Sepuluh Anak Meninggal Setiap Menit, Karena Kemiskinan
Data global mengungkap hubungan fatal antara pendapatan dan kematian anak. Berita baiknya? Ini bisa dihentikan.
Bayangkan sebuah pesawat jet jumbo penuh penumpang jatuh setiap jam. Setiap jam, sepanjang hari, sepanjang tahun. Itulah jumlah anak-anak yang meninggal di dunia ini—sepuluh per menit, lebih dari 14.000 per hari.
Namun krisis ini berbeda dari bencana. Ini bukan kecelakaan atau wabah yang tidak terduga. Ini adalah konsekuensi sistemik dari satu hal sederhana: kemiskinan.
Our World in Data, organisasi riset global, baru-baru ini merilis analisis mendalam yang membuktikan apa yang sudah lama dicurigai: kemiskinan adalah prediktor paling akurat bagi kematian dini anak-anak. Data itu jelas, angkanya tidak bohong, dan jawabannya menunjuk ke satu arah.
Matematika Sederhana, Konsekuensi Mengerikan
Max Roser, peneliti dari Our World in Data, menemukan sesuatu yang menarik dalam pola global kesehatan anak. Pola itu matematis, terukur, dan berekor ke seluruh penjuru dunia.
Hasilnya: setiap kali pendapatan rata-rata sebuah negara meningkat dua kali lipat, tingkat kematian anak berkurang hingga 50 persen.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah pola yang berulang di negara-negara dengan kinerja kesehatan terbaik di kelasnya. Artinya, uang tidak sekadar berdampak pada kematian anak—uang secara langsung menentukan apakah seorang anak akan hidup atau mati.
Lihat peta dunia hari ini. Di negara-negara kaya, kematian anak adalah kejadian yang jarang dan tragikal. Di negara-negara miskin, terutama di Afrika Sub-Sahara dan bagian lain dunia yang tertinggal secara ekonomi, kematian anak masih merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Jutaan anak mati dari penyakit yang sudah dapat dicegah puluhan tahun yang lalu.
Tiga Cara Kemiskinan Membunuh
Kemiskinan tidak membunuh secara langsung. Sebaliknya, kemiskinan memutus akses terhadap tiga hal fundamental yang menentukan apakah seorang anak akan hidup.
Air. Lebih dari satu juta anak meninggal setiap tahun karena air yang tidak aman. Angka ini mencolok di negara-negara berpendapatan rendah dan hampir tidak ada di negara kaya. Ini adalah kematian yang seharusnya paling mudah dicegah, namun tetap menjadi pembunuh terbesar.
Kesehatan. Negara yang menginvestasikan lebih banyak uang untuk kesehatan mendapatkan hasil yang proporsional lebih baik. Pola ini konsisten di semua negara—kaya atau miskin. Ini berarti resepnya sama untuk semua orang. Hanya tinggal melaksanakannya.
Baca juga:
Frederik Kalalembang Ucapkan Selamat ke Naili-Akhmad Pasca Kemenangan di MK
Nutrisi dan pendidikan. Anak yang tumbuh dengan makanan cukup, vaksin lengkap, rumah yang layak, dan ibu yang tahu tentang kesehatan punya peluang jauh lebih besar untuk selamat. Semuanya terhubung dengan uang, tapi semuanya dapat dilakukan.
Sejarah Memberi Harapan
Inilah bagian yang menggembirakan dari cerita yang suram ini: ketimpangan ini relatif baru.
Dua abad yang lalu, kematian anak tinggi di mana-mana—tanpa memandang negara atau tingkat kemakmuran. Di era pra-modern, hampir setengah dari semua anak meninggal sebelum mencapai dewasa. Bahkan di negara-negara yang sekarang paling kaya sekalipun.
Lalu terjadi sesuatu. Pertumbuhan ekonomi. Inovasi. Investasi dalam kesehatan publik. Dan angka kematian anak turun drastis di negara-negara maju.
Fakta ini membuktikan satu hal penting: kemajuan bukan mustahil. Ini sudah terjadi sebelumnya. Ini bisa terjadi lagi.
Ketimpangan hari ini ada karena sebagian dunia berhasil—dan sebagian lainnya belum. Bukan karena ada perbedaan fundamental dalam kemanusiaan atau kemampuan. Hanya soal waktu, uang, dan komitmen.
Masa Depan Masih Terbuka
Statistik dunia tentang kematian anak sedang bergerak ke arah yang benar. Tidak cukup cepat, tidak merata, tetapi bergerak. Penurunan terjadi di berbagai wilayah. Kemajuan sedang berlangsung.
Dua abad terakhir sejarah mengajarkan bahwa dunia tidak harus menerima tragedi ini sebagai takdir. Generasi ini memiliki alat, pengetahuan, dan contoh dari negara-negara yang sudah berhasil. Dengan fokus pada pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, jutaan nyawa anak-anak dapat diselamatkan.
Pertanyaannya sederhana: apakah dunia akan memilih untuk melakukannya?

Comments (0)
There are no comments yet