Kontroversi VAR Warnai Kemenangan Argentina atas Mesir: Gol Zico Dianulir, Penalti Salah Ditolak

ATLANTA – Deru sorak 70.000 penonton di stadion Atlanta tiba-tiba berubah menjadi hening yang mencekam. Di satu sisi, para pemain Argentina berlarian merayakan tiket perempatfinal. Di sisi lain, skuad Mesir tertundung lesu, bukan hanya karena kalah, tetapi karena mereka merasa dirampok—bukan oleh pemain lawan, melainkan oleh teknologi.

Kemenangan dramatis Argentina atas Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026 memang menyisakan cerita pahit yang hingga kini masih menjadi perbincangan hangat para pecinta sepak bola dunia. Kontroversi berpusat pada satu nama: VAR. Dan satu keputusan yang membuat seluruh negara Afrika itu berteriak keras: gol Mostafa Zico dianulir.

Pedoman Wasit yang Berbalik Menjadi Boomerang

Kisruh ini terasa semakin panas karena bertolak belakang dengan janji besar yang diumumkan sebelum turnamen bergulir. Kepala Komite Wasit FIFA, legenda wasit Pierluigi Collina, dengan tegas memerintahkan para pengadil lapangan untuk membiarkan kontak fisik wajar demi menjaga tempo dan keindahan pertandingan.

Dan data membuktikan arahan itu berhasil. Rata-rata pelanggaran per pertandingan turun drastis: dari 27 pelanggaran pada 2018, turun ke 25 pada 2022, dan kini hanya 22,6 pelanggaran per laga di Piala Dunia 2026. Sepak bola mengalir lebih deras, peluit lebih jarang berbunyi.

Namun, filosofi "biarkan permainan berjalan" itu pupus sudah saat mata-mata elektronik di ruang VAR justru memainkan peran paling kontroversial sepanjang turnamen.

Kisah 17 Detik yang Mengubah Sejarah

Kejadian bermula saat pemain Mesir, Attia, terlibat kontak fisik dengan pemain Argentina. Jersey tertarik tipis, kaki sedikit menginjak. Secara teknis, itu pelanggaran. Namun, dalam 17 detik setelah insiden itu, bola bergulir, serangan berkembang, dan Mostafa Zico melepaskan tembakan spektakuler yang merobek jala gawang Argentina.

Gol! Para pemain Mesir bersatu padu. Namun, layar besar di stadion menunjukkan tanda yang paling dibenci para pemain: wasit menunjuk telinganya, mengisyaratkan pengecekan VAR.

Hasilnya? Gol Dianulir.

Keputusan ini sontak memicu kemarahan. Sepanjang turnamen, kontak fisik serupa kerap diabaikan. Contoh paling mencolok adalah saat Aleksandar Pavlovic mengenai kepala Pedro Vite dalam proses gol Leroy Sane. Saat itu, tidak ada tinjauan ulang. Gol tetap sah. Lantas, mengapa insiden yang jauh lebih ringan di laga Mesir justru diintervensi?

Salah Terjatuh, VAR Diam Membisu

Jika satu kontroversi belum cukup, Mesir kembali disakiti di babak kedua. Bintang utama mereka, Mohamed Salah, menerobos kotak penalti Argentina dan terjatuh setelah bersenggolan dengan Julian Alvarez. Seluruh tribun Mesir berteriak meminta penalti. Wasit mengabaikan. Lagi-lagi, semua mata tertuju pada VAR.

Namun, kali ini ruang VAR memilih diam seribu bahasa. Tidak ada intervensi.

Mengapa ada perbedaan perlakuan yang mencolok? Jawabannya terletak pada ambang batas penilaian (threshold) . Di dalam kotak penalti, VAR menggunakan standar pembuktian yang jauh lebih tinggi. Wasit di ruang kontrol menilai kontak antara Salah dan Alvarez tidak cukup kuat untuk menjatuhkan pemain Mesir tersebut.

Dengan kata lain, sebuah tarikan jersey tipis di luar kotak dianggap cukup untuk membatalkan gol indah, tetapi sebuah senggolan di kotak penalti dianggap tidak cukup untuk menghadiahkan penalti.

Ironi yang Menghantui

Hasilnya? Argentina lolos. Mesir pulang. Dan dunia sepak bola kini dibanjiri pertanyaan besar: Di mana konsistensi?

Perintah Collina untuk mengurangi pelanggaran dan menjaga tempo justru berbuah petaka ketika teknologi diterapkan dengan standar ganda. Di satu sisi, VAR bisa menguliti insiden 17 detik lalu untuk membatalkan gol. Di sisi lain, VAR menutup mata saat Salah dijatuhkan di kotak terlarang.

Bagi Mesir, ini adalah mimpi buruk yang tak akan pernah terlupakan. Bagi para penggemar sepak bola, ini adalah pengingat bahwa meskipun teknologi hadir untuk membantu keadilan, tangan manusia yang mengoperasikan tombolnya tetaplah membuat kesalahan dan terkadang, ketidakadilan justru lahir dari ruang yang paling dingin di stadion: ruang VAR.

 


Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar