Aletra L7 Pamer di GIIAS 2026: LMPV Listrik Made in Indonesia atau Sekadar Rebadge dari China?

Aletra pamer purwarupa L7 di GIIAS 2026.

ICE BSD – Aletra kembali pamer purwarupa di GIIAS 2026. Namun di balik klaim "Made in Indonesia", L7 kemungkinan besar adalah rebadge dari MPV listrik Wuling New Energy yang belum resmi mengaspal di negara asalnya.

Baru setahun sejak L8 pertama kali diluncurkan, PT Aletra Mobil Nusantara langsung memajang purwarupa keduanya, Aletra L7, di GIIAS 2026 pada 29 Juli lalu. Kali ini sasarannya segmen Low MPV (LMPV) listrik, kelas yang selama ini nyaris kosong di Indonesia, tapi juga kelas paling ramai persaingannya kalau bicara versi bensin.

Pertanyaannya sederhana: apakah L7 benar produk baru, atau sekadar ganti baju dari mobil yang sudah ada di China?

Spesifikasi Aletra L7: Dimensi Compact, Fitur Berlebih

Berdasarkan data resmi Aletra, L7 punya dimensi:

  • Panjang: 4.550 mm
  • Lebar: 1.705 mm
  • Tinggi: 1.725 mm

Angka ini menempatkan L7 lebih ringkas dibanding L8 yang panjangnya tembus 4.812 mm. Artinya L7 memang diposisikan satu kelas di bawah L8, sesuai dengan istilah yang dipakai Aletra sendiri.

Product Manager Aletra dan SAG, Christo Antyo, menjelaskan alasan di balik pemilihan segmen ini. "MPV tiga baris di Indonesia saat ini paling stabil marketnya," katanya.

Dua Fitur Unggulan: Captain Seat & Sliding Door

Aletra menonjolkan dua fitur premium untuk L7:

  • Konfigurasi Captain Seat di baris kedua — opsional, biasanya hanya ada di MPV kelas menengah ke atas.
  • Automatic Sliding Door — pintu geser elektrik yang jarang ditemukan di LMPV seharga di bawah Rp300 juta.

Kombinasi fitur premium dengan bodi ringkas ini menjadi jualan utama Aletra: harga LMPV, rasa MPV premium.

Dari Mana Asal Aletra L7?

Ada kemiripan L7 dengan model Linxys G200. Linxys sendiri adalah merek kendaraan energi baru yang dikembangkan Wuling New Energy, anak usaha Guangxi Automobile Group, berbeda dari SAIC-GM-Wuling yang selama ini dikenal luas lewat Air ev dan Binguo di Indonesia.

Aletra mengonfirmasi L7 lahir dari kolaborasi dengan Linxys, di mana "produk unggulan Linxys tersebut diadaptasi dan dikembangkan lebih lanjut oleh Aletra." Dengan kata lain: basis mobilnya dari China, penyesuaian dilakukan Aletra di Indonesia. Pertanyaannya, seberapa dalam penyesuaian itu?

Jejak L8: Preseden yang Sudah Terbukti

Pola ini bukan hal baru bagi Aletra. L8, produk pertama mereka, adalah rebadge dari Livan Maple 80V atau dikenal juga sebagai Geely Jiaji di pasar China. Hasil kerja sama dengan Livan Auto, bagian dari Geely Auto Group.

Chairman dan Founder Aletra, Megusdyan Susanto, sempat menepis tudingan sekadar rebranding. "Aletra adalah perusahaan yang sepenuhnya milik Indonesia dengan pemilik yang juga berasal dari Indonesia," tegasnya saat peluncuran L8 di GJAW 2024.

Tapi fakta di lapangan tak terbantahkan: unitnya tetap didatangkan utuh (CBU) dari China. Perubahan yang dilakukan sebatas konversi setir ke kanan, penyesuaian dimensi sekitar 100 mm, penambahan dua kursi (dari lima ke tujuh penumpang), dan kalibrasi suspensi untuk jalan Indonesia.

L8 Cukup Laku, Tapi Persaingan Ketat

Secara komersial, L8 cukup laku. Per Oktober 2025, Aletra mencatat 300 unit pesanan dengan 250 unit sudah terkirim. Harganya dibanderol Rp415 juta untuk varian Short Range (baterai LFP 50,4 kWh, jarak tempuh 415 km) hingga Rp488 juta untuk Long Range, dengan garansi baterai 8 tahun atau 200.000 km.

Namun di rentang harga itu, L8 harus bersaing langsung dengan BYD M6 yang lebih murah dan Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid yang punya jaringan servis jauh lebih luas.

Tantangan L7 di Segmen Paling Ramai

LMPV adalah kelas paling ramai dan paling loyal konsumennya di Indonesia: dikuasai Toyota Avanza/Veloz, Mitsubishi Xpander, dan Suzuki Ertiga, semuanya bermesin bensin dengan harga jauh di bawah Rp300 juta dan jaringan purnajual yang sudah mengakar puluhan tahun.

Masuk ke kelas ini dengan status "listrik dan lebih mahal" adalah tantangan berat, apalagi tanpa nama besar yang dikenal konsumen.

Tantangan kedua datang dari status Aletra sendiri. Selama polanya masih sama impor basis dari China, ubah sedikit, jual sebagai "brand Indonesia" pertanyaan soal transfer teknologi dan nilai tambah lokal akan terus muncul.

Aletra sendiri belum membuka data harga maupun spesifikasi teknis lengkap L7 baterai, jarak tempuh, dan powertrain semuanya masih dirahasiakan hingga peluncuran resmi Oktober 2026, bersamaan dengan peresmian kantor pusat Aletra dan facelift L8. Namun, kemungkinan di angka Rp300 jutaan.

FAQ Seputar Aletra L7

  • Apa itu Aletra L7?

Aletra L7 adalah purwarupa LMPV listrik yang dipamerkan Aletra di GIIAS 2026, diposisikan sebagai model di bawah Aletra L8 dengan konfigurasi tiga baris kursi.

  • Kapan Aletra L7 resmi diluncurkan?

Aletra menargetkan peluncuran resmi pada Oktober 2026, bersamaan dengan peresmian kantor pusat Aletra dan facelift L8.

  • Berapa harga Aletra L7?

Harga belum diumumkan. Kemungkinan di Rp300 jutaan. Sebagai perbandingan, L8 dijual Rp415–488 juta.

  • Apakah Aletra L7 benar rebadge dari mobil China?

Belum dikonfirmasi resmi oleh Aletra, tapi penelusuran media menemukan kemiripan kuat dengan model Wuling New Energy/Linxys yang belum dirilis di China.

  • Siapa produsen di balik Aletra L7?

Aletra menyebut L7 lahir dari kolaborasi dengan Linxys, merek EV milik Wuling New Energy, anak usaha Guangxi Automobile Group.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar