Yang Nekat Berlayar ke Puncak yang Dilarang
Dalam La Galigo, sompeq bukan sekadar berlayar. Ia keputusan mendasar untuk meninggalkan pijakan yang aman demi sesuatu yang belum tentu terjangkau. Sebuah pertaruhan penuh terhadap laut yang tak bisa dijinakkan siapa pun. Orang Bugis dulu tahu betul, siapa yang sompeq harus siap dua kemungkinan sekaligus: pulang membawa kekayaan, atau tak pulang sama sekali. Kisah Angela dan Ivan di puncak Empire State, kalau ditarik ke dalam kerangka ini, sebenarnya versi lain dari sompeq yang sama. Hanya medannya berganti, dari laut lepas menjadi udara kosong 457 meter di atas Manhattan.
Mereka memanjat bukan karena gedung itu ramah untuk didaki. Justru karena ia tertutup, dijaga, dan dilarang, di situlah daya tariknya. Sompeq sedianya juga memang begitu. Laut yang dituju bukan laut tenang di dekat pesisir, melainkan laut yang paling jauh, paling asing, paling berpotensi menelan perahu. Ada semacam logika hasrat yang sama: makin besar risikonya, makin sah pula ia dianggap sebagai bukti cinta atau keberanian.
Ketika keduanya berhasil sampai di atas, membentangkan spanduk soal cinta yang mengalahkan hasrat berkuasa, itu momen kemenangan sompeq, semacam labuan yang berhasil dicapai. Tapi cerita nya tidak berhenti di situ. Yang datang setelahnya bukan tepuk tangan yang menyambutnya pulang, tetapi borgol dari polisi New York. Di titik inilah kisahnya menjadi lebih jujur. Di dalamnya memang telah diletakkan keberanian bahwa mencintai dengan narasi kenekatan di tempat umum yang dianggap membahayakan keselamatan selalu menyisakan konsekuensi. Dan mereka telah mengetahui sebelum keputusan itu dijalankan.
Konsep siri' mungkin bisa membantu membaca bagian ini. Siri' bukan cuma soal malu, ia juga soal harga diri yang dipertaruhkan lewat tindakan. Orang yang sompeq dan pulang dengan tangan kosong menanggung siri' yang berat, tapi orang yang sama sekali tak berani sompeq menanggung siri' yang lain. Siri' karena tak pernah mencoba. Angela dan Ivan sepertinya memilih menanggung risiko ditangkap ketimbang menanggung siri' karena tidak pernah menantang batas. Bagi mereka berdua, harga diri justru dipertaruhkan lewat keberanian melanggar, bukan lewat kepatuhan.
Mungkin ini bisa disebut bekerjanya Ininnawa pada kedua pasangan ini. Hasrat batin yang mendorong manusia bergerak melampaui akal sehatnya sendiri, juga kelihatan jelas di sini. Cinta yang cukup dengan lamaran di restoran mewah tak lagi memuaskan ininnawa sebagian orang zaman ini. Ia harus dipertaruhkan di tempat yang bisa merenggut nyawa, direkam dari drone, lalu disebarkan supaya hasratnya diakui orang banyak. Ininnawa memang begitu wataknya, tak pernah puas dengan yang aman.
Ujungnya memang apes, ditangkap setelah melamar. Tapi kalau dilihat lewat sompeq, apes bukan kegagalan. Ia konsekuensi wajar dari keputusan berlayar ke laut yang paling berbahaya. Yang pulang dengan tangan diborgol tetap dianggap sudah menempuh sompeq, sudah membuktikan nyalinya, meski harus membayar dengan cara yang tak terduga. Cinta yang dipertaruhkan Angela dan Ivan, pada akhirnya, adalah cinta yang menagih pembuktian sampai ke titik paling ekstrem, dan kota besar seperti New York, dengan segala hukumnya, cuma jadi laut baru yang menagih ongkos dari siapa saja yang nekat berlayar ke atasnya.