AS Lancarkan Serangan Brutal ke Pelabuhan Iran, Sanksi Minyak Dicabut, dan Bahrain Ikut Bersuara
WASHINGTON – Langit di Timur Tengah kembali memanas. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah melancarkan serangkaian serangan brutal yang menghantam sejumlah target di wilayah Iran. Dalam pernyataan yang tergesa-gesa, pihak militer AS enggan merinci lokasi atau skala serangan, namun mereka menyiratkan bahwa tindakan ini adalah respons atas "gangguan serius" yang mereka alami.
Washington menyebut Teheran telah berulang kali melanggar nota kesepahaman yang menjadi kerangka negosiasi antara kedua negara, sebuah pelanggaran yang menurut mereka tidak bisa lagi ditoleransi.
Gema Ledakan di Pelabuhan Strategis
Heningnya pagi di pesisir selatan Iran pecah oleh rentetan ledakan. Media pemerintah Iran melaporkan suara dentuman menggema dari sisi timur dan barat Bandar Abbas, kota pelabuhan utama yang menjadi urat nadi perekonomian negara itu. Tak hanya di sana, wilayah pelabuhan Sirik pun turut bergetar. Laporan menyebutkan proyektil misterius menghantam dermaga komersial dan perikanan di kota tersebut.
Pemandangan mencekam terekam di Bandar Abbas. Gumpalan asap hitam pekat membubung tinggi di belakang pasar ikan setempat, menandakan hantaman yang mengenai perahu-perahu nelayan. Kantor berita Fars mengabarkan bahwa proyektil tersebut memicu kebakaran yang melahap beberapa kapal kayu milik warga sekitar.
Sanksi Dicabut, Rudal Diluncurkan
Serangan militer ini terjadi hanya beberapa saat setelah langkah diplomatik AS yang tidak kalah keras. Departemen Keuangan AS secara resmi mencabut pengecualian sanksi yang selama ini menjadi "jalan napas" bagi Iran untuk mengekspor minyak mentahnya.
Sebelumnya, izin ekspor tersebut diberikan berdasarkan nota kesepahaman yang sama, namun AS menilai Teheran gagal memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Dengan pencabutan ini, sanksi ekonomi akan kembali berlaku penuh pada 17 Juli. Keputusan ini jelas merupakan upaya untuk menekan Teheran di meja perundingan, tepat sebelum kedua pihak mencapai kesepakatan final untuk mengakhiri konflik.
Bahrain Angkat Suara: 'Ancaman bagi Dunia'
Di tengah ketegangan, suara keras justru datang dari Bahrain. Negara tetangga di kawasan Teluk itu dengan tegas mengecam apa yang mereka sebut sebagai serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker minyak milik Arab Saudi dan Qatar yang melintasi Selat Hormuz.
Manama menyebut insiden tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan sebuah ancaman nyata bagi keamanan maritim global serta pasokan energi dunia. Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Bahrain menyatakan solidaritas penuh dengan Riyadh dan Doha, serta mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak menjaga kebebasan navigasi di jalur air vital tersebut.