Dua Miliarder Inggris Donasi Rp1,7 Triliun ke Partai Reform UK dalam 24 Jam, Rekor Baru Politik Inggris
LONDON — Dunia politik Inggris diguncang oleh langkah luar biasa dari dua miliarder yang menyumbangkan dana rekor kepada Partai Reform UK. Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, total donasi yang dijanjikan mencapai USD97 juta (sekitar Rp1,7 triliun), sebuah angka yang belum pernah terjadi dalam sejarah politik modern Inggris.
Miliarder Ben Delo (42), salah satu pendiri bursa mata uang kripto BitMEX, menjadi yang pertama membuka keran donasi pada Jumat. Ia menjanjikan sumbangan sebesar USD48,7 juta (sekitar Rp811 miliar) kepada partai sayap kanan pimpinan Nigel Farage tersebut.
Tidak sampai sehari berselang, giliran Christopher Harborne (63) investor mata uang kripto yang berbasis di Thailand, yang mengumumkan donasi dengan jumlah yang sama persis. Dalam tulisannya di surat kabar Daily Telegraph pada Sabtu, Harborne menyebut sumbangan USD48,7 juta (£36 juta) itu sebagai "hadiah filantropis" bagi negara.
Ia mengaku "terinspirasi" untuk menyamai kontribusi yang diberikan Delo 24 jam sebelumnya. Kedua sumbangan ini menjadikan total dana yang dijanjikan untuk Reform sejak Jumat mencapai USD97 juta.
Pemimpin Reform UK, Nigel Farage, menyambut baik kontribusi tersebut. Dalam unggahannya di X, ia menegaskan bahwa kedua donatur tidak memiliki kepentingan terselubung.
"Anda tahu apa yang diinginkan Ben Delo dan Christopher Harborne? Tidak ada apa-apa," kata Farage. "Hanya pemerintahan yang akan membenahi Inggris. Dan itulah yang akan diwujudkan oleh Reform UK."
Namun, langkah ini tidak luput dari kritik. Pemimpin Partai Konservatif, Kemi Badenoch, menuduh Farage dan rekan-rekannya tidak memiliki integritas.
"Anda bisa membeli staf dan iklan, tetapi Anda tidak bisa membeli penilaian yang tepat atau integritas," tulis Badenoch di X. "Terkadang, dana yang lebih besar hanya berarti Anda mengulangi kesalahan yang sama. Partai Konservatif siap menghadapi pertarungan ini."
Sumbangan besar ini datang di tengah maraknya pertanyaan seputar keuangan partai. Awal pekan ini, Kepolisian Metropolitan London mengonfirmasi dimulainya penyelidikan pidana terkait dugaan apakah Reform menerima sumbangan asing ilegal.
Reform merupakan penerus Brexit Party besutan Farage yang berganti nama pada 2021. Farage, tokoh sentral gerakan Brexit, telah lama memosisikan diri sebagai anti-kemapanan. Popularitasnya melonjak seiring meningkatnya kekecewaan pemilih terhadap Partai Konservatif dan Partai Buruh, dua partai yang secara historis mendominasi politik Inggris.
Namun, data jajak pendapat terbaru menunjukkan Reform telah kehilangan sebagian pemilih sejak Andy Burnham yang berhaluan kiri menggantikan Keir Starmer sebagai perdana menteri dan pemimpin Partai Buruh.
Melaporkan dari London, Camille Nedelec dari Al Jazeera mengatakan kedua donatur meyakini mereka sedang membuat politik Inggris lebih adil.
"Salah satu alasan yang dikemukakan Ben Delo adalah untuk menciptakan kesetaraan dalam kancah politik," kata Nedelec. Pandangan itu diamini Harborne, yang mengibaratkan Reform UK sebagai perusahaan rintisan (startup) yang membutuhkan dorongan karena tidak seperti partai arus utama, Reform tidak memiliki infrastruktur dukungan finansial dan donasi rutin.
"Mereka memandang ini sebagai cara untuk menciptakan politik Inggris yang lebih adil. Secara historis, Reform menerima sangat sedikit donasi dibandingkan partai-partai arus utama," tambahnya.