Festival Pinisi dan Pertanyaan yang Tak Pernah Selesai: Apa yang Sebenarnya Kita Wariskan?

Dr. Irfan Palippui, M. Hum.

Festival Pinisi lagi ramai disorot, baik oleh kalangan intelektual, seniman, hingga budayawan muda Bulukumba. Buat saya, tak ada yang salah dengan keriuhan itu. Diskusi dan silang pendapat justru dibutuhkan agar apa yang dibayangkan sebagai sebuah festival tidak berhenti jadi agenda rutin tahunan yang hampa rasa. Mungkin begitulah cara kerjanya agar publik kembali menengok ke panggung itu.

Namun di luar segala dalil yang berseliweran, saya lebih tertarik menyoal understanding dan urgensi warisan budaya bagi siapa pun yang menghayatinya: pengetahuan apa yang sebenarnya diwariskan, dan implikasi socio-ekonomi-budaya apa yang benar-benar dirasakan masyarakat bawah?

Secara resmi, UNESCO memang telah menetapkan Pinisi (Art of Boatbuilding in South Sulawesi) sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Pengakuan global ini bukan sekadar merayakan bentuk fisikal kapalnya, melainkan memberi prasasti kehormatan pada kecerdasan intelektual dan teknologi vernakular para Panrita Lopi (maestro pembuat kapal yang memadukan keahlian teknik tanpa gambar kerja, kalkulasi presisi intuitif, hingga kedalaman spiritual-falsafah setempat). 

Namun di titik inilah pertanyaan kritisnya bermula: setelah pengakuan megah UNESCO itu, kecerdasan apa yang sebenarnya telah terkonfigurasi dan termanifestasi dalam generasi kita hari ini?

Apakah etos kepanritaan, yang menjunjung tinggi ketepatan, kejujuran material, keheningan spiritual, serta keselarasan dengan alam, tampak memandu prinsip tata kelola pemerintahan setempat, formulasi pendidikan bahari kita, atau kebijakan pembangunan daerah? Atau sebaliknya, kepanritaan justru menguap, diserap habis oleh pragmatisme birokrasi dan komodifikasi pariwisata yang dangkal?

Coba renungkan secara jujur: selama ini kita sebenarnya diperkenalkan pada nilai kecerdasan bahari yang asli, atau sekadar romantisisme Kapal Motor Pinisi (KMN) berpenampilan eksotis? Apakah ada reproduksi pengetahuan maritim yang riil di ruang-ruang kelas dan kebijakan publik kita, atau semua ini cuma tentang kontribusi pemasukan wisata belaka, baik yang diklaim gagah di pusat kota, maupun yang riuh di pesisir Tana Beru, Bira, dan Ara?

Jika kita mau jujur membaca garis waktu sejarah, Padewakkang jauh lebih historis dan autentik daripada Pinisi. Jauh sebelum James Cook mengklaim menemukan Australia, atau sekitar 70 tahun sebelum armada Eropa pertama berlabuh di sana, armada-armada Padewakkang dari Makassar-Bugis sudah bolak-balik melintasi Laut Flores hingga menerjang badai menuju Arnhem Land (Australia Utara) untuk berdagang teripang sejak abad ke-17. Hubungan maritim lintas benua yang legendaris itu murni ditopang oleh ketangguhan lambung kuno dan keandalan layar tanja segi empat milik Padewakkang.

Faktanya, Pinisi yang kita bangga-banggakan hari ini hanyalah produk hibrida awal abad ke-20 (baru lahir sekitar tahun 1906) yang meniru konfigurasi layar sekunar Barat. Hari ini, Pinisi bahkan makin masif direduksi sekadar menjadi komoditas kapal pesiar mewah (liveaboard) bagi segelintir elite. Nilai historisnya tidak pernah lebih istimewa dari Padewakkang, sang penguasa samudra yang sesungguhnya.

Lantas, jika warisan historis Padewakkang dikesampingkan, dan teknologi Panrita Lopi cuma ditumpuk jadi jargon brosur pariwisata tanpa menjadi etos dalam pengelolaan pemerintahan dan pendidikan, apakah Festival Pinisi sedang merayakan kejayaan kecerdasan bahari kita, atau justru merayakan ketidaktahuan sejarah dan kemandekan intelektual kita sendiri?

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar