Ridwan Sau dan Tugas Mustahil Merawat Bahasa yang Hampir Terlupakan
Dalam "Ruang Ingatan 2026", seorang musisi legendaris hadir bukan untuk menghibur — melainkan untuk mengingatkan bahwa bahasa adalah rumah terakhir yang tidak boleh kita tinggalkan.
Mengabari.com. Besok, Benteng Rotterdam akan menjadi tempat yang berbeda dari biasanya. Bukan karena renovasi, bukan karena acara seremonial. Melainkan karena sebuah pertanyaan besar yang akan diajukan di sana: sejauh mana kita masih mau merawat bahasa yang pertama kali kita dengar dari mulut ibu kita?
"Ruang Ingatan 2026: Jejak Ujung Pandang, Wajah Makassar" akan dihelat pada 26–28 Juni 2026 di Benteng Rotterdam, Makassar. Dan di antara seluruh rangkaian yang dirancang, ada satu kehadiran yang paling dinantikan, sekaligus paling tidak biasa dalam konteks sebuah festival seni.
Ridwan Sau.
Dalam dramaturgi Ruang Ingatan 2026, Ridwan Sau tidak akan diposisikan sebagai pengisi acara. Ia hadir sebagai Aktivator Memori dengan satu mandat kuratorial yang spesifik: menjaga bahasa Makassar tetap bernapas di dalam ruang publik.
Sadar atau tidak, ia telah lama menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar musisi. Di Sulawesi Selatan, nyaris tidak ada peristiwa siklus kehidupan, khususnya pernikahan, yang berlangsung tanpa lirik-liriknya. Ia adalah arsip pengetahuan hidup yang berjalan, bernafas, dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di era digital, fungsi itu bahkan meluas melampaui batas geografis. Karya-karyanya dalam bahasa ibu menjadi obat rindu bagi para diaspora Makassar, baik yang bermukim di Malaysia, di Inggris, dll. maupun yang merantau dalam skala domestik di seluruh penjuru nusantara. Ketika kampung halaman terasa jauh, suara Ridwan Sau adalah yang paling dekat.
Di Ruang Peristiwa nanti, Ridwan Sau akan berbicara tentang proses kreatifnya dan bagaimana ia memilih untuk tidak berkompromi dengan bahasa ibunya sejak awal.
Baginya, apa yang sering dianggap sebagai keterbatasan justru adalah kekuatan paling otentik yang ia miliki. "Kesulitan bukan hambatan. Kesulitan adalah senjata. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Itulah yang justru bisa membuat kita mencuat," ujarnya. "Karya dalam bahasa ibu punya kesulitannya sendiri. Bahasa yang tidak semua orang mengerti, melodinya yang khas, cara berceritanya yang halus dan berlapis. Dan semua itu, menurut saya, adalah modal. Bukan beban."
Ia bahkan merumuskannya lebih jauh: "Keaslian itu bukan penghalang untuk dikenal luas. Keaslian adalah paspornya. Tanpa itu, kau tidak punya alasan untuk diingat."
Ketika Bahasa Dibungkam, Sebuah Bangsa Kehilangan Dirinya
Pernyataan Ridwan Sau itu beresonansi kuat dengan pemikiran intelektual pascakolonial asal Kenya, Ngũgĩ wa Thiong'o. Bagi Ngũgĩ, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah pengemban budaya, "bank memori kolektif" dari seluruh pengalaman dan imajinasi suatu bangsa. Ketika sebuah masyarakat diputus dari bahasa ibunya, mereka sesungguhnya sedang mengalami bentuk perbudakan mental: terputus dari sejarahnya sendiri, dari tradisi lisannya, dari cara berpikirnya yang paling asli.
Ridwan Sau mungkin tidak membaca Ngũgĩ. Tapi ia hidup dalam keyakinan yang sama. Selama puluhan tahun, ia menolak dikarbit oleh selera pasar. "Ada dua macam pisang," katanya. "Yang satu dikarbit, diberi bahan supaya cepat matang, cepat kuning, cepat sampai ke pasar. Yang satu lagi dibiarkan masak sendiri di pohonnya, mengikuti waktu yang memang sudah ditakdirkan untuknya. Dari luar mungkin kelihatan sama. Tapi begitu kau gigit, kau tahu mana yang otentik. Saya ingin karya dalam bahasa ibu jadi yang kedua."
Ridwan Sau juga akan berbicara tentang sesuatu yang jarang dibahas dalam diskusi musik: epistemologi sebuah karya. Dari mana sebuah lagu seharusnya lahir, dan mengapa itu menentukan segalanya.
"Lagu yang lahir dari otak itu pasti temporer. Dia akan booming hari ini, ramai sebulan dua bulan, lalu hilang ditelan tahun," ujarnya. "Tapi kalau lagu itu keluar dari hati, dari nyawa, saya yakin sampai kiamat tetap ada."
Ia bahkan memiliki definisinya sendiri tentang kapan sebuah karya bisa disebut selesai, bukan ketika dirilis, bukan ketika viral. "Lagu itu tidak pernah selesai di kepala saya, tidak juga di kertas. Dia selesai di tenggorokan. Selesai waktu napas terakhir take itu lepas dan saya merasa, ya, sudah, ini dia."
Dan tentang apa yang ia sebut sebagai karya terbaik: "Bukan yang paling terkenal, tapi yang paling mustahil untuk dibuat."
Kitab yang Tidak Ditulis Pemerintah
Yang paling mengejutkan dari Ridwan Sau adalah penolakannya untuk menyalahkan siapa pun atas memudarnya bahasa ibu di ruang publik. Alih-alih menggugat absennya kebijakan, ia berbalik dan menggugat semua orang yang merasa bahasa ibunya adalah urusan orang lain.
"Kitab itu, kitab tentang siapa kita. Bagaimana kita hidup, apa yang kita jaga. Dan itu tidak ditulis oleh pemerintah," katanya. "Ia ada pada kita. Dan selama kita tidak mau membukanya, kita akan terus berdiri di luar pintu itu, menunggu undangan yang tidak akan pernah datang."
Dekolonisasi yang sesungguhnya, menurut Ngũgĩ wa Thiong'o, belum selesai jika kita belum merebut kembali kedaulatan pikiran melalui bahasa kita sendiri. Ridwan Sau telah melakukannya, bukan dari atas podium akademik, melainkan dari dalam nada dan lirik yang dinyanyikan di hajatan, di dapur, di dalam mobil para perantau yang sedang mengemudi sendirian di kota asing.
Lusa, di Benteng Rotterdam, kehadirannya bukan sekadar penampilan. Ia adalah undangan, untuk datang, mendengar, dan mengingat bahwa bahasa ibu bukan warisan yang cukup disimpan di lemari. Ia harus terus diucapkan.
Selama masih ada yang mau menyanyikannya, mengajarkannya, dan merasa pulang ketika mendengarnya, sebuah kota tidak akan pernah benar-benar kehilangan dirinya sendiri.
Ridwan Sau tahu itu. Ia telah membuktikannya jauh sebelum ada festival yang merayakannya.
Ruang Ingatan 2026: Jejak Ujung Pandang, Wajah Makassar | Benteng Rotterdam, Makassar | 26–28 Juni 2026