Bukan Mitos: Air Dingin Ternyata Bisa Bikin Pencernaan Melambat, Ini Penjelasan Ahli
MENGABARI.com - Minum air dingin memang terasa menyegarkan, terutama setelah makan atau saat cuaca panas. Namun, apakah kebiasaan ini dapat berdampak buruk pada sistem pencernaan?
Menurut ahli gastroenterologi Dr. Jaydeep Patel suhu air yang terlalu dingin memang dapat memengaruhi proses pencernaan, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah banyak atau pada waktu tertentu.
“Ketika air dingin masuk ke dalam lambung, pembuluh darah akan menyempit sehingga aliran darah berkurang. Hal ini dapat memperlambat gerakan lambung dan usus yang berperan dalam mencerna makanan,” jelas Patel, dikutip dari Only My Health, Senin (20/4/2026).
Lalu, bagaimana sebenarnya dampak air dingin terhadap tubuh? Simak penjelasannya.
Bagaimana air dingin memengaruhi proses pencernaan?
Air dingin dapat memengaruhi sistem pencernaan melalui perubahan suhu di dalam tubuh.
Saat air dengan suhu sangat rendah masuk ke lambung, tubuh akan berusaha menyesuaikan suhu tersebut, sehingga energi dan aliran darah difokuskan untuk menstabilkan kondisi.
Proses ini menyebabkan penyempitan pembuluh darah di sekitar lambung. Akibatnya, suplai darah yang diperlukan untuk mencerna makanan menjadi berkurang.
Hal ini berdampak pada melambatnya proses pencernaan secara keseluruhan.
“Gerakan peristaltik, yaitu kontraksi otot yang mendorong makanan melalui saluran pencernaan, bisa melambat,” ujar Patel.
Dampak yang muncul jika terlalu sering minum air dingin
Beberapa efek yang dapat dirasakan akibat konsumsi air dingin, terutama saat atau setelah makan, antara lain:
1. Pencernaan menjadi lebih lambat
Ketika pergerakan lambung melambat, makanan akan bertahan lebih lama di dalam perut. Hal ini membuat proses pemecahan makanan menjadi tidak optimal.
2. Perut terasa kembung dan berat
Penumpukan makanan yang belum tercerna sempurna dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, seperti kembung dan sensasi penuh di perut.
3. Penyerapan nutrisi terganggu
Air dingin juga dapat memperlambat proses pencernaan lemak dan karbohidrat. Akibatnya, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk menyerap nutrisi penting dari makanan.
“Pencernaan lemak dan karbohidrat bisa melambat, sehingga penyerapan nutrisi juga tertunda,” jelas Patel.
Siapa yang harus lebih berhati-hati?
Meski efek air dingin tidak selalu berbahaya bagi semua orang, ada beberapa kelompok yang perlu lebih waspada.
Orang dengan gangguan pencernaan seperti gastroparesis, sindrom iritasi usus besar (IBS), diabetes, atau hipotiroidisme bisa lebih sensitif terhadap perubahan suhu ini.
Pada kondisi tersebut, air dingin dapat memperparah gejala seperti kembung, nyeri perut, atau gangguan pencernaan lainnya.
Jika seseorang sering mengalami keluhan setelah minum air dingin, penting untuk mulai memperhatikan pola konsumsi dan respons tubuh.
Cara aman mengonsumsinya
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa air dengan suhu sangat dingin dapat memengaruhi kontraksi lambung.
Dalam satu studi, konsumsi air bersuhu sekitar 2 derajat Celsius terbukti mengurangi kontraksi lambung dan memengaruhi nafsu makan.
Meski demikian, bagi orang sehat, efek ini biasanya tidak terlalu signifikan dan bersifat sementara.
Untuk menjaga kesehatan pencernaan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan:
- Hindari minum air es dalam jumlah banyak saat atau setelah makan
- Pilih air suhu ruang atau sedikit dingin
- Minum air di sela waktu makan, bukan bersamaan
- Perhatikan respons tubuh terhadap suhu minuman
- Minum secara perlahan, tidak sekaligus dalam jumlah besar
Patel menyarankan agar setiap orang mendengarkan sinyal tubuhnya sendiri. Jika air dingin menimbulkan rasa tidak nyaman, sebaiknya beralih ke air dengan suhu yang lebih hangat.
Minum air dingin tidak selalu berbahaya bagi semua orang. Namun, kebiasaan ini bisa memengaruhi proses pencernaan, terutama jika dilakukan secara berlebihan atau pada waktu yang kurang tepat.
Memahami kondisi tubuh dan menyesuaikan pola konsumsi menjadi kunci untuk menjaga kesehatan pencernaan tetap optimal.

Comments (0)
There are no comments yet