Eks PM Rusia: Putin Tahu Invasi Ukraina Itu Salah, tapi Terlalu Gengsi Mengakuinya
PARIS – Mantan Perdana Menteri Rusia Mikhail Kasyanov melontarkan pernyataan mengejutkan. Menurutnya, Presiden Vladimir Putin sebenarnya menyadari bahwa invasi ke Ukraina pada 2022 adalah sebuah kesalahan besar. Namun, alih-alih mengakui dan menghentikannya, Putin justru nekat melanjutkan perang yang telah menelan puluhan ribu korban jiwa itu.
Kasyanov, yang kini hidup di pengasingan di Riga, menilai Putin belum siap bernegosiasi untuk mengakhiri perang meskipun tekanan ekonomi semakin meningkat dan keresahan mulai muncul di kalangan masyarakat maupun elite Rusia. "Dia melakukan kesalahan yang tidak bisa dia akui," kata Kasyanov dalam wawancara dengan AFP di Paris, yang dilansir Minggu (4/10/2026).
Kasyanov, yang menjabat sebagai PM Rusia pada 2000–2004, mengatakan Putin sebelumnya percaya pada laporan badan-badan keamanan Rusia yang menyebut Ukraina dalam kondisi lemah. Keyakinan itulah yang membuatnya melangkah tanpa ragu, sebuah keputusan yang kini terbukti membawa Rusia ke dalam perang berkepanjangan.
Kasyanov tidak yakin perang akan berakhir tahun depan. Menurutnya, Putin justru mendapat dorongan dari kenaikan harga minyak akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Iran serta perbedaan pandangan antara Washington dan Eropa mengenai cara menghadapi Kremlin terkait Ukraina. "Putin tentu saja sangat gembira. Dia jelas percaya bahwa dia bisa melanjutkan perang tanpa memberikan konsesi apa pun. Dan dia yakin bahwa dia sedang memenangkan perang atrisi melawan Ukraina," ujar Kasyanov.
Ia memperingatkan bahwa musim dingin mendatang dapat menjadi sangat berat bagi Ukraina. Kasyanov mendesak negara-negara Barat memberikan "tekanan psikologis terhadap Kremlin" dengan memperkuat persatuan serta segera memasok Kyiv dengan rudal pencegat Patriot untuk melindungi wilayah udaranya dari meningkatnya serangan Rusia terhadap infrastruktur sipil.
Putin, mantan agen KGB yang akan berusia 74 tahun pada Rabu, bersikeras bahwa jutaan warga Rusia mendukung perang yang dilancarkan Moskow. Bulan lalu, partai yang berkuasa di Rusia memenangkan mayoritas besar dalam pemilu. Para pengkritik menyebut pemilu tersebut dikendalikan secara ketat, sementara Putin menggambarkan hasilnya sebagai bentuk dukungan terhadap perang.
Kasyanov meninggalkan Rusia pada 2022 dan kini tinggal di pengasingan di Riga. Pada 2023, pemerintah Rusia menetapkannya sebagai "agen asing", istilah yang memiliki kemiripan dengan label era Soviet, "musuh rakyat". Kritikus Kremlin tersebut mengatakan dirinya masih berhubungan dengan sejumlah anggota elite penguasa Rusia. "Ketakutan berkuasa di sana, saya berbicara tentang kelas penguasa," katanya. "Semua orang ingin perang berakhir. Sebagian besar menginginkannya."
Namun, menurut Kasyanov, perbedaannya terletak pada bagaimana mereka menginginkan perang tersebut berakhir. Sebagian menginginkan kemenangan, sebagian ingin perang berakhir dengan kekalahan Putin, sementara yang lain hanya ingin perang dihentikan, apa pun hasil akhirnya.
Di kalangan masyarakat Rusia, Kasyanov mengatakan dirinya tidak melihat adanya dasar bagi pemberontakan meskipun jumlah korban perang meningkat dan harga pangan terus naik. "Rakyat Rusia telah hidup dengan inflasi tinggi selama 30 tahun. Mereka sudah terbiasa menanggungnya," katanya. Namun, ia memperingatkan bahwa gelombang mobilisasi militer berskala besar yang baru dapat memicu aksi protes di jalanan.
Berbicara di sela-sela konferensi yang digelar asosiasi Russie-Libertes di Paris untuk para eksil Rusia yang menentang Putin, Kasyanov mengatakan Rusia dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi "praktis totaliter". "Ada rasa pasrah, permusuhan satu sama lain, dan ketegangan serius di masyarakat," ujarnya. "Orang-orang menarik diri ke dalam keluarga mereka sendiri, sementara perasaan negatif terhadap satu sama lain semakin meningkat."
Setelah diberhentikan oleh Putin, Kasyanov bergabung dengan kelompok oposisi dan menjadi salah satu pengkritik Kremlin yang paling vokal. Seperti banyak pihak lainnya, dimulainya perang dan lamanya konflik tersebut mengejutkannya. Pada 2022, Kasyanov mengatakan kepada AFP bahwa perang kemungkinan berlangsung sekitar dua tahun.
Rusia akan mempertimbangkan penggunaan "semua jenis senjata" jika eksklave Rusia, Kaliningrad, diserang, Kasyanov mengatakan negara-negara Barat tidak seharusnya terintimidasi oleh ancaman militer Putin. "Kesalahan terbesar Barat dan Eropa adalah mereka terlalu takut terhadap Putin. Dia tidak sekuat seperti yang terlihat," kata Kasyanov di hadapan peserta konferensi di Paris. "Putin lebih takut terhadap tombol nuklir daripada banyak orang Eropa," paparnya.
Kasyanov mengatakan Putin ingin orang asing percaya bahwa dirinya adalah "seorang psikopat", padahal menurutnya Putin hanyalah seorang yang "sangat sinis dan kalkulatif". "Dan dia terus menaikkan taruhannya dalam permainan ini," ujarnya. Kasyanov mengatakan peningkatan "serangan hibrida" menunjukkan Putin sedang memprovokasi Barat agar mengambil langkah-langkah yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh Kremlin. "Dia adalah seorang provokator," katanya. "Satu-satunya modus operandi yang dia pahami adalah yang dia pelajari di akademi KGB. Dia sendiri pernah mengatakan hal itu kepada saya."
Namun, Kasyanov mengatakan dirinya tidak percaya Putin sedang mempersiapkan perang terbuka dengan Eropa. "Yang diinginkan Putin adalah penghormatan. Dia ingin memaksa seluruh Eropa untuk memberikannya," kata Kasyanov.