Iran Ancam Blokir Selat Bab al-Mandeb: Perdagangan Global Tercekik

Ramli Nur
Selat Bab al-Mandeb merupakan jalut pelayaran dan perdagangan dunia.

TEHERAN — Iran mengancam akan meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya: meminta sekutunya, Houthi Yaman, untuk memblokir Selat Bab al-Mandeb salah satu jalur perairan paling vital di dunia.

Jika ancaman ini terwujud, dampaknya akan sangat besar. Selat Bab al-Mandeb adalah pintu gerbang Laut Merah dan Terusan Suez, jalur utama ekspor minyak dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Memblokir selat ini berarti mencekik salah satu urat nadi perdagangan global.

Kolonel Abbas Dahouk, mantan penasihat militer senior untuk urusan Timur Tengah di Departemen Luar Negeri AS, menyebut langkah ini sebagai "eskalasi serius" yang akan mengganggu perdagangan maritim internasional.

"Bab al-Mandeb adalah jalur air penting lainnya. Sekarang karena Selat Hormuz sebagian diblokir untuk lalu lintas internasional, Laut Merah menjadi jalan pintas untuk ekspor minyak, setidaknya untuk Arab Saudi dan UEA," ujar Dahouk.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar ekspor energi yang transit melalui Terusan Suez melewati kedua selat tersebut. Hormuz dan Bab al-Mandeb.

"Jika hal itu terganggu, maka pasti akan meningkatkan tekanan tidak hanya di kawasan itu, tetapi juga di pasar internasional dan Amerika Serikat. Amerika Serikat sedang memikirkan hal ini, dan mungkin akan ada pembalasan dalam beberapa cara," peringatnya.

Dahouk juga menggambarkan situasi di Selat Hormuz saat ini sebagai "kondisi terburuk yang kita lihat dalam satu dekade terakhir."

"Secara fungsional, selat itu masih terbuka, tetapi perusahaan-perusahaan takut untuk menyeberang masuk dan keluar, dan itu akan membutuhkan waktu untuk memulihkannya."

Dengan Selat Hormuz yang sudah dianggap berbahaya, ancaman penutupan Bab al-Mandeb akan semakin memperparah krisis, menciptakan blokade ganda yang bisa melumpuhkan perdagangan minyak global.

Sementara itu, situasi di dalam negeri Iran juga memanas. Media Iran melaporkan ledakan di kota Khorramabad, provinsi Lorestan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa ledakan itu merupakan akibat dari serangan rudal AS yang diluncurkan dari Kuwait.

Jika dikonfirmasi, ini berarti perang AS-Iran kini telah memasuki fase baru dengan serangan langsung ke wilayah daratan Iran.

Di sisi lain, militer Yordania mengumumkan bahwa pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menembak jatuh 10 rudal Iran yang menerobos wilayah udara negara itu pada Sabtu pagi.

Pihak militer menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan sesuai dengan langkah-langkah pertahanan standar untuk menjaga kedaulatan kerajaan dan memastikan keselamatan publik.

Hasil pencegatan:

  • Tidak ada korban jiwa
  • Tidak ada kerusakan material yang dilaporkan
  • Unit Royal Engineers telah mulai membersihkan dan mengamankan puing-puing dari lokasi benturan
  • Peta Ketegangan yang Semakin Luas

Ancaman ini menunjukkan bahwa konflik AS-Iran kini tidak lagi terbatas pada satu front. Beberapa titik panas yang sedang berkembang:

  • Selat Bab al-Mandeb Ancaman blokade oleh Houthi atas permintaan Iran
  • Selat Hormuz Sudah dianggap berbahaya oleh pelayaran internasional
  • Khorramabad, Iran Ledakan diduga akibat serangan rudal AS dari Kuwait
  • Yordania 10 rudal Iran dicegat pertahanan udara
  • Kuwait Diduga menjadi pangkalan peluncuran serangan AS ke Iran

Dengan Selat Hormuz yang sudah hampir tidak bisa dilalui dan ancaman penutupan Bab al-Mandeb yang menggantung, dunia berada di ambang krisis energi dan perdagangan global. Tekanan terhadap AS dan sekutunya akan semakin besar, dan respons militer Washington kemungkinan akan segera datang.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar