Emas Bertahan di US$ 4.047 di Tengah Guncangan Utang RI dan Kabar Baik Masela
JAKARTA — Dunia keuangan sedang menyaksikan pertarungan sengit antara harapan dan ketakutan. Di satu sudut, harga emas berhasil selamat dari jurang kejatuhan setelah data inflasi produsen AS menunjukkan pendinginan. Namun di sudut lain, bayang-bayang suku bunga tinggi dan konflik Timur Tengah masih membayangi, membuat logam mulia ini tak bisa bernapas lega.
Harga emas di pasar spot memang berhasil memangkas kerugian dan ditutup di US$ 4.047,27 per ounce, setelah sebelumnya sempat terpeleset hampir 1%. Namun, sentimen negatif masih menggantung di udara seperti badai yang siap menerjang kapan saja. Pelaku pasar masih waspada, karena meskipun PPI AS turun 0,3%, ancaman inflasi jangka panjang dan kebijakan moneter yang ketat tetap menjadi mimpi buruk yang tak kunjung usai.
Di tengah hiruk-pikuk pasar global, tiga peristiwa ekonomi besar justru menjadi sorotan utama publik pada Jumat ini:
Pertama, perjuangan emas untuk bertahan di atas US$ 4.000. Analis masih gamang memberikan prediksi cerah, karena ketegangan di Timur Tengah bisa meledak kapan saja dan mengacaukan perhitungan.
Kedua, utang Indonesia yang menembus Rp 8.000 triliun. Menteri Keuangan Purbaya punya pesan tegas: jangan lihat angka nominalnya, tapi bandingkan dengan skala ekonomi kita!
Ketiga, kabar menggembirakan dari Blok Masela. Setelah 28 tahun tertahan dan melewati 6 presiden, proyek LNG raksasa ini akhirnya mulai digarap di era Prabowo. Sebuah babak baru yang ditunggu-tunggu.







