BPOM Pimpin Simulasi Darurat Pangan ASEAN: 1 dari 10 Orang Terancam, 700 Juta Jiwa Jadi Taruhan
JAKARTA – Bayangkan jika sebungkus camilan yang Anda santap mungkin bukan sekadar produk lokal. Bahan bakunya bisa berasal dari satu negara, dikemas di negara lain, dan didistribusikan ke seluruh Asia Tenggara dalam hitungan jam. Dan jika di salah satu mata rantai itu terdapat kontaminasi? Dalam sekejap, sebuah insiden kecil bisa menjelma menjadi krisis kesehatan regional yang mengancam jutaan nyawa.
Inilah realitas pahit yang kini menjadi perhatian serius Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. Taruna Ikrar. Dalam sambutannya pada pembukaan ASEAN Food Safety Emergency Response (FSER) Tabletop Simulation Exercise di Jakarta, Selasa (7/7/2026), ia menegaskan bahwa ancaman keamanan pangan telah bergerak secepat kilat bahkan secepat rantai pasok global itu sendiri.
"Dalam rantai pasok pangan yang semakin saling terhubung, satu insiden keamanan pangan dapat dengan cepat melampaui batas negara, berdampak pada kesehatan masyarakat, mengganggu perdagangan, dan mengikis kepercayaan konsumen," ujar Taruna dengan nada tegas.
Bukan Sekadar Urusan Dapur, Tapi Urusan Hidup dan Mati
Angka berbicara lebih keras dari sekadar kekhawatiran. Setiap tahun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa 1 dari 10 orang di dunia jatuh sakit akibat mengonsumsi pangan tidak aman. Lebih mengerikan lagi, sekitar 420.000 jiwa melayang setiap tahun karena persoalan yang sebenarnya bisa dicegah ini.
Bagi Taruna, angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ini adalah alarm keras bahwa keamanan pangan telah melampaui ranah teknis regulator semata. "Ini adalah investasi strategis dalam kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, dan kepercayaan konsumen," tegasnya.
Simulasi Perang: Uji Ketangguhan Kawasan
Sadar bahwa tidak ada negara yang bisa berdiri sendiri menghadapi ancaman lintas batas, para delegasi dari seluruh negara anggota ASEAN pun dikumpulkan. Selama tiga hari penuh, mereka tidak sekadar duduk manis mendengar paparan. Mereka dihadapkan pada skenario "perang" darurat pangan sebuah simulasi yang dirancang untuk menguji seberapa cepat informasi mengalir, siapa yang berani mengambil keputusan, dan sejauh mana koordinasi regional benar-benar bekerja.
Ada empat fondasi utama yang diuji dalam simulasi ini: deteksi cepat, pertukaran informasi tepat waktu, penilaian risiko berbasis ilmu pengetahuan, dan tindakan regional terkoordinasi. Jika salah satu unsur ini patah, maka sebuah masalah lokal berpotensi membesar menjadi bencana regional sebelum otoritas sempat berkedip.
Jangan Tunggu Darurat Datang!
Pesan yang paling ditekankan Taruna adalah soal kesiapsiagaan. Baginya, membangun sistem tanggap darurat saat krisis sudah terjadi adalah kesalahan fatal.
"Kesiapsiagaan tidak dapat dimulai ketika krisis terjadi. Ia harus dikembangkan sebelumnya melalui sistem yang kuat, koordinasi yang efektif, dan latihan simulasi secara berkala seperti ini," ujarnya.
Latihan ini menjadi ajang "uji coba" untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial: Apakah negara-negara ASEAN mampu berbagi data ancaman pangan dalam hitungan menit? Bisakah para pengambil kebijakan menerjemahkan temuan ilmiah menjadi tindakan nyata yang cepat? Dan yang terpenting, mampukah mereka bergerak serempak ketika ancaman sudah melintasi batas yurisdiksi?
Taruhan untuk 700 Juta Penduduk ASEAN
Di balik ruang simulasi dan dokumen teknis, ada satu angka besar yang menjadi taruhan utama: lebih dari 700 juta penduduk ASEAN. Taruna mengajak seluruh negara anggota menjadikan forum ini sebagai momentum memperkuat solidaritas. Perbedaan kapasitas nasional bukan lagi alasan; yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu menjembatani kesenjangan demi melindungi kesehatan kawasan.
"Marilah kita memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat solidaritas dan komitmen bersama dalam melindungi kesehatan dan kesejahteraan lebih dari 700 juta penduduk di seluruh ASEAN," ajaknya penuh optimisme.
Komitmen ini sejalan dengan kampanye Hari Keamanan Pangan Sedunia tahun ini, "From Burden to Solutions, Safe Food Everywhere". Taruna menutup dengan pandangan jauh ke depan: "Berinvestasi dalam kesiapsiagaan kedaruratan keamanan pangan berarti berinvestasi dalam pembangunan berkelanjutan dan daya saing jangka panjang ASEAN."
Lewat inisiatif yang digagas sejak 2020 ini, Indonesia melalui BPOM menunjukkan bahwa dalam dunia yang saling terhubung, jawaban atas ancaman pangan tidak boleh hanya bersifat lokal. Kecepatan informasi, ketepatan sains, dan solidaritas kawasan itulah resep utama agar satu insiden tidak berkembang menjadi mimpi buruk bagi 700 juta jiwa.