Arifin Manggau Daftar Calon Rektor UNM: "Sama-Sama Ki", Jalan Baru Menuju Kampus Inklusif dan Berdaya Saing

Dr. Arifin Manggau, S.Pd., M.Pd.

MAKASSAR — Langkah Dr. Arifin Manggau, S.Pd., M.Pd., mendaftarkan diri sebagai calon Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2027–2031 pada Senin, 21 September 2026, bukan sekadar peristiwa administratif. Di Lantai 14 Gedung Pinisi, pukul 11.21 WITA, ia datang diiringi sekitar 100 perwakilan dosen, tenaga kependidikan, seniman, budayawan, dan alumni. Kehadiran mereka menjadi sinyal bahwa Arifin membawa gagasan yang melampaui politik kampus biasa.

Tagline yang diusungnya, "Sama-Sama Ki", bukan sembarang slogan. Ia merujuk pada falsafah Pangaderreng, sistem adat dan etika Bugis-Makassar, yang menekankan getteng (keteguhan), ada tongeng (kejujuran), dan sipakatau (memanusiakan manusia). Dalam praktiknya, Arifin ingin meruntuhkan sekat eksklusif antar-fakultas dan meredam polarisasi pasca-pemilihan. Ia bahkan memilih tidak membentuk tim sukses formal yang kaku, sebuah langkah yang dinilai mampu menjaga martabat pemilihan rektor sebagai ajang adu gagasan, bukan adu kekuatan.

Lalu, apa yang membuat Arifin layak memimpin UNM? Jawabannya terletak pada rekam jejak yang utuh. Ia pernah memimpin Pusat Pengembangan Kurikulum dan Media Pembelajaran, mengelola KKN dan Pemberdayaan Masyarakat, menjadi Wakil Dekan II Bidang Keuangan dan Administrasi Umum FSD, hingga menjabat Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni. Kombinasi pengalaman dari tingkat pusat, fakultas, hingga rektorat menjadikannya pemimpin yang tidak memerlukan masa adaptasi panjang.

Di ranah akademik, Arifin dikenal sebagai periset kualitatif-terapan dengan fokus pada pedagogi seni, PAUD, etnopedagogi, dan intervensi sosial-humaniora. Karya-karyanya di Google Scholar dan SINTA (ID: 6044340) menunjukkan satu benang merah: riset harus hadir menyelesaikan problem nyata masyarakat, bukan sekadar mengejar metrik publikasi.

Sebagai mantan Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS) periode 2024–2029, Arifin memiliki pendekatan persuasif-kultural dalam menghadapi dinamika kemahasiswaan. Energi kritis mahasiswa diarahkan ke ruang ekspresi kreatif, laboratorium kewirausahaan, dan kompetisi prestasi, bukan pada gesekan destruktif. Dialog egaliter dengan BEM dan MAPERWA menjadi kunci iklim kampus yang aman dan kondusif.

Terakhir, sebagai universitas dengan akar LPTK, UNM dituntut berwawasan global tanpa kehilangan jati diri. Arifin memproyeksikan penguatan MKWPU yang mengawinkan literasi digital, sains, dan inklusi dengan etnopedagogi. Lulusan UNM diharapkan unggul secara teknologi sekaligus memiliki kepekaan budaya yang tinggi. Program fast track S1–S2 yang terintegrasi dengan pusat riset kebudayaan menjadi salah satu agenda percepatan reputasi institusi.

Pendaftaran Arifin Manggau bukan sekadar mengisi bursa calon rektor. Ia menawarkan arah baru: UNM yang inklusif, berprestasi, dan tetap berpijak pada kearifan lokal. "Sama-Sama Ki" bukan hanya ajakan, melainkan janji kepemimpinan yang merangkul semua pihak menuju UNM yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar