Travel Aman atau Tidak? Ryanair Klaim Boeing 737 Tetap Teraman, Meski Penumpang Nyaris Tersedot
MENGABARI.COM – Momen mencekam terjadi di langit Eropa. Seorang penumpang Ryanair, Ljubisa Karovic (61), nyaris tersedot keluar dari pesawat setelah jendela di dekat kursinya pecah. Insiden dramatis ini terjadi di tengah penerbangan rute Thessaloniki (Yunani) menuju Memmingen (Jerman), saat serpihan mesin yang meledak menghantam jendela akrilik kabin.
Sang istri, Svetlana Grkovic, bersama dua penumpang lainnya dengan sigap memegang kaki Karovic dan menarik tubuhnya kembali ke dalam kabin sebelum insiden berakibat fatal. Pesawat Boeing 737 NG tersebut akhirnya mengalami penurunan tekanan udara dan melakukan pendaratan darurat.
Meski insiden tersebut tergolong sangat berbahaya dan menggemparkan, manajemen Ryanair memberikan respons yang terbilang percaya diri. Chief Financial Officer (CFO) Ryanair Group, Neil Sorahan, menegaskan bahwa moda transportasi udara khususnya jenis armada yang mereka gunakan tetap menjadi yang paling aman di dunia.
"Secara harfiah telah ada ratusan juta penerbangan dengan pesawat Boeing 737 ini di seluruh dunia sejak pertama kali dibuat," ujar Sorahan dikutip dari The Independent.
Dia menekankan bahwa tipe pesawat tersebut merupakan salah satu yang paling aman yang pernah diproduksi, dengan proses perawatan berkala yang sangat ketat dan awak kabin yang terlatih profesional untuk menghadapi berbagai situasi darurat.
Mengenai ganti rugi, Ryanair mengaku telah menghubungi keluarga korban. Namun, masalah kompensasi masih menunggu hasil penyelidikan menyeluruh.
Chief Executive Officer (CEO) Ryanair, Michael O'Leary, mengungkapkan bahwa indikasi awal menunjukkan adanya benturan benda asing (Foreign Object Debris/FOD) pada bagian mesin saat pesawat lepas landas dari Thessaloniki.
"Indikasi awal menunjukkan bahwa tampaknya ada kerusakan akibat benda asing pada mesin saat lepas landas di Thessaloniki, tetapi kami belum memiliki bukti, kami belum dapat mengatakan itu secara pasti," kata O'Leary.
Ia menambahkan bahwa armada pesawat tersebut berusia 18 tahun dan mesinnya telah menjalani servis serta perbaikan menyeluruh dalam dua tahun terakhir.
Saat ini, Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) bersama tim independen tengah memimpin investigasi atas peristiwa yang terjadi pada 10 Juli tersebut. Laporan awal diperkirakan terbit dalam kurun waktu 28 hari sebelum disusul oleh laporan investigasi mendalam.
Insiden tragis akibat hantaman pecahan mesin hingga merusak jendela kabin ini juga membangkitkan kembali memori publik atas peristiwa serupa yang pernah menimpa maskapai Southwest Airlines pada tahun 2016 dan 2018.
Sebuah peristiwa yang mengingatkan bahwa meskipun udara adalah moda transportasi teraman, kejadian tak terduga tetap bisa terjadi.