Bangkit dari Badai PHK, Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansi dan Rekrut Pekerja
JAKARTA – Kabar baik datang dari sektor manufaktur. Industri manufaktur Indonesia mulai kembali merekrut tenaga kerja pada Juli 2026, mengakhiri empat bulan berturut-turut pengurangan karyawan. Perubahan ini terjadi seiring membaiknya aktivitas manufaktur yang kembali masuk ke zona ekspansi, dengan Purchasing Managers' Index (PMI) mencatatkan angka 50,2.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menyebut kembalinya perekrutan tenaga kerja sebagai salah satu sinyal positif pemulihan sektor manufaktur.
"Perusahaan mulai kembali merekrut tenaga kerja, mengakhiri empat bulan berturut-turut pengurangan karyawan. Di saat yang sama, tekanan terhadap kapasitas produksi mulai meningkat, tercermin dari akumulasi pesanan yang belum terselesaikan dan menjadi yang tertinggi sejak November lalu," ujar Bhatti dalam laporan S&P Global Indonesia Manufacturing PMI, Senin (3/8/2026).
Laporan mencatat bahwa perusahaan manufaktur mulai menambah jumlah pekerja untuk pertama kalinya sejak Maret 2026. Perekrutan dilakukan seiring meningkatnya aktivitas produksi dan bertambahnya pesanan yang belum terselesaikan, sehingga kapasitas operasional mulai mendapat tekanan.
Meski demikian, penambahan tenaga kerja masih berlangsung secara terbatas. Pelaku industri dinilai tetap berhati-hati karena pemulihan permintaan belum sepenuhnya merata, sementara tekanan biaya produksi masih membayangi kegiatan usaha.
Perbaikan di pasar tenaga kerja berlangsung bersamaan dengan membaiknya kondisi manufaktur secara keseluruhan. PMI manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli setelah sebelumnya berada di angka 46,9 pada Juni. Ini menandai sektor manufaktur kembali memasuki fase ekspansi setelah empat bulan berada di zona kontraksi.
Di sisi lain, pesanan baru mulai stabil setelah mengalami penurunan pada bulan sebelumnya. Sejumlah perusahaan melaporkan meningkatnya kepercayaan pelanggan dan mulai bergulirnya proyek-proyek baru.
Namun, pesanan ekspor masih mencatat penurunan untuk bulan kelima berturut-turut, sehingga pemulihan sektor manufaktur dinilai belum sepenuhnya merata.
Bhatti menambahkan bahwa optimisme pelaku industri terhadap prospek usaha dalam 12 bulan mendatang juga meningkat ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Menurutnya, perusahaan berharap pertumbuhan penjualan akan terus membaik seiring meredanya tekanan harga dan meningkatnya kepercayaan pelanggan.
"Optimisme pelaku usaha meningkat ke level tertinggi dalam enam bulan, didukung harapan bahwa pertumbuhan penjualan dan kepercayaan pelanggan akan terus membaik. Sejumlah produsen juga berharap tekanan harga semakin mereda sehingga dapat mendukung pertumbuhan pada bulan-bulan mendatang," ujarnya.
Dengan PMI kembali ke zona ekspansi, perekrutan mulai menggeliat, dan optimisme meningkat, sektor manufaktur Indonesia tampaknya mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang menggembirakan.