AS Kerahkan Rudal Patriot ke Arab Saudi dan Qatar, Trump Siapkan Serangan Baru ke Iran
WASHINGTON – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Amerika Serikat telah mengirim dua baterai rudal Patriot tambahan ke Arab Saudi dan Qatar dalam beberapa pekan terakhir bukan sekadar rutinitas militer, melainkan bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan serangan besar-besaran baru terhadap Iran. Washington juga menjamin Riyadh dan Doha akan mendapatkan perlindungan jika Presiden Donald Trump kembali melancarkan agresi militernya.
Mengutip laporan Axios, Minggu (4/10/2026), satu baterai Patriot dikirim ke Arab Saudi bulan lalu untuk melindungi fasilitas minyak utama, sementara baterai lainnya dikirim ke Qatar untuk menjaga fasilitas gas alam. Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, menolak memberikan komentar mengenai pengerahan tersebut.
Menurut laporan tersebut, Washington membutuhkan akses ke wilayah udara Arab Saudi untuk melancarkan kembali serangan terhadap Iran. Namun, Riyadh kemungkinan tidak akan memberikan akses tersebut tanpa adanya jaminan bahwa infrastruktur minyaknya terlindungi. Inilah mengapa pengiriman baterai Patriot menjadi semacam "harga" yang harus dibayar Washington untuk mendapatkan kerja sama Riyadh.
Pengerahan baterai Patriot dilakukan ketika Trump mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali kampanye pengeboman terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang. Trump bahkan mengancam akan menghancurkan Iran jika Teheran tidak memenuhi tuntutannya.
Sebelumnya, Trump menolak proposal Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan kembali ke perundingan nuklir dengan syarat Washington menghentikan permusuhan serta mencabut blokade lautnya. Trump menyebut tawaran tersebut "tidak cukup baik."
Washington juga tengah mengerahkan kelompok tempur kapal induk USS Theodore Roosevelt ke Timur Tengah. USS Roosevelt, yang bakal tiba November, akan menjadi kapal induk ketiga yang dikerahkan ke wilayah tersebut pada saat ini, sebuah pengerahan kekuatan yang signifikan dan sinyal jelas bahwa AS sedang bersiap untuk skenario terburuk.
Perang AS melawan Iran telah menyebabkan persediaan baterai Patriot dan rudal pencegatnya terkuras dalam jumlah besar serta membuat kemampuan pertahanan udara AS di antara negara-negara sekutu menjadi semakin terbatas. Militer AS juga menarik amunisi dari komando-komando regional lainnya untuk dipindahkan ke Timur Tengah atau Asia Barat. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran mengenai kesiapan militer AS di kawasan konflik lainnya.
Pada awal Agustus, para pemimpin Arab Saudi dan Qatar melobi Trump agar tidak melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran yang akan menyasar infrastruktur energinya. Riyadh dan Doha khawatir Iran akan membalas dengan menyerang fasilitas minyak dan gas mereka. Menurut sejumlah pejabat AS, kekhawatiran tersebut sangat memengaruhi keputusan Trump untuk membatalkan serangan dan menggantinya dengan kampanye pencekikan ekonomi dan isolasi terhadap Iran.
Trump kembali mengancam akan melakukan agresi setelah pemilu sela AS. Dalam wawancara dengan TIME pada 1 Oktober, dia mengatakan telah menolak tawaran Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz karena dianggap "tidak cukup baik." Trump juga membanggakan bahwa AS sedang "menimbun persediaan amunisi dalam jumlah yang belum pernah dilakukan sebelumnya."
Teheran telah menegaskan bahwa serangan baru AS tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengancam akan memperluas wilayah perang dan menggunakan senjata baru untuk menyerang target-target baru. Dengan kata lain, jika Trump benar-benar melanjutkan agresinya, Timur Tengah bisa kembali menyala dalam konflik yang jauh lebih besar dari sebelumnya.