Owi/Butet Beri Semangat: 306 Pebulutangkis Muda Berebut Mimpi di Audisi PB Djarum 2026

Ramli Nur
Foto: dok PB Djarum

PEKANBARU – Sebanyak 306 pebulutangkis muda berbakat memadati GOR Angkasa, Pekanbaru, untuk mengikuti Audisi Umum PB Djarum 2026. Mereka datang bukan sekadar untuk bermain mereka datang untuk mengubah nasib.

Di tengah lapangan, berdirilah para legenda. Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir, duet emas Olimpiade Rio 2016, menjadi bagian dari tim pencari bakat yang bertugas menemukan calon juara masa depan. Bersama mereka, ada 11 legenda bulutangkis lainnya, termasuk Sigit Budiarto, Hendrawan, dan Maria Kristin Yulianti. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas itu adalah simbol bahwa estafet kejayaan bulutangkis Indonesia harus terus berlanjut.

Seleksi yang berlangsung selama lima hari, 8-12 Juli 2026, ini diikuti oleh 208 peserta putra dan 98 peserta putri dari kelompok usia U-11, KU-11, dan KU-12. Angka-angka itu menunjukkan satu hal: bulutangkis masih hidup dan berkembang di seluruh penjuru negeri.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation sekaligus Ketua PB Djarum, Yoppy Rosimin, menegaskan bahwa potensi pemain bulutangkis tidak hanya terbatas di Pulau Jawa.

Setelah beberapa tahun terpusat di Kudus, audisi tahun ini kembali diperluas ke Sumatera dan Sulawesi.

"Kami memberikan kesempatan lebih luas bagi klub-klub dan talenta di daerah lain seperti Pekanbaru dan Makassar. Kami berharap lahir talenta-talenta spesial dan super untuk bergabung dengan PB Djarum," ujar Yoppy dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/7/2026).

Sebuah langkah yang tidak hanya strategis, tetapi juga penuh harapan. Karena di setiap sudut Indonesia, ada anak-anak dengan raket di tangan dan mimpi di mata.

Ketua Tim Pencari Bakat, Sigit Budiarto, menjelaskan bahwa mekanisme seleksi masih sama seperti tahun sebelumnya. Peserta melewati fase screening sesuai kelompok usia, sebelum akhirnya bertarung di fase turnamen. Juara dari setiap kelompok umur berhak melaju langsung ke tahap karantina di Kudus.

Namun, ada satu hal yang membuat seleksi ini istimewa: super tiket. Tim pencari bakat memiliki kewenangan memberikan tiket istimewa kepada peserta yang dinilai memiliki potensi besar, meskipun belum berhasil menjadi juara. Ini adalah jaring pengaman bagi talenta-talenta mentah yang mungkin belum maksimal di turnamen, tetapi memiliki bakat yang menjanjikan.

Sistem super tiket berbeda di tiap kota. Di Pekanbaru dan Makassar, super tiket diberikan kepada juara tiap kelompok usia putra dan putri. Sementara di Kudus, peserta putra bisa mendapatkannya jika lolos semifinal, sedangkan putri untuk para finalis.

Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Muhammad Rasyid Alfaridzie, dari PB Permata Siak, Riau. Di kelompok KU-11 Putra, ia berhasil menang di laga perdana. Meski gugup, Rasyid tidak menyembunyikan ambisinya.

"Saya senang bisa menang meskipun deg-degan. Ini pertama kali ikut Audisi Umum PB Djarum. Lawannya juga bagus. Target saya juara supaya diterima jadi atlet PB Djarum," kata Rasyid dengan mata berbinar.

Ia mengidolakan Kevin Sanjaya, salah satu pebulutangkis ganda putra terbaik Indonesia. Bagi Rasyid, langkah kecil di Pekanbaru ini adalah awal dari perjalanan panjang menuju puncak.

Bagi mereka yang lolos, tantangan belum selesai. Tahap karantina akan digelar pada 14 September - 9 Oktober 2026 di Kudus, selama empat minggu penuh. Ada dua fase eliminasi yang menanti: 28 September dan 10 Oktober. Pengumuman akhir akan dilakukan pada 10 Oktober 2026.

Peserta yang berhasil melewati semua tahapan akan mendapat Djarum Beasiswa Bulutangkis dan resmi bergabung dengan PB Djarum. Sebuah prestasi yang bukan hanya mengubah hidup mereka, tetapi juga berpotensi mengubah masa depan bulutangkis Indonesia.

Di sela-sela seleksi, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir memberikan semangat kepada para peserta. Tontowi, yang akrab disapa Owi, berpesan agar para talenta muda tidak pernah menyerah.

"Mudah-mudahan di Pekanbaru ada bakat yang prospeknya bagus. Yang penting semangat terus saat bertanding, jangan mau kalah. Menang atau kalah yang penting semangat," kata Tontowi.

Liliyana Natsir, atau yang akrab disapa Butet, juga menyoroti antusiasme masyarakat Pekanbaru. Baginya, ini adalah bukti bahwa bulutangkis tetap menjadi olahraga favorit di Indonesia.

"Saya berharap Pekanbaru dan kota-kota lain di Sumatra menemukan bibit-bibit unggul. Semoga ada calon penerus yang masuk PB Djarum dan mewakili Indonesia di kancah internasional," ungkapnya penuh harap.

Dari Pekanbaru hingga Makassar, dari Kudus hingga ke seluruh dunia perjalanan panjang pebulutangkis Indonesia dimulai dari audisi sederhana seperti ini.

Dengan 306 peserta, 11 legenda, dan satu mimpi besar, Audisi Umum PB Djarum 2026 bukan sekadar ajang pencarian bakat. Ini adalah awal dari babak baru dalam sejarah bulutangkis Indonesia. Pertanyaannya, siapakah yang akan menjadi bintang berikutnya?

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar