Melampaui Romantisasi Sejarah: Arif Rate Bedah Jejaring Transnasional Syekh Yusuf Sebagai Kekuatan Diplomasi Budaya
MAKASSAR — Sosok Syekh Yusuf Al-Makassari selama ini kerap lekat dengan glorifikasi sejarah dan kultus di tengah masyarakat. Namun, melalui kacamata diplomasi dan geopolitik, sang ulama besar sejatinya adalah aktor utama pencipta soft power (daya persuasi) dan diplomasi publik yang melampaui batas-batas negara bangsa (nation-state).
Gagasan ini mengemuka dalam Diskusi Terpumpun (FGD) bertajuk "Dari Pengasingan ke Layar: Syekh Yusuf, Film Dokumenter, dan Diplomasi Budaya" yang berlangsung di Cafe Macca, Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS), Kamis (16/7/2026).
Tampil sebagai pemantik diskusi, seniman tutur (passindrili) Arief Rahman Daeng Rate (Arif Rate) mengajak para penyusun buku dan pegiat sinema untuk melihat Syekh Yusuf dari perspektif yang lebih segar, tidak sekadar mengandalkan narasi tradisional.
Jejaring Transnasional: Melampaui Diplomasi Tradisional
Menurut Arif, kerangka berpikir mengenai soft power—meminjam pandangan dari ilmuwan Joseph Nye maupun Brian Hocking—sangat relevan untuk membedah kiprah Syekh Yusuf. Pengasingan Syekh Yusuf ke berbagai wilayah tidak sekadar menjadi hukuman politik kolonial, tetapi justru melahirkan jejaring intelektual dan spiritual berskala global.
"Pembuangan atau pengasingannya tidak serta-merta bisa dikaitkan hanya dengan identitas satu kesultanan, baik Gowa maupun Banten. Yang beliau lakukan kemudian adalah membangun pola diplomasi yang cenderung modern," ujar Arif.
Jaringan tarekat, murid lintas negara, hingga diaspora budak yang berinteraksi dengan Syekh Yusuf berhasil membentuk jejaring transnasional. Di Afrika Selatan, misalnya, murid-muridnya berasal dari latar belakang yang sangat kompleks, mulai dari India, Angola, Mozambik, hingga suku asli Khoisan.
Ceylon (Sri Lanka): Episentrum Intelektual yang Terlupakan
Dalam pemaparannya, Arif memberikan catatan khusus terkait pengasingan Syekh Yusuf di Ceylon (Sri Lanka). Menurutnya, fase ini masih sangat minim digali padahal memiliki signifikansi historis yang krusial.
"Fase intelektual, pergulatan batin, dan konteks geopolitis Syekh Yusuf justru mencapai puncaknya saat di Ceylon. Karya-karya besar seperti An-Nafhat as-Saylaniyah hingga Sirr al-Asrar dilahirkan di sana, bukan di Cape Town," ungkapnya.
Di Ceylon pula, pengaruh Syekh Yusuf menembus dinding penguasa. Catatan sejarah menyebutkan bahwa Sultan Aurangzeb dari Kekaisaran Mughal di India menganggap Syekh Yusuf sebagai gurunya, bahkan sempat memberikan peringatan keras kepada pihak Belanda agar memperlakukan sang ulama dengan baik.
Dari Tradisi Lisan hingga "Soft Power" di Afrika Selatan
Menyoroti jejak di Cape Town, Arif memaparkan bagaimana nilai-nilai Syekh Yusuf tetap hidup, salah satunya melalui Keramat Festival yang rutin dirayakan umat muslim setempat setiap bulan April, bertepatan dengan momentum libur Paskah. Hal ini berawal dari strategi kultural para budak dan pengikutnya di masa lalu yang hanya memiliki waktu libur saat perayaan keagamaan Belanda.
Lebih jauh, pendekatan egaliter Syekh Yusuf di Cape Town menjadi kunci penerimaan masyarakat. Di saat gereja-gereja Belanda sangat diskriminatif terhadap orang kulit hitam, Syekh Yusuf justru merangkul kaum budak dan masyarakat lokal, membuktikan keluhuran pandangannya mengenai kemajemukan manusia.
Di akhir paparannya, Arif melemparkan pertanyaan kritis sebagai tantangan bagi tim penyusun buku dan film dokumenter. Ia menekankan bahwa warisan sejarah dan film dokumenter tidak secara otomatis menjadi alat diplomasi publik tanpa adanya upaya untuk mengaktifkan jaringan dan membangun makna bersama lintas aktor.
"Pertanyaannya, apakah memori tentang Syekh Yusuf ini masih hidup atau hanya tersimpan dalam arsip sejarah? Kita harus memastikan bahwa narasi ini tidak berhenti sekadar pada romantisme sejarah atau ajang mencari berkah semata," tegas Arif.
FGD ini diharapkan mampu memperkaya perspektif penyusunan buku yang akan mendampingi film dokumenter tentang Syekh Yusuf, guna merumuskan langkah konkret dalam menjadikan narasi sang ulama sebagai energi diplomasi kebudayaan Indonesia di masa depan.








