Menulis Berita: Panggilan Jiwa yang Melampaui Batas Pekerjaan dan Jabatan

Ramli - News
11 April 2026 11:18

Oleh: Lukman Hamarong

Suatu ketika, seseorang pernah berbicara kepada saya tentang kegemaran saya menulis berita. Sebutlah dia si Fulan. Dia berkata kepada saya dengan nada bertanya: “Kenapa kamu masih asyik menulis, sementara kamu tidak lagi di Bagian Humas?”. Pertanyaan ini menggelitik buat saya. Saya seperti diajak untuk berdiskusi di warung-warung kopi, atau café-café.

Sangat mudah menjawabnya. Karena dengan menulis, kita sedang mengabadikan diri untuk masa depan kita sendiri. Dengan menulis, kita menciptakan sejarah kita sendiri. Intinya, kita ini adalah penulis. Minimal menulis untuk diri sendiri. Pramoedya Ananta Toer berkata: “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama dia tidak menulis, dia akan hilang dalam masyarakat.”

Sejujurnya, saya mengerti kenapa pertanyaan itu aneh dan menggelitik. Biasanya, orang menulis karena tuntutan jabatan, seperti saat saya bekerja sebagai Pranata Humas yang harus menjaga citra pemerintah, meningkatkan reputasi pemerintah, dan merilis berita pemerintah, tetapi bagi saya, menulis bukan sekadar deskripsi pekerjaan, tetapi juga cara saya melepaskan beban yang tak bisa diucapkan.

Bagi seseorang yang pernah lama melakukan praktik-praktik kehumasan di lingkungan birokrasi pemerintahan. Bahkan pernah lama bekerja di perusahaan pers sebagai kuli tinta, kuli flashdisk, atau bahasa kerennya, wartawan, menulis itu bukan sekadar melampiaskan naluri yang bisa saja hanya “teriakan” di atas kertas, tetapi juga menulis adalah panggilan jiwa yang melampaui batas pekerjaan dan jabatan.

Meskipun saya tak lagi berhubungan dengan sesuatu yang berbau “kehumasan”, tetapi keinginan untuk tetap setia pada naluri yang sekian lama saya dekap erat, membuat saya tetap setia untuk menjembatani ide, menangkap momen, serta memperdalam sudut pandang. Semua hal tersebut sudah mandarah daging dalam anatomi tubuh saya. Menulis bukan lagi sekadar kebiasaan, tetapi juga bagian dari identitas biologis saya.

Saya selalu memegang teguh prinsip yang selama ini membentuk watak dan karakter saya, yaitu tidak pernah lelah mengabarkan kebaikan demi kebaikan untuk melawan disinformasi, fitnah, dan kebencian, dengan cara menulis, menulis, dan menulis. Rasanya memuaskan sekali ketika apa yang kita tulis itu sangat bernilai dan bermanfaat bagi orang lain atau pembaca.

Baca juga:
Membaca Ulang Tradisi: Irfan Palippui Sebut Karya Asia Ramli sebagai "Mesin Waktu" Rhizomatik

Jadi, jangan pernah heran melihat saya tidak pernah berhenti menulis berita, meskipun tugas dan fungsi saya tak lagi menuntut untuk melakukan itu. Sejak saya terangkat sebagai abdi pemerintah, pekerjaan menulis tak pernah saya tinggalkan sama sekali. Di mana pun kepercayaan itu, menulis selalu menjadi “vitamin dan nutrisi” tambahan untuk menopang pekerjaan utama saya.

Menulis itu seperti bernapas. Kalau dulu saya bernapas untuk orang lain, sekarang saya bernapas untuk kesenangan sendiri. Meskipun “panggungnya” sudah berganti, tetapi insting menulis tetap tidak akan pernah luntur. Justru sekarang, saya jauh lebih baik dan asyik karena tekanannya sudah menghilang. Yang tertinggal dan tersisa hanyalah kesenangan dan kebahagiaan saja.

Bagi sebagian orang, menulis berita mungkin dianggap sebagai tugas administratif yang melekat pada jabatan tertentu, khususnya Bagian Humas. Namun, bagi saya, menulis bukan lagi sekadar uraian tugas di atas kertas kerja, melainkan sebuah panggilan jiwa yang tidak pernah padam. Ke mana pun kaki ini membawa saya pada tempat tugas, menulis tetap masuk skala prioritas.

Jangan pernah menyalahkan alur sejarah yang dahulu membawa saya bersinggungan erat dengan dunia kehumasan. Sebab di sanalah, saya mengasah ketajaman pena dalam menangkap esensi sebuah peristiwa.

Namun, ketika roda mutasi membawa saya meninggalkan meja Humas, gairah untuk selalu mengabarkan kemajuan daerah ternyata tidak ikut tertinggal di sana. Sebab menulis adalah cara terbaik mencintai daerah. Tidak peduli di mana pun berlabuh. Karena setiap kegiatan kebaikan layak untuk dikabarkan, tidak dikaburkan. (*)

Related Posts

Comments (0)

There are no comments yet

Leave a Comment