan selalu ada dan hanya diwarisi oleh subjek yang sama? Mengapa kita diam, padahal tahu ada yang salah? Maka, kata Freire, di situlah pendidikan sejatinya mulai berlangsung.
Tentu saja, apa yang baru diungkap di atas tidak semudah itu dilakukan, sebab ini bukan semata soal metode mengajar. Kehadiran sekolah atau pendidikan formal sesungguhnya tidak pernah netral. Hanya ada dua pilihan: membebaskan atau mengikuti apa yang diinginkan sistem. Memilih membebaskan peserta didik melalui dialog, penyelidikan, dan pengakuan atas keaktifan subjeknya, berarti guru atau dosen itu akan melabrak pakem dan mengganggu zona nyaman sistem. Sementara sistem tidak pernah memerlukan manusia yang berpikir, ia hanya butuh kepatuhan. Maka yang paling mudah adalah diam, menganggap ini sudah jalannya, takdir, bukan konstruksi yang sengaja direkayasa.
Jelaslah sudah bahwa bukan metode yang bermasalah. Pendidikan yang membebaskan sesungguhnya menuntut guru atau dosen yang memiliki sikap politik atas bacaan kenyataannya sendiri, dan konsekuensinya adalah bersedia menanggung risiko: bergerak berlawanan arus dari mereka yang memilih diam sebagai takdir, bahkan berani jujur menghadapi pemahaman siswa atau mahasiswa yang telah terlanjur dibentuk dan tersedot oleh sistem yang sama sejak awal.

Comments (0)
There are no comments yet