Membumikan Syekh Yusuf: Wildan Noumeru Ungkap Tantangan Menerjemahkan Sejarah Spiritual ke Layar Sinema

Biritta Rishaka

MAKASSAR — Bagaimana menceritakan perjalanan seorang tokoh sufi yang melintasi berbagai benua ke dalam medium visual berdurasi 67 menit? Bagi Wildan Noumeru, sutradara film dokumenter Syekh Yusuf, jawabannya dimulai dengan satu premis utama: "membumikan" sang ulama.

Berbicara dalam Focus Group Discussion (FGD) "Dari Pengasingan ke Layar: Syekh Yusuf, Film Dokumenter, dan Diplomasi Budaya" yang dihadiri oleh deretan akademisi dan budayawan, Wildan membagikan proses kreatif dan tantangan di balik layar pembuatan dokumenter tokoh besar tersebut.

"Gagasan sederhananya adalah bagaimana film ini mampu bertutur tanpa hanya melihat Syekh Yusuf sebagai tokoh mistis yang berada 'di langit'. Kami ingin mendudukkannya di bumi, sebagai manusia yang melakukan perjalanan keilmuan yang luar biasa," ungkap Wildan membuka paparannya.

Langkah ini diambil agar narasi tentang Syekh Yusuf dapat menjangkau dan menginspirasi generasi muda saat ini, melampaui sekat-sekat kultus yang selama ini mungkin membuatnya terasa berjarak.

Lebih Besar dari Premis Awal

Dalam proses riset yang dilakukan bersama tim: ada Irfan Palippui (termasuk Hasrul Hendrawan dan Arief Rate) Wildan menemukan bahwa sosok Syekh Yusuf jauh melampaui ekspektasi awal mereka. Syekh Yusuf bukan sekadar ulama, melainkan seorang intelektual, diplomat, mursyid, hingga ahli strategi.

"Di Banten, hal yang menarik adalah saat kami bertanya kepada beberapa tokoh hingga imam masjid, posisi beliau justru hanya selalu di tempatkan sebagai panglima perang dan Kadhi.Peran tentang intelektualitas dan kedalaman lainnya yang memang jarang terekspos," tambahnya. Fakta bahwa Syekh Yusuf hidup di banyak ruang sejarah (Gowa, Banten, Nusantara, Timur Tengah, hingga Afrika Selatan) menuntut kejelian tim untuk merangkai kepingan-kepingan tersebut menjadi satu pengalaman visual yang utuh.

Tantangan Visualisasi Tasawuf dan Imajinasi Sinema

Secara sinematik, Wildan mengakui adanya tantangan besar dalam memvisualisasikan perjalanan spiritual. "Film ini membahas hal-hal yang sangat sufistik, tasawuf, perjalanan batin, kewibawaan, dan pencarian ilmu. Bagaimana memvisualkan hal-hal yang tidak berwujud itu? Itu menjadi tantangan utama kami di awal," tuturnya.

Di sela-sela pemaparannya, Wildan juga melemparkan sebuah gagasan liar yang menurutnya sangat potensial untuk diangkat menjadi film fiksi di masa depan. Ia menyoroti momen dramatis perjalanan pengasingan Syekh Yusuf dari Ceylon (Sri Lanka) ke Cape Town (Afrika Selatan).

Terdapat narasi bahwa dalam kapal yang memuat sekitar 150 orang, keteladanan laku dan sifat Syekh Yusuf membuat ratusan orang di luar pengikut utamanya akhirnya memeluk Islam. "Fase perjalanan di atas kapal itu saja bisa menjadi sebuah film tersendiri untuk membongkar pandangan Syekh Yusuf tentang hidup," cetusnya.

Film sebagai Alat Diplomasi yang Lebih Tajam

Bagi Wildan, proyek ini juga merupakan kelanjutan dari ketertarikan pribadinya pada narasi diaspora Sulawesi Selatan, menyusul karya-karyanya sebelumnya tentang diaspora ke Australia, Thailand, dan Prancis.

Lebih jauh, ia meyakini bahwa medium sinema memiliki daya tembus yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar retorika politik.

"Jika pemerintah ingin memperkuat diplomasi dan hubungan budaya dengan Afrika Selatan, menurut saya film ini jauh lebih efektif daripada pidato diplomatik. Film membangunkan memori kolektif kita tentang banyak hal," tegas Wildan.

Sebagai pembuat film, Wildan menyadari bahwa sejarah selalu menyediakan ruang bagi banyak pembacaan. Tugasnya bukanlah untuk mengakhiri perdebatan sejarah, melainkan membangun narasi yang bertanggung jawab berbasis riset.

"Jika setelah menonton film ini banyak orang yang ingin membaca, mencari tahu, atau berdialog lebih jauh seperti yang kita lakukan hari ini, maka setidaknya film ini telah menjalankan salah satu fungsinya," tutup Wildan.

 

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar