31 Tahun Lalu, N250 Gatotkaca Terbang di Langit Bandung: Mimpi Indonesia yang Sempat Mengudara, Kini Jadi Saksi Bisu di Museum
10 Agustus 1995. Sebuah pesawat lepas landas dari landasan pacu. Bukan pesawat impor, bukan rakitan luar negeri. Ini adalah pesawat yang benar-benar dirancang dan dibangun oleh anak bangsa sendiri. Namanya N250 Gatotkaca.
Di balik layar, sosok B.J. Habibie menatap langit dengan dada membuncah. Mimpi besarnya membawa Indonesia sejajar dengan negara-negara maju dalam industri penerbangan akhirnya terbukti. Gatotkaca mengudara, disaksikan oleh bangsa yang menahan napas penuh harap.
Tapi sejarah punya jalannya sendiri. Tiga tahun kemudian, krisis moneter 1998 menghantam Indonesia. Kebijakan penyesuaian anggaran dari IMF memaksa proyek ambisius ini terhenti. N250 tidak pernah melanjutkan sertifikasi penuh, tidak pernah benar-benar terbang secara komersial. Mimpi besar itu berhenti di tengah jalan bukan karena gagal secara teknologi, tapi karena keadaan di luar kendali.
Sejak Agustus 2020, prototipe Gatotkaca dipindahkan dari hanggar PT Dirgantara Indonesia di Bandung. Kini, ia resmi menjadi koleksi bersejarah di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta. Bukan lagi mengudara di langit, tapi diam di darat sebagai saksi bisu dari sebuah era di mana Indonesia pernah berani bermimpi setinggi itu.
Tapi terpajang di museum bukan berarti akhir dari cerita. Semangat dan warisan teknologi dari N250 tetap hidup. Ia menjadi fondasi dan inspirasi bagi generasi insinyur dirgantara Indonesia setelahnya. Bukti bahwa anak bangsa mampu, dan kemampuan itu tidak pernah benar-benar hilang hanya menunggu momentum untuk terbang lagi.
31 tahun telah berlalu sejak penerbangan perdananya. Dan mimpi itu masih hidup.