Duka Mendalam Komunitas Kristen Gaza: Ibu dan Putrinya Tewas dalam Bombardir Israel
GAZA – Duka menyelimuti komunitas Kristen di Kota Gaza, Palestina. Seorang ibu dan putrinya tewas setelah apartemen tempat tinggal mereka dibombardir militer Israel pada Jumat tengah malam atau Sabtu dini hari. Beberapa jam kemudian, komunitas gereja Gaza berkumpul bukan untuk merayakan, melainkan untuk mengantar kepergian dua jiwa yang menjadi korban kekerasan yang tak kunjung usai.
Sang ibu diidentifikasi bernama Maysaa Khader Abu Daoud, sedangkan putrinya bernama Marie. Keduanya berada di dalam apartemen di kawasan Rimal ketika serangan udara militer Israel menghantam kawasan tersebut. Serangan itu terjadi meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak tahun lalu sebuah fakta yang semakin memperdalam luka bagi mereka yang telah kehilangan.
Puluhan orang berkumpul di Gereja Ortodoks Yunani St Porphyrius di Kota Gaza untuk mengikuti upacara pemakaman. Mereka melantunkan nyanyian rohani dan mendengarkan pembacaan doa bagi kedua mendiang. Jenazah ibu dan putrinya tersebut kemudian dimakamkan. Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga serta komunitas Kristen yang lebih luas di Gaza.
Pendeta terkemuka Palestina, Munther Isaac, juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga tersebut. Dalam sebuah pernyataan, ia menegaskan bahwa "genosida di Gaza terus berlanjut." Pendeta yang berbasis di Ramallah itu menambahkan, "Dua perempuan Kristen, seorang ibu dan anak perempuannya, termasuk di antara lima orang yang tewas ketika sebuah gedung hunian di Gaza dibom pada tengah malam."
Para sumber medis dan saksi mata, yang dikutip The New Arab, Minggu (4/10/2026), mengatakan serangan bom Israel menghantam apartemen tersebut pada Sabtu dini hari. Menurut mereka, ada enam orang lainnya yang terluka dalam insiden tersebut.
Sejak dimulainya perang di Gaza pada Oktober 2023, komunitas Kristen di wilayah kantong Palestina tersebut telah berulang kali menjadi sasaran serangan. Banyak warga sipil terpaksa mencari perlindungan dari serangan di dalam gereja. Pada 19 Oktober 2023, serangan udara Israel menyasar Gereja Ortodoks Yunani St Porphyrius, menewaskan sedikitnya 18 orang.
Pada 16 Desember tahun yang sama, Patriarkat Latin Yerusalem menyatakan bahwa seorang sniper Israel menewaskan dua perempuan Kristen yang diidentifikasi sebagai Nahida dan putrinya, sementara tujuh orang lainnya terluka. Sebuah biara milik paroki tersebut juga dibom oleh Israel pada hari yang sama. Kemudian, pada 17 Juli 2025, militer Israel mengebom kompleks Gereja Katolik Keluarga Kudus (Holy Family) di Kota Gaza, menewaskan tiga orang, termasuk seorang imam bernama Pastor Gabriel Romanelli.
Peristiwa pembunuhan terbaru ini terjadi di tengah pelanggaran berkelanjutan yang dilakukan Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober 2025. Sejak tahun 2023, perang di Gaza telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 orang lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Palestina. Angka-angka itu bukan sekadar statistik mereka adalah ayah, ibu, anak, dan saudara yang hilang dari keluarga mereka.