Nurul Arifin Sebut Riset SSI Bukti Bahlil Berhasil Terjemahkan Visi Prabowo ke Publik

Ramli Nur

JAKARTA – Sebuah temuan riset mengejutkan baru saja mengacak-acak peta komunikasi politik di Kabinet Merah Putih. Bukan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, bukan pula Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, melainkan Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang tercatat sebagai penyumbang sentimen positif terbesar terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Berdasarkan riset Sintesa Strategi Indonesia (SSI) yang memantau jagat maya sepanjang 5 Juni hingga 2 Juli 2026, Bahlil mendominasi percakapan digital dengan kontribusi positif mencapai 40,1 persen. Angka ini melesat jauh meninggalkan Gibran yang hanya meraih 31,5 persen dan Teddy Indra Wijaya di angka 24,1 persen.

Ketua Media Penggalangan Opini (MPO) DPP Partai Golkar, Nurul Arifin, menilai capaian ini bukanlah kebetulan. Baginya, Bahlil adalah bukti nyata efektivitas komunikasi politik yang selama ini dibangun kader-kader Golkar di pemerintahan.

"Temuan SSI menunjukkan bahwa komunikasi pemerintahan membutuhkan figur-figur yang mampu menerjemahkan visi besar Presiden menjadi bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Pak Bahlil selama ini konsisten menyampaikan kebijakan secara lugas, sehingga mampu membangun sentimen positif terhadap Presiden," ujar Nurul dalam keterangannya, Kamis (9/7/2026).

Lebih dari sekadar pelaksana program, Anggota Komisi I DPR ini menegaskan bahwa Golkar mendorong setiap kader di kabinet untuk menjadi komunikator ulung. Bahlil dinilai piawai dalam mengawal agenda strategis mulai dari energi, investasi, hilirisasi, hingga ketahanan energi nasional sambil tetap hadir menjawab kritik dan menebar optimisme di tengah masyarakat.

Namun, di balik gemilangnya angka Bahlil, riset SSI justru mengungkap sisi lain yang menjadi "pekerjaan rumah" besar bagi pemerintahan Prabowo. Dari total lebih dari 231 juta paparan konten dan 1,07 juta percakapan digital tentang Presiden, nyaris 71 persennya bergema di media sosial. Namun, kurang dari 20 persen konten mengenai Prabowo yang terkait langsung dengan Wakil Presiden atau para menteri.

Artinya, komunikasi pemerintahan saat ini masih sangat terpusat pada satu tokoh: Presiden Prabowo. Di sinilah Nurul melihat peran Bahlil menjadi sangat krusial ia menjadi jembatan yang menghubungkan istana dengan ruang digital publik.

"Ini menjadi evaluasi bersama. Pemerintah memiliki banyak program strategis yang perlu disampaikan secara masif. Seluruh menteri harus aktif menjadi juru bicara kebijakan di bidang masing-masing. Yang terpenting bukan sekadar popularitas, tetapi bagaimana komunikasi itu mampu membangun pemahaman publik terhadap kebijakan pemerintah," pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar