Frederik Kalalembang Silaturahmi ke Polda Sulsel, Soroti Ranteballa hingga BBM

Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat Irjen Pol (P) Drs Frederik Kalalembang saat bersilaturahmi ke Mapolda Sulsel diterima Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Dr. Gidion Arif Setyawan bersama sejumlah PJU Polda Sulsel.

MAKASSAR — Anggota DPR RI Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kalalembang melakukan kunjungan silaturahmi dengan Wakapolda Sulawesi Selatan, Brigjen Pol Dr. Gidion Arif Setyawan, di Mapolda Sulsel, Senin (12/10/2026) siang.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat, santai, dan penuh keakraban. Frederik, yang juga merupakan purnawirawan perwira tinggi Polri, datang untuk bersilaturahmi sekaligus memberikan motivasi kepada para juniornya yang kini mengemban tugas di jajaran Polda Sulsel.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut Karo SDM Polda Sulsel Kombes Pol. Adi Ferdian Saputra, S.I.K., M.H., Dirreskrimum Polda Sulsel Kombes Pol. Feby D. P. Hutagalung, S.I.K., M.H., Dirreskrimsus Polda Sulsel Kombes Pol. Taufik Herdiansyah Zeinardi, S.I.K., S.H., M.H., Dirresnarkoba Polda Sulsel Kombes Pol. Sugeng Sudarso, S.I.K., S.H., M.M., dan Dirintelkam Polda Sulsel Kombes Pol. Dulfi Muis, S.H., S.I.K., M.H., M.Han.

Frederik menjelaskan, kunjungan tersebut sejatinya akan diterima langsung oleh Kapolda Sulsel Irjen Pol. Dr. M. Awal Chairuddin, S.I.K., M.H. Namun, karena pada waktu yang bersamaan Kapolda harus menghadiri Commander Wish Kapolri di Jakarta, ia memerintahkan Wakapolda bersama sejumlah pejabat utama untuk menerima Frederik.

Anggota DPR RI Irje Pol (P) Drs Frederik Kalalembang saat bersilaturahmi ke Polda Sulsel diterima oleh Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Dr. Gidion Arif Setyawan.

"Saya datang untuk bersilaturahmi dengan adik-adik saya di kepolisian. Kebetulan Bapak Kapolda Sulsel sedang berada di Jakarta dan ada kegiatan lain, sehingga beliau meminta Wakapolda bersama sejumlah pejabat utama untuk menerima kunjungan ini. Suasananya sangat baik, kami berbincang santai sekaligus saling bertukar pikiran," ujar Frederik.

Menurut Frederik, meskipun kini telah mengemban amanah sebagai anggota DPR RI, kedekatannya dengan institusi Polri tetap terjaga. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk terus memberikan dukungan, motivasi, dan masukan yang membangun bagi kemajuan kepolisian.

"Bagaimanapun, saya pernah menjadi bagian dari keluarga besar Polri. Saya ingin adik-adik saya terus bekerja dengan baik, menjaga integritas, meningkatkan pelayanan, dan semakin dekat dengan masyarakat. Keberhasilan mereka tentu menjadi kebanggaan kita bersama," ungkapnya.

Soroti Ranteballa, Antrean BBM, hingga Geng Motor

Dalam pertemuan tersebut, Frederik turut menyampaikan sejumlah persoalan yang menjadi perhatian masyarakat Sulawesi Selatan. Salah satunya konflik lahan masyarakat adat Ranteballa dengan PT Masmindo Dwi Area di Kabupaten Luwu, yang telah dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi III DPR RI.

Frederik berharap Polda Sulsel dapat segera menindaklanjuti hasil rapat tersebut dengan melakukan pendalaman terhadap persoalan pembebasan lahan, khususnya legalitas Surat Keterangan Tanah (SKT), proses verifikasi, serta pihak-pihak yang menerima pembayaran kompensasi. Ia juga mendorong jajaran kepolisian untuk turun langsung menemui masyarakat, mendengarkan keterangan warga, dan mengumpulkan informasi secara menyeluruh agar penanganan perkara berjalan objektif dan transparan.

Anggota DPR RI Irjen Pol (P) Drs Frederik Kalalembang, berfoto bersama Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Dr. Gidion Arif Setyawan dan PJU Polda Sulsel.

"Harapan saya, Polda Sulsel bisa turun menemui masyarakat dan mengumpulkan keterangan sesuai arahan Komisi III DPR RI. Kalau sudah ada perkembangan penanganan, sebaiknya disampaikan atau diekspos kepada publik. Dengan begitu, masyarakat mengetahui bahwa persoalan mereka benar-benar ditindaklanjuti," jelasnya.

Persoalan lain yang disampaikan Frederik adalah antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU, terutama terkait distribusi BBM bersubsidi. Ia berharap kepolisian meningkatkan pengawasan untuk mengantisipasi praktik penyalahgunaan distribusi yang dapat merugikan masyarakat.

Menurutnya, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan ketika antrean panjang atau kelangkaan terjadi dengan menggunakan pengisian sistem genap-ganjil. Kepolisian bersama instansi terkait perlu memetakan SPBU yang rawan penyimpangan, memantau pola pembelian berulang, serta menelusuri potensi penimbunan maupun distribusi BBM subsidi yang tidak tepat sasaran.

"Pengawasan harus dilakukan dengan baik agar tidak ada niat dan kesempatan untuk melakukan penyimpangan. Kalau ada pola pembelian yang tidak wajar atau indikasi permainan distribusi, harus segera dideteksi. Jangan sampai masyarakat yang berhak justru kesulitan mendapatkan BBM," tegas Frederik.

