Sisa Ingatan yang Bersuara

Setiap kota menyimpan dua tubuh. Tubuh pertama tercatat: dalam arsip, regulasi, peta jalan, dan segala cara hidup yang diresmikan dari atas. Tubuh kedua luput dari catatan, dan justru di situ ia hidup, di dalam orang-orang yang mengingat, di tempat dan benda kenangan yang mereka simpan hingga pada rasa sakit yang dipendam sambil terus menjalani hidup. Ruang Ingatan menaruh perhatiannya pada tubuh yang kedua.

Makassar bukan ruang yang tertutup. Masa lalunya justru mencatat keramahan: sebuah kota pelabuhan yang terbuka pada dunia luar dan menerima siapa saja yang datang. Banyak orang, setelah turun dari kapal, memutuskan tinggal, dan membawa serta nama kampung halamannya. Dari situ lahir Kampung Melayu, Kampung Arab, Jawa, Ambon, Buton, Pecinan, sampai nama-nama daerah yang tak jauh dari sini seperti Wajo. Wajah awal Makassar adalah wajah campuran, wajah yang datang dari mana-mana.

Wajah itulah yang kemudian, selama dua puluh delapan tahun, seperti hendak dihapus. Di situ, tubuh yang tercatat mencoba menimpa tubuh yang diingat. Nama kota diganti dengan yang bukan pilihannya, lalu dipulangkan karena ada sesuatu yang terasa ganjal.

Peristiwa yang tampak sederhana, tetapi menyisakan pertanyaan: apa yang tersisa dari sebuah kota yang pernah diganti namanya, lalu kembali lagi? Dan terbaca pula satu hal lain, bahwa identitas sebuah kota memang tidak pernah selesai sekali jadi.

Dari situlah Ruang Ingatan 2026 berangkat. Bukan dari konsep, melainkan dari pertanyaan serta hal-hal yang dianggap remeh dan sederhana. Di sini ingatan tidak dibiarkan membatu menjadi lorong; ia diserahkan kembali kepada yang mengingatnya. Yang ditawarkan ruang ini bukan keterangan tentang masa lalu, tetapi kemungkinan berdiri sejajar dengannya.

Kita sedang membuat peristiwa, tempat setiap ingatan mendapat ruangnya, dan setiap subjek dibiarkan menyusuri rute yang tersedia menurut langkahnya sendiri. Mungkin inilah rute yang sedang mencoba berdialog dan berdamai dengan kehilangan, lalu mengajak setiap orang membentangkan layar perjalanannya, menyelesaikan lukanya masing-masing.

Kota ini pernah memakai nama yang bukan pilihannya; saat ini ia menatap wajahnya sendiri. Dan yang tersisa bukan lagi pertanyaan "apa itu Makassar", tetapi: siapa yang memandang, dari mana kita memandang, dan wajah siapa yang kita akui sebagai wajah kota ini.

Kita memasukinya bukan sebagai tamu, melainkan sebagai wajah-wajah yang sedang ditanyakan itu.

 

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar