Rupiah Tembus Rp17.903 per Dolar AS: Yield US Treasury 10 Tahun Sentuh 5,11%, BI Siapkan Berbagai Instrumen
JAKARTA — Tekanan terhadap rupiah belum juga mereda. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh Rp17.903 per dolar AS pada perdagangan Kamis (24/9/2026), sehari setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.
Pergantian pucuk otoritas moneter dan fiskal rupanya belum mampu sepenuhnya meredam tekanan. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Menteri Keuangan Suahasil Nazara sama-sama membawa agenda menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar. Namun, pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi sentimen global.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pelemahan rupiah dipicu ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat di tengah kekhawatiran terhadap inflasi global dan prospek fiskal.
Kondisi tersebut mendorong imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun naik hingga 5,11 persen level tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield aset AS membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kembali menguat.
"Pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal," ujar Erwin dalam keterangan tertulis, Kamis (24/9/2026).
Tekanan juga datang dari meningkatnya ketidakpastian konflik di Timur Tengah. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak membuat harga minyak mentah Brent kembali menembus US$100 per barel.
Dari dalam negeri, permintaan dolar AS ikut meningkat karena importir mulai memenuhi kebutuhan valuta asing menjelang akhir kuartal III 2026. Pada saat yang sama, pasar masih menghadapi arus keluar modal portofolio dari aset-aset di negara berkembang.
Situasi ini menjadi tantangan bagi Destry yang baru memimpin BI. Bank sentral sebelumnya menegaskan akan mengoptimalkan instrumen moneter untuk menjaga stabilitas rupiah, termasuk memperkuat insentif untuk menarik investasi portofolio asing serta memperdalam pasar uang dan valuta asing.
Di sisi fiskal, Suahasil juga menghadapi tantangan memulihkan kepercayaan investor setelah menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan. Suahasil sebelumnya menyebut arus modal asing mulai kembali masuk ke Indonesia melalui SBN dan SRBI, dengan akumulasi mencapai Rp140,7 triliun hingga 14 September 2026.
Meski demikian, aliran modal tersebut belum sepenuhnya menghilangkan tekanan terhadap rupiah. BI mencatat pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan penguatan 0,46 persen secara quarter-to-date.
Untuk menjaga stabilitas, BI memperkuat operasi moneter pro-market dan menggunakan sejumlah instrumen:
- Transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore
- Spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik
- Pembelian SBN di pasar sekunder
Cadangan devisa juga menjadi salah satu bantalan. Posisi cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.