Baby Natalia: Sisi Lembut Muraya Studio di Tengah Hutan Beton
Di antara deru pendingin ruangan dan langkah kaki pengunjung yang tergesa di Nipah Park, sebuah dinding beton menawarkan jeda yang ganjil. Di sana, goresan cat tidak berteriak garang layaknya grafiti jalanan pada umumnya. Sebaliknya, ia berbisik. Sebuah visual surealis menampilkan sosok perempuan berkepala bunga yang mendekap pot tanaman, seolah sedang melakukan laku meditasi, tepat di jantung konsumerisme.
Karya ini lahir dari tangan dingin Muraya Studio, sebuah kolektif seni yang pada perhelatan Makassar Biennale (MB) 2025, yang dalam sesi Artist Talk diwakili oleh dua punggawanya: Wahyu Dinda Hidayat dan Baby Natalia.
Namun, sorotan khusus patut diarahkan pada Baby. Sebagai satu-satunya seniman mural perempuan yang tampil dalam ReVival Makassar Biennale 2025. Kehadirannya memberi perspektif segar di ranah seni urban yang selama ini didominasi maskulinitas.
Melawan Kekakuan dengan Keluwesan
"Temboknya sudah kaku, sudah keras. Jadi kami berikan goresan yang lembut," ujar Baby Natalia.
Pernyataan itu sederhana, namun memuat filosofi artistik yang kuat. Dalam kolaborasinya di Muraya Studio, Baby tidak mencoba menandingi kerasnya beton dengan visual yang agresif. Bersama Wahyu, dkk. ia justru memilih jalur kontras: menghadirkan garis-garis luwes dan warna-warna neon yang memikat mata (eye-catching) namun tetap teduh.
Karya mereka di Nipah Park seolah menjadi antitesis dari lingkungan sekitarnya. Di saat mal menuntut kecepatan dan transaksi, mural Muraya Studio mengajak pengunjung untuk melambat.
Sosok perempuan dalam lukisan itu, menurut Baby, adalah representasi dari peleburan batas antara manusia dan alam. Sebuah pengingat bahwa pada akhirnya, tubuh akan kembali ke tanah, menjadi pupuk bagi bunga-bunga yang mekar.
Perempuan di Atas Tangga Scaffolding
Keterlibatan Baby dalam Muraya Studio bukan sekadar pelengkap. Dalam diskusi daring yang dipandu Direktur MB Irfan Palippui, Baby menegaskan posisi perempuan dalam skena seni rupa. Ia menolak stigma bahwa perempuan harus terkurung dalam peran-peran domestik atau sekadar menjadi objek dalam karya seni.
"Perempuan tidak harus terkurung di rumah. Kita juga bisa turun ke jalan, memanjat tangga, berkarya, dan punya pendirian," tegasnya.
Dua ekor burung merpati putih yang dilukis terbang bebas di sisi kiri dan kanan mural menjadi metafora dari gagasan tersebut. Bagi Baby dan Muraya Studio, burung itu adalah simbol imajinasi yang tak boleh terpenjara, bahkan ketika raga kita sedang terhimpit di dalam kotak-kotak beton gedung bertingkat.
"Dua Kepala Bisa Melebur"
Sebagai sebuah kolektif, Muraya Studio (akronim dari Mural Raya) menunjukkan bagaimana dua kepala bisa melebur di satu dinding. Wahyu Dinda Hidayat mengakui bahwa proses kreatif mereka kerap diwarnai benturan ide ("tabrakan") di tahap awal. Namun, justru dialektika itulah yang mematangkan konsep.
Wahyu bermain pada aspek teknis ilusi optik dan dimensi ruang untuk memanipulasi pandangan di lorong sempit, sementara Baby menyuntikkan nyawa lewat narasi kelembutan dan detail surealis. Hasilnya adalah sebuah karya yang memiliki punktum (meminjam istilah Roland Barthes) yakni daya sengat yang membuat orang berhenti sejenak dari rutinitas belanjanya untuk merenung.
Di tangan Baby Natalia dan Muraya Studio, dkk. dinding Nipah Park bukan lagi sekadar pembatas ruang. Ia telah berubah menjadi oase; sebuah ruang di mana beton yang mati dipaksa untuk 'bernafas' dan berbunga.

Comments (0)
There are no comments yet