Bahrain dan Kuwait Serang Iran, UEA Dukung Operasi Intelijen

Ramli Nur
Kuwait.

TEHERAN – Konflik di Timur Tengah memasuki babak baru. Bahrain dan Kuwait dilaporkan mengirim pesawat tempur untuk menyerang Iran sebagai balasan atas serangan berulang yang menargetkan negara mereka. Menurut laporan The Wall Street Journal pada Jumat (24/7/2026), kedua negara Teluk tersebut menargetkan depot penyimpanan drone dan rudal Iran, dengan Uni Emirat Arab (UEA) menyediakan intelijen dan "perlindungan udara defensif" untuk operasi tersebut.

UEA dan Arab Saudi sebelumnya telah melancarkan serangan terhadap Iran pada awal perang. Namun, keterlibatan Bahrain dan Kuwait menandai perluasan konflik yang signifikan.

Mengapa Kuwait dan Bahrain Akhirnya Bertindak

1. Menjadi Sasaran Serangan Iran Paling Intens

Kedua negara Teluk tersebut telah menjadi sasaran serangan Iran paling intens dalam beberapa pekan terakhir. Bahrain dan Kuwait adalah pemain militer yang relatif kecil dibandingkan UEA dan Arab Saudi, namun keterlibatan mereka menunjukkan bahwa mereka telah mencapai titik puncak kesabaran.

Bahrain, yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel melalui Perjanjian Abraham 2020, serta Kuwait, yang sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor minyak, berada dalam posisi yang sangat rentan. Iran memilih menyerang kedua negara ini karena menghindari serangan langsung terhadap tetangga mereka yang lebih besar dan lebih kaya.

2. Ketergantungan pada Selat Hormuz dan Kerentanan Infrastruktur

Kuwait dan Bahrain dipandang sangat rentan karena letak geografis dan ketergantungan hampir total pada Selat Hormuz. Bahrain adalah kerajaan pulau yang satu-satunya koneksi darat ke dunia luar adalah jalan lintas dengan Arab Saudi. Sementara Kuwait, yang terletak di ujung utara Hormuz dan berbatasan dengan Irak, telah menjadi sasaran serangan intensif dari Iran dan milisi Irak yang bersekutu dengan Teheran.

Kementerian Luar Negeri Kuwait bahkan melaporkan awal pekan ini bahwa Iran menyerang pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air. Para ahli memperingatkan bahwa negara-negara Teluk akan menghadapi krisis kemanusiaan jika pabrik desalinasi mereka menjadi sasaran dalam skala besar.

3. Kesadaran Risiko, Tetapi Kelelahan Akibat Serangan Berulang

Meskipun tindakan militer Kuwait dan Bahrain kemungkinan tidak akan mengubah hasil perang secara keseluruhan, serangan berulang Iran yang terus menerus membuat mereka mengambil langkah berani. Arab Saudi sendiri telah bergabung dengan AS pada awal konflik, kemudian beralih mendukung mediasi Pakistan. Sementara UEA telah melancarkan puluhan serangan terhadap Iran.

Keputusan Kuwait dan Bahrain untuk ikut serta dalam serangan ini mencerminkan frustrasi dan kelelahan akibat menjadi target terus-menerus.

Trump Pertimbangkan Serangan "Besar-besaran" ke Iran

Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Axios pada hari Kamis bahwa ia sedang mempertimbangkan "serangan besar-besaran" terhadap Iran. Militer AS sendiri mencatat bahwa Jumat adalah malam ke-13 berturut-turut serangan terhadap Iran.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar