Rp 65 Triliun, Nafas Kehidupan bagi 14,9 Juta UMKM
YOGYAKARTA — Angka Rp 65 triliun mungkin terasa abstrak bagi sebagian orang. Tapi bagi 14,9 juta pelaku UMKM di seluruh Indonesia, angka itu adalah nafas kehidupan sebuah uluran tangan yang mengubah nasib mereka yang selama ini tak tersentuh bank.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dengan semangat membara, mengumumkan kabar ini di hadapan ribuan pelaku usaha yang memadati Alun-Alun Kidul Yogyakarta, Kamis sore (16/7). Melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP), pemerintah telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 65 triliun sejak 2017 hingga Juni 2026.
"Indonesia memiliki sekitar 66,5 juta pelaku UMKM. Lebih dari 67% di antaranya adalah usaha mikro, yang menyumbang lebih dari 60% PDB dan menyerap hampir 117 juta tenaga kerja," ujar Purbaya dengan suara lantang.
Namun, di balik kontribusi raksasa itu, ada realita pahit yang tak bisa dipungkiri. Usaha mikro dan ultra mikro adalah kelompok paling cepat terdampak ketika badai ekonomi menerjang.
"Ketika harga bahan baku naik, permintaan turun, distribusi terganggu, atau ada kebutuhan mendadak, mereka tidak punya bantalan yang tebal," tuturnya.
Pemerintah kini menurunkan bunga pinjaman dari 22,5% menjadi hanya 8%. Sebuah langkah yang membuat pelaku usaha mikro bisa bernapas lega.
Purbaya juga mengingatkan bahwa meski ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% (tertinggi sejak 2014) dan Yogyakarta bahkan lebih tinggi di 5,8%, masyarakat tidak peduli dengan statistik rumit itu. "Mereka tanyanya: warung ramai enggak? hasil tani ada pasarnya enggak? penghasilan cukup atau nggak," katanya.
Itulah mengapa APBN 2026 diarahkan untuk mendukung delapan agenda prioritas nasional, termasuk pemberdayaan UMKM.