Ia juga menaruh perhatian terhadap maraknya aksi geng motor dan tawuran yang melibatkan remaja, termasuk anak di bawah umur. Frederik menilai penanganan persoalan tersebut memerlukan pendekatan yang lebih luas, bukan semata-mata melalui penegakan hukum setelah terjadi tindak kekerasan.

Ia mendorong fungsi intelijen kepolisian meningkatkan deteksi dini, termasuk pemantauan terhadap aktivitas terbuka di media sosial yang digunakan kelompok tertentu untuk saling mengajak, memprovokasi, hingga merencanakan aksi kekerasan.

"Anak-anak ini banyak berkomunikasi melalui media sosial. Karena itu, fungsi intelijen dan siber perlu bekerja lebih awal membaca potensi gangguan. Jangan menunggu ada korban baru bergerak. Pencegahan juga harus melibatkan orang tua, sekolah, dan lingkungan mereka," katanya.

Frederik juga mengingatkan bahwa setiap konflik antarkelompok memiliki latar belakang berbeda, mulai dari kenakalan remaja, dendam antarkelompok, hingga persoalan sosial lainnya. Karena itu, diperlukan pemetaan yang lebih spesifik agar langkah pencegahan benar-benar menyentuh akar persoalan.

Minta Perhatian terhadap Tambang Ilegal dan Komunikasi Media

Selain persoalan keamanan, Frederik turut menyoroti laporan aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan aliran Sungai Suso atau Sosu, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu. Aktivitas pertambangan yang dilaporkan menggunakan alat berat jenis ekskavator di sekitar Desa Marinding dan Desa Tumbubara tersebut dikhawatirkan menimbulkan kerusakan lingkungan, terutama karena berada di kawasan aliran sungai yang terhubung dengan wilayah Pegunungan Latimojong.

Frederik meminta Polda Sulsel memberikan perhatian terhadap laporan masyarakat tersebut, termasuk memastikan legalitas kegiatan pertambangan serta menelusuri potensi pelanggaran hukum dan dampak lingkungan yang ditimbulkan.

"Kalau aktivitas pertambangan dilakukan tanpa izin dan merusak aliran sungai, tentu harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai kerusakan lingkungan dibiarkan hingga akhirnya masyarakat yang menanggung akibatnya, termasuk risiko banjir dan kerusakan lahan pertanian," ujarnya.

Kunjungan silaturahmi anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat Irjen Pol (P) Drs Frederik Kalalembang disambut hangat oleh Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Dr. Gidion Arif Setyawan sambil menikmati hidangan kue tradisional.

Di luar berbagai persoalan tersebut, Frederik juga menyampaikan pentingnya memperkuat komunikasi antara Polda Sulsel dan insan pers. Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat, sekaligus menjadi saluran untuk menangkap aspirasi, keluhan, dan persoalan yang berkembang di lapangan.

Ia berharap komunikasi kepolisian dengan media tidak hanya terbatas pada kegiatan seremonial atau pertemuan bersama pimpinan perusahaan pers, tetapi juga menjangkau wartawan yang sehari-hari melakukan peliputan di lapangan.

"Komunikasi dengan media perlu dibuka seluas-luasnya. Bukan hanya dengan pimpinan media, tetapi juga teman-teman wartawan yang bekerja di lapangan. Mereka sering kali lebih awal mengetahui persoalan masyarakat. Kalau komunikasi terbangun dengan baik, itu juga membantu kepolisian dalam melakukan deteksi dini," tuturnya.

Frederik menambahkan, fungsi kehumasan tetap menjadi bagian penting dalam penyampaian informasi resmi. Namun, komunikasi yang baik juga membutuhkan keterbukaan dan respons dari para pejabat serta satuan kerja terkait, sesuai kewenangan masing-masing. Ia menilai berbagai langkah positif dan keberhasilan kepolisian perlu disampaikan secara terbuka agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai kinerja Polda Sulsel.

"Kinerja yang baik harus diketahui masyarakat. Jangan sampai anggota sudah bekerja keras di lapangan, tetapi masyarakat tidak memperoleh informasi yang cukup. Sebaliknya, kritik dan masukan dari media juga harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan," tambahnya.

Wakapolda Sambut Hangat

Sementara itu, Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Gidion Arif Setyawan menyambut hangat kunjungan Frederik Kalalembang. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ajang mempererat hubungan kekeluargaan yang telah terbangun sejak keduanya masih aktif bertugas di kepolisian.

Gidion mengapresiasi perhatian Frederik terhadap jajaran Polda Sulsel. Ia juga mengenal sosok Frederik dengan baik karena keduanya pernah bertugas di Medan, Sumatera Utara. Kedekatan tersebut membuat pertemuan berlangsung akrab, dengan berbagai pengalaman pengabdian di kepolisian turut mewarnai perbincangan.

Frederik pun berharap silaturahmi tersebut dapat terus terjaga dan menjadi ruang komunikasi yang positif dalam mendukung tugas kepolisian, khususnya menjaga keamanan, ketertiban, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri.

"Bagi saya, silaturahmi seperti ini penting. Kita saling mengingatkan, saling memberikan semangat, dan berbagi pengalaman. Tujuannya sama, agar Polri semakin baik dan masyarakat Sulawesi Selatan benar-benar merasakan kehadiran polisi yang melindungi, mengayomi, dan melayani," pungkas Frederik.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar