Ruang Ingatan 2026: Jejak Ujung Pandang, Wajah Makassar

Ada yang berbeda dari Benteng Rotterdam pada 26 sampai 28 Juni lalu. Bukan hanya karena benteng tua itu ramai didatangi, tapi karena untuk tiga malam berturut-turut, ia berubah jadi semacam rumah besar tempat warga Makassar diajak duduk sejenak dan bertanya pada diri sendiri: kota macam apa sebenarnya yang kita tinggali ini, dan wajah siapa yang selama ini kita akui sebagai wajah kota?

Ruang Ingatan 2026: Jejak Ujung Pandang, Wajah Makassar bukan peristiwa seni biasa. Tidak ada label karya yang harus dibaca panjang-panjang, tidak ada barisan kursi untuk duduk mendengarkan ceramah sejarah. Yang ada adalah rangkaian ruang yang harus dijalani satu per satu, dan di setiap bilik itu, ada benda-benda sebagai sisa masa lalu. Ada juga Aktivator Memori: para seniman, musisi, pencerita, dan warga kota yang menghidupkan tiap sudutnya lewat suara, tubuh, cerita, dan karya mereka sendiri. Mereka bukan penampil yang sekadar tampil lalu turun panggung, melainkan orang-orang yang benar-benar berbaur dengan subjek ingatan yang hadir sepanjang malam.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar