Semalam di Benteng Rotterdam, Kota Ini Mengingat Dirinya Sendiri

Ridwan Sau sedang membaca teks tentang Wajah dan Suara Kota, sebelum meninggalkan jejak untuk kota di sticky note

Ada yang berbeda dari Benteng Rotterdam pada 26 sampai 28 Juni lalu. Bukan hanya karena benteng tua itu ramai didatangi, tapi karena untuk tiga malam berturut-turut, ia berubah jadi semacam rumah besar tempat warga Makassar diajak duduk sejenak dan bertanya pada diri sendiri: kota macam apa sebenarnya yang kita tinggali ini, dan wajah siapa yang selama ini kita akui sebagai wajah kota?

Ruang Ingatan 2026: Jejak Ujung Pandang, Wajah Makassar bukan peristiwa seni biasa. Tidak ada label karya yang harus dibaca panjang-panjang, tidak ada barisan kursi untuk duduk mendengarkan ceramah sejarah. Yang ada adalah rangkaian ruang yang harus dijalani satu per satu, dan di setiap bilik itu, ada benda-benda sebagai sisa masa lalu. Ada juga Aktivator Memori: para seniman, musisi, pencerita, dan warga kota yang menghidupkan tiap sudutnya lewat suara, tubuh, cerita, dan karya mereka sendiri. Mereka bukan penampil yang sekadar tampil lalu turun panggung, melainkan orang-orang yang benar-benar berbaur dengan subjek ingatan yang hadir sepanjang malam.

Peristiwa ini digagas oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Catatan Kaki Kita

yang dipimpin oleh Ahmad Wildan Noumeru, sekaligus menjabat Creative Director Event, bersama Irfan Palippui sebagai kurator. Bertempat di Benteng Rotterdam, kegiatan ini mengangkat periode ketika Makassar sempat berganti nama menjadi Ujung Pandang selama hampir tiga dekade, sebuah babak sejarah yang sering luput dari percakapan sehari-hari penduduk kota, meski dampaknya masih terasa hingga kini. 

 

Disambut Tanjidor di Gerbang, Sebelum Sempat Membaca Apa Pun

Sebelum subjek ingatan sempat membaca satu kalimat pun soal tema festival, mereka sudah lebih dulu disambut suara musik tanjidor. Rombongan Sandiwara Petta Puang berkeliling di antara kerumunan sejak gerbang masuk, bukan berdiri di panggung menunggu giliran tampil, melainkan berbaur begitu saja di antara orang-orang yang baru tiba. Seperti tradisi kampung yang masih dikenal banyak warga Makassar, ketika sebuah hajatan dimulai, musik tidak menunggu orang berkumpul lebih dulu. Ia sudah lebih dulu hadir, menjadi penanda bahwa sesuatu sedang berlangsung.

Malam itu, Benteng Rotterdam benar-benar berasa seperti halaman rumah yang sedang menggelar hajatan besar. Suasana ini langsung membuat siapa pun yang hadir menyadari bahwa mereka sedang memasuki sesuatu yang berbeda dari malam-malam biasa di kota ini, dan bahwa Petta Puang beserta rombongannya adalah semacam tuan rumah yang menyambut kedatangan mereka.

Kemudian, sebagai penggagas peristiwa, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sulawesi Selatan menjemput dengan arsip serta dokumentasi berbagai situs yang dikelola unit kerjanya. Di sana subjek ingatan dipertemukan dengan dokumen cagar serta ingatan mengenai hal-hal arkais di jasirah selatan Sulawesi ini: situs megalitikum, kecerdasan pembuatan perahu, dan banyak lagi lainnya, termasuk alat-alat kesenian yang dipajang bersamaan di titik yang dinamai Pojok BPK. Setelah itulah labirin bilik segera dimasuki, semacam area imersif yang mempertemukan semua pengalaman sensorik lewat bau, visual, dan bunyi. Mari mulai dari ruang pertama.

Ruang Inang: Digendong Lagu Sebelum Melihat Apa-Apa

Ruang pertama yang dimasuki subjek ingatan, Ruang Inang, sengaja dibuat gelap dan sunyi. Yang menyambut bukan gambar atau video, melainkan sebuah bungkusan kain yang tergantung dari langit-langit, diiringi lantunan ninak bobok Bugis-Makassar yang mengalun pelan dalam kegelapan. Ada kalimat kecil yang menyertainya, tertulis di dinding: sebelum siklus bisa bekerja, kita dikosongkan dulu.

Bagi banyak orang, mendengar lagu pengantar tidur yang dulu sering dinyanyikan orang tua atau nenek adalah pengalaman yang langsung menyentuh, bahkan sebelum sempat melihat apa pun secara visual. Tidak sedikit subjek ingatan yang berhenti cukup lama di depan bungkusan kain itu, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang sudah lama tak mereka dengar lagi. Bilik ini seperti sengaja mengajak mereka "kembali kecil" dulu sebelum melangkah lebih jauh ke ruang-ruang berikutnya yang jauh lebih padat isinya.

Ruang Tamu: Duduk di Antara Koran Lama dan Suara Radio yang Terputus-putus

Masuk ke Ruang Tamu, suasananya berubah total jadi rumah tahun 1970 sampai 1990-an. Sofa kulit tua, jam dinding kayu yang masih berdetak, lemari kaca berisi cangkir porselen dan teko lawas, tumpukan koran dan majalah yang sudah menguning, bahkan KTP-KTP lama yang tergeletak begitu saja di antara arsip-arsip itu. Dari sudut ruangan, terdengar suara khas pembuka siaran TVRI dan RRI, "nyiur melambai" yang jadi kenangan bersama generasi yang tumbuh sebelum era televisi swasta, bercampur dengan bunyi glitch yang sesekali membuat siarannya tersendat, seolah sinyal itu sendiri sedang berjuang menyampaikan sesuatu.

Banyak subjek ingatan terlihat duduk lama di bilik ini, membaca lembar demi lembar arsip dengan tenang, kepala sedikit menunduk, seakan sedang menelusuri kembali sesuatu yang terasa akrab meski bukan miliknya sendiri secara langsung. Ada yang mengambil koran lawas dan membaca headline-nya pelan-pelan, ada pula yang memperhatikan detail lemari kaca yang mirip dengan yang pernah ada di rumah orang tuanya.

Dapur: Bau Tumisan dan Suara Tetangga yang Tak Pernah Benar-benar Jauh

Di Dapur, meja penuh rantang bersusun, termos merah tua, dan toples kaca berjajar rapi di atas taplak renda. Di dinding, terproyeksi siluet keluarga yang sedang duduk makan bersama, bentuknya samar tapi hangat, laksana bayangan yang akrab meski wajahnya tidak pernah benar-benar jelas. Yang membuat ruang ini paling hidup bukan cuma tampilannya, melainkan perpaduan suara azan menjelang magrib, obrolan tetangga yang terdengar meski rumah-rumah dulu terpisah tembok, dan aroma tumisan yang entah dari mana asalnya tapi akrab di hidung.

Ini adalah gambaran hidup bertetangga ala Makassar lama, ketika rumah-rumah berasa seperti satu rumah besar meskipun berdinding sendiri-sendiri, ketika bunyi panci diaduk di dapur sebelah bisa terdengar sampai ke ruang tamu tetangga. Beberapa subjek ingatan yang lebih muda tampak penasaran memegang rantang dan termos lawas itu, sementara yang lebih tua tersenyum kecil, seolah baru saja diajak pulang sebentar ke rumah masa kecilnya.

Ruang Pusaka: Badik yang Sengaja Tidak Diperlihatkan

Bilik ini paling sunyi dari semuanya, dan mungkin paling banyak membuat subjek ingatan berhenti tanpa banyak bicara. Di ujung lorong sempit dengan dinding lembap yang catnya mengelupas, ada sehelai bantal berenda dengan gundukan samar di baliknya. Badik, senjata pusaka yang paling sarat makna dalam budaya Bugis-Makassar, sengaja tidak pernah diperlihatkan utuh sepanjang festival berlangsung. Panel di sampingnya bertutur, ada masa ketika beberapa hal tidak bisa ditunjukkan, bukan karena hilang atau dilupakan, tapi karena keberadaannya sendiri dianggap ancaman, maka benda-benda belajar diam, dan manusia belajar menyimpan.

Menariknya, tanpa ada tanda "dilarang menyentuh" sekalipun, hampir semua subjek ingatan yang berdiri di ruang ini otomatis menjaga jarak, banyak yang berdiri dengan tangan terkunci di belakang punggung. Semacam rasa hormat yang muncul begitu saja, tanpa perlu diajarkan lagi, seolah sesuatu tentang badik dan marwa memang sudah tertanam dalam diri warga Bugis-Makassar jauh sebelum mereka sempat memikirkannya.

Menusuk Peta Emosi, Lalu Berhadapan dengan Cermin

Selepas Ruang Pusaka, subjek ingatan diajak menusukkan pentul ke Peta Emosi Kota Makassar yang terpampang besar di dinding, merah untuk tempat yang pernah menyakiti, kuning untuk tempat yang pernah membahagiakan. Saat festival berlangsung, peta ini sudah penuh sesak dengan pentul dari ratusan orang, sebagian berdiri agak lama sebelum akhirnya memilih titik untuk menusukkan pentulnya, seolah sedang menimbang kembali kenangan mana yang paling layak ditandai.

Begitu pintu berikutnya dibuka, subjek ingatan langsung berhadapan dengan cermin besar. Tidak ada karya lain di bilik itu, hanya keterangan singkat: wajah yang dilihat di cermin itu adalah wajah masa depan kota. Banyak yang berhenti sejenak di depannya, ada yang sekadar melihat sekilas lalu buru-buru lewat, ada pula yang benar-benar berdiri diam cukup lama, sebelum akhirnya melanjutkan langkah ke podium untuk menuliskan sesuatu di sticky note. Kertas-kertas kecil warna-warni itu kemudian digantung berjajar dengan ratusan catatan subjek ingatan lain, membentuk semacam dinding kata yang terus bertambah sepanjang festival. Isinya beragam, ada keluhan soal parkir dan kurangnya taman baca, ada ucapan syukur yang sederhana, ada juga pernyataan sikap yang cukup tegas soal isu-isu terkini kota.

Ruang Ungkap: Wajah-Wajah yang Akhirnya Boleh Tersenyum

Setelah melewati bilik-bilik yang cukup berat secara emosional, festival memberi satu titik yang jauh lebih ringan: dinding potret tempat subjek ingatan berfoto dengan latar gelap ala studio. Di sini banyak yang membuat tanda victory, hand-heart, atau gaya-gaya lucu lainnya, saling meniru satu sama lain begitu saja tanpa perlu diarahkan. Suasananya jauh berbeda dari ruang-ruang sebelumnya, seakan akhirnya diberi izin untuk kembali riang setelah sekian lama menahan diri di bilik-bilik yang lebih temaram dan hening.

Malam yang Dipenuhi Suara: Para Aktivator Memori

Di tengah-tengah Benteng Rotterdam, berdiri sebuah layar LED berbentuk segitiga berukuran besar yang jadi pusat visual malam itu. Ke mana pun para Aktivator Memori bergerak, entah di lorong ingatan, di meja makan, atau di antara benda-benda pusaka, kamera akan mengikuti dan memproyeksikan wajah, gerak, dan peluh mereka secara langsung ke layar raksasa itu. Bukan untuk mengawasi, tapi untuk memperluas jarak, supaya momen paling intim dari setiap penampilan bisa jadi wajah bersama seluruh hadirin malam itu.

Selama tiga hari festival berlangsung, ada belasan sahabat seniman dan warga kota yang bergiliran menghidupkan Ruang Peristiwa di halaman tengah benteng ini.

Malam pertama, Jumat 26 Juni, dibuka Rombongan Sandiwara Petta Puang yang sudah menyambut sejak gerbang, dilanjutkan Ram Prapanca yang membacakan puisi-puisi tentang perjalanan orang-orang yang singgah dan akhirnya menetap di Makassar, suara batin manusia yang hidup di antara dua pantai dan dua kenangan. Malam itu juga hadir Hasrul Hendrawan yang bekerja diam-diam di balik kamera, menangkap fragmen kecil yang sering terlewat: wajah subjek ingatan yang berhenti di depan arsip lawas, cahaya yang jatuh perlahan di dinding benteng menjelang malam. Penutup malam pertama adalah Naura N Friend, yang membawakan lagu-lagu dari sudut pandang generasi muda kota ini, semacam pengingat bahwa ingatan Makassar tidak berhenti pada generasi yang lebih tua saja.

Malam kedua, Sabtu 27 Juni, giliran Zaenal Beta melukis langsung di atas kanvas besar menggunakan tanah, bukan cat biasa. Dikerjakan pelan-pelan di tengah keramaian tanpa panggung khusus, cukup berdiri di antara subjek ingatan sebagaimana biasanya seorang perajin bekerja, membiarkan tanah yang diangkat dari bumi berbicara lewat tangannya yang sudah bertahun-tahun mengenalnya. Ada juga Aco White yang menari di sela-sela hadirin, membiarkan tubuhnya jadi semacam bahasa tersendiri untuk hal-hal yang sering kali tidak terjelaskan lewat kata-kata: benturan, kerinduan, perubahan. Maskur Daeng Ngesa memainkan biola yang mengalun dari satu sudut ke sudut lain, kadang jadi bisikan lembut, kadang jadi gelombang yang memenuhi ruang. Malam itu juga dihadiri Komunitas Pemusik Jalanan Makassar dan para musisi jalanan era 80 sampai 90-an, yang duduk bersama warga, bercerita dan bernyanyi tentang suasana Losari ketika matahari tenggelam puluhan tahun lalu, tentang lagu-lagu yang dulu sering diminta penumpang pete-pete, tentang kehidupan malam Ujung Pandang yang kini tinggal cerita.

Malam terakhir, Minggu 28 Juni, adalah giliran Ridwan Sau, yang disapa Tetta oleh banyak orang, dan yang selama puluhan tahun menjaga bahasa Makassar tetap hidup lewat lagu-lagunya, membantu banyak perantau membawa pulang kampung halaman lewat nyanyian, dan membantu generasi muda menemukan kembali kata-kata yang hampir hilang. Ia tampil bersama Luna Vidya, yang berbagi cerita bagaimana dirinya, seorang perantau dari Papua, akhirnya menemukan suara, ruang, dan rumahnya di kota ini, bukti bahwa wajah Makassar tidak hanya dibentuk oleh mereka yang lahir di sini, tapi juga oleh mereka yang memilih tinggal dan mengakar. Ada juga Willy "Opa" Ferial yang berbagi kenangan soal radio-radio lawas yang pernah mengisi rumah-rumah warga Makassar, bunyi yang dulu menghubungkan sopir pete-pete sepanjang jalan dan rumah-rumah yang saling berjauhan. Arwan Tjahjadi bercerita tentang keberagaman warga Peranakan di Makassar, tentang bagaimana kota ini sejak dulu tumbuh dari perjumpaan kapal-kapal yang datang dari berbagai penjuru, membawa bahasa dan cara hidup yang berbeda-beda. Dan Ansar Mulkin Bas membuka kembali arsip-arsip foto lama kota ini, mengajak subjek ingatan melihat wajah Ujung Pandang yang mungkin sudah berubah bentuk, tapi belum sepenuhnya hilang dari ingatan.

Sepanjang tiga malam, Dr. Asis Nojeng dan Soraya Olsen berperan sebagai tuan rumah yang menyambungkan percakapan antar-subjek ingatan, bukan sebagai pembawa acara atau moderator, melainkan lebih seperti tetangga yang mengajak ngobrol, mencairkan jarak antara orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal, membuat suasana benteng terasa hangat seperti kumpul keluarga besar yang sedang bercerita soal kota yang sama-sama mereka cintai.

Lomba Baca Puisi dan Pilihan Bebas di Halaman Benteng

Selepas melewati semua bilik di dalam, subjek ingatan dilepas ke halaman terbuka benteng yang berubah jadi taman rasa. Ada yang mencicipi kue-kue kenangan era 1970 sampai 1990-an, ada yang duduk lesehan beralaskan tikar menyaksikan panggung terbuka dengan lampu sorot menyala di kedua sisi, sambil sesekali tertawa mendengar obrolan orang-orang di sekitarnya.

Salah satu momen yang menarik perhatian malam itu adalah lomba baca puisi, bagian dari respons warga kota lewat tulisan dan pembacaan puisi tentang Makassar. Seorang perempuan berkebaya merah maroon tampil membacakan puisinya dengan lantang di depan mikrofon, satu tangan terangkat meyakinkan, kertas di tangannya yang lain kemungkinan besar berisi tulisan tangannya sendiri, semacam kelanjutan dari kertas-kertas kecil yang tadi digantung di podium dalam ruangan, tapi kali ini dibacakan keras-keras di depan orang banyak, di bawah latar bangunan tua benteng yang sama.

Dan soal becak serta sepeda ontel yang berkeliling di halaman benteng, itu bukan sekadar tukang becak yang lewat begitu saja. Becak dan ontel memang sengaja disiapkan sebagai bagian dari pengalaman Ruang Ingatan sendiri, subjek ingatan bebas memilih naik becak berkeliling halaman benteng atau mengayuh sepeda ontel sendiri, merasakan langsung cara berpindah yang dulu jadi bagian keseharian kota ini, setelah melewati semua bilik penuh renungan di dalam. Di satu sudut malam itu, terlihat rombongan kecil anak-anak duduk bergerombol dalam satu becak, tertawa-tawa sambil melintas di antara pepohonan kelapa dan bangunan tua benteng, gambaran paling ringan dan paling riang dari seluruh rangkaian festival.

Lebih dari Dua Ribu Warga Datang

Festival ini akhirnya mencatat lebih dari dua ribu subjek ingatan mengisi Benteng, dengan lonjakan terbesar justru terjadi di hari-hari terakhir pelaksanaan, bahkan tembus lebih dari seribu yang tercatat hanya dalam satu hari terakhir. Buktinya, ingatan tentang periode ketika Makassar sempat dipaksa berganti nama menjadi Ujung Pandang ternyata masih jadi sesuatu yang ingin ditelusuri banyak warga kota, tidak hanya kalangan akademik atau pegiat budaya. Sebagian besar subjek ingatan datang dari kalangan mahasiswa Universitas Negeri Makassar dan Universitas Hasanuddin, tapi banyak juga warga umum dari Makassar dan Gowa (Antang, Sudiang, dan Samata), kebanyakan mengetahui festival ini lewat unggahan media sosial dan ajakan teman.

Yang membuat Ruang Ingatan 2026 terasa berbeda dari festival kebudayaan pada umumnya adalah keputusan untuk tidak sekadar memajang benda dan memberi keterangan panjang lebar. Subjek ingatan diajak benar-benar berjalan, mendengar, mencium, menusuk peta, berhadapan dengan cermin, mendengarkan puisi dan lagu langsung dari orang-orang yang membawanya, sampai akhirnya memilih sendiri cara pulangnya, entah lewat becak, sepeda ontel, atau sekadar duduk mendengarkan puisi orang lain di bawah langit Benteng Rotterdam.

Seperti tertulis di lembar pengantar festival ini, sebuah kota tidak hanya hidup di dalam arsip. Ia hidup di dalam orang-orang yang mengingatnya. Dan selama tiga malam itu, Benteng Rotterdam membuktikan kalimat itu benar adanya, lewat ribuan warga yang datang, bukan untuk sekadar menonton, tapi untuk ikut mengingat, dan lewat cara masing-masing, membawa pulang sepotong wajah Makassar yang mungkin selama ini jarang mereka pandangi baik-baik.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar