BEI: Kapitalisasi Pasar Anjlok 1,32%, IHSG Terperosok ke Level 6.541

Pasar saham RI ambruk pada pekan ini. [/Alfian Winanto]

JAKARTA — Pekan kelabu menyelimuti bursa saham Indonesia. Sepanjang periode 7–11 September 2026, sejumlah indikator perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak bergerak ke zona negatif, meninggalkan jejak merah yang signifikan.

Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Elsierra Putri Yosita, mengungkapkan bahwa pelemahan ini tercermin dari turunnya kapitalisasi pasar hingga merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

"Data perdagangan saham di BEI selama periode 7–11 September 2026 ditutup pada zona negatif," ujar Elsierra dalam siaran pers di Jakarta, Minggu (13/9/2026).

Kapitalisasi pasar BEI anjlok 1,32 persen menjadi Rp11.446 triliun, turun dari posisi pekan sebelumnya yang masih berada di Rp11.599 triliun. Penurunan ini mencerminkan tekanan jual yang cukup besar di hampir seluruh sektor.

Senada dengan kapitalisasi pasar, IHSG juga terpuruk. Indeks acuan pasar modal Indonesia itu merosot 1,43 persen dan ditutup di level 6.541, jauh dari posisi pekan sebelumnya yang berada di 6.636. Tekanan jual yang datang bertubi-tubi membuat IHSG sulit bangkit sepanjang pekan.

Pelemahan tidak hanya terjadi pada indeks dan kapitalisasi. Aktivitas transaksi harian pun menunjukkan penurunan tajam. Rata-rata nilai transaksi harian BEI turun 14,88 persen menjadi Rp16,36 triliun, dari sebelumnya Rp19,22 triliun.

Dari sisi volume, rata-rata transaksi harian turun 26,34 persen menjadi 36,09 miliar lembar saham, dari sebelumnya 48,99 miliar lembar. Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian turun 7,07 persen menjadi 2,22 juta kali transaksi, dari 2,39 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.

Tekanan tambahan datang dari investor asing. Pada perdagangan terakhir pekan tersebut, investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp690,19 miliar. Sepanjang tahun 2026, akumulasi net sell investor asing telah mencapai Rp71,41 triliun, menandakan bahwa arus modal keluar masih menjadi tantangan bagi pasar saham domestik.

Dengan seluruh indikator utama bergerak negatif, pelaku pasar diharapkan tetap mencermati dinamika global dan domestik yang dapat mempengaruhi pergerakan pasar. Meski demikian, BEI terus memastikan bahwa sistem perdagangan berjalan normal dan transparan.

Pekan ini menjadi pengingat bahwa pasar modal tidak pernah lepas dari gejolak. Namun, bagi investor jangka panjang, koreksi sering kali menghadirkan peluang. Yang terpenting adalah tetap tenang dan mengambil keputusan berbasis data.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar