Menantang Pusat Motorsport Asia Tenggara: Aditif Lokal Tukang Solar Bikin Mesin Thailand Mengaum

Ramli Nur
Jono Lester, pembalap profesional kelas GT3 internasional, mengawasi pengujian dynotest di Thailand.

THAILAND – Ada kebanggaan tersendiri ketika sebuah produk lokal berani menguji nyali di negeri orang, apalagi jika negeri itu adalah Thailand yang selama ini dikenal sebagai episentrum manufaktur dan ekosistem balap mobil terbesar di Asia Tenggara. Di sanalah, Tukang Solar, produsen aditif asal Indonesia, baru saja menorehkan hasil mengejutkan yang tak hanya bikin mesin bertenaga, tetapi juga mencuri perhatian para pegiat motorsport negeri Gajah Putih.

Pengujian performa yang digelar di bengkel kawakan KNT Motorsport ini bukanlah sekadar uji coba biasa. Mereka memakai mesin Dynojet Research berstandar internasional, dengan unit uji yang cukup berani: Toyota FJ Cruiser generasi terbaru. Uniknya, model SUV tangguh ini bahkan belum resmi mengaspal di pasar Indonesia. Kendaraan uji tersebut disokong penuh oleh TOM'S Racing Thailand Corporate, sebuah nama besar yang juga bertindak sebagai mitra teknis dalam pengujian ini.

Agar hasilnya tak diragukan lagi kredibilitasnya, Tukang Solar mendatangkan pengawas independen bertaraf internasional: Jono Lester, pembalap profesional kelas GT3 yang punya jam terbang tinggi di sirkuit dunia. Kehadirannya memastikan bahwa seluruh angka yang keluar dari mesin dyno adalah hasil nyata, bukan sekadar klaim pemasaran di atas kertas.

Lalu, seperti apa kejutan yang dihasilkan oleh paduan Aditif Oli dan Aditif Bensin racikan anak bangsa pada mesin bensin FJ Cruiser tersebut? Angkanya berbicara keras:

Tenaga Maksimum (Max Power) melonjak dari 127,78 Horsepower (HP) menjadi 132,79 HP. Artinya, ada tambahan tenaga sebesar 5,01 HP yang terekam saat laju kendaraan menyentuh 152,43 kph.

Torsi Maksimum (Max Torque) bahkan mengalami peningkatan lebih signifikan, dari 274,04 Nm menjadi 290,94 Nm, alias menguat sebesar 16,90 Nm pada kecepatan 122,09 kph.

Sosok Jono Lester pun dibuat geleng-geleng kepala. Menurutnya, hasil ini berada di luar perkiraan untuk sebuah produk aditif harian. Sensasi peningkatan performa yang ia rasakan, katanya, nyaris setara dengan pengalaman memasang komponen balap (racing part) di ruang bakar mesin.

"Efek instan yang dihasilkan sangat terasa. Ini bukan sekadar angka di layar, tetapi benar-benar terasa saat pedal gas diinjak," ungkap sang pembalap, memberikan 'stempel biru' atas kualitas produk lokal tersebut.

Tukang Solar sendiri saat ini mengantongi empat varian andalan yang menyasar kebutuhan berbeda: Aditif Solar untuk mesin diesel harian, Aditif Bensin untuk pengendara roda empat dan dua, Aditif Oli yang difokuskan untuk mengurangi gesekan internal mesin bensin, serta Aditif Solar Pro varian premium dengan kemampuan membersihkan kerak karbon secara lebih agresif.

Yang patut diapresiasi, seluruh proses panjang ini mulai dari riset mendalam, jalur logistik rumit, hingga negosiasi alot dengan mitra di Thailand dijalankan secara mandiri oleh tim Tukang Solar. Tanpa embel-embel program 'UMKM Mendunia' dari pemerintah, tanpa bergantung pada suntikan dana lembaga negara, mereka murni mengandalkan kemampuan dan keberanian sendiri untuk menembus pasar mancanegara.

Keberhasilan uji coba di Negeri Siam ini ternyata baru awal dari ambisi besar. Pascates ini, Tukang Solar dikabarkan akan memperluas jalinan kerja sama dengan jaringan motorsport Thailand ke skala yang lebih besar. Targetnya jelas: mengintegrasikan produk aditif buatan Indonesia ke dalam program balap resmi di berbagai ajang internasional pada musim mendatang.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar