Semangat Kebinekaan dari Makassar: Kisah Mahasiswa Lintas Agama dan Tenaga Kependidikan dalam Sayembara Lagu Iqra

Biritta Rishaka
Adel dan Juan

MAKASSAR – Gaung Sayembara Lagu Iqra Pemanasan Tahap II yang digagas oleh Teras Kebinekaan (Hypatia Award) sukses menarik antusiasme berbagai elemen masyarakat dari berbagai daerah, tidak terkecuali dari Kota Makassar. Perlombaan yang membawa misi menghidupkan kembali semangat literasi, nalar kritis, dan cinta ilmu pengetahuan ini tidak hanya menjadi wadah kreativitas musik, tetapi juga ruang perjumpaan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Salah satu sorotan menarik datang dari duet Adelia dan Juan, sepasang mahasiswa asal Universitas Negeri Makassar (UNM) yang memilih berkolaborasi untuk menyuarakan kedamaian. Kolaborasi ini menjadi sangat unik karena latar belakang mereka yang berbeda. Juan sendiri diketahui tidak beragama Islam. Namun, perbedaan keyakinan tersebut sama sekali bukan penghalang baginya untuk mengaransemen dan melantunkan syair yang sarat akan nilai-nilai Islami tersebut.

Bagi Juan, musik dan nilai kebaikan bersifat melintasi sekat-sekat formalitas agama. "Lagu itu tidak beragama, tetapi orang beragama wajib memiliki nilai-nilai kemanusiaan, sehingga mampu melihat perbedaan sebagai berkah," ungkap Juan mengenai alasan keikutsertaannya. Bersama Adelia, mereka menyelaraskan lirik yang disediakan panitia menjadi sebuah karya seni yang menyentuh hati dan merepresentasikan keindahan kebinekaan Indonesia (Klik untuk melihat Adelia dan Juan menyanyi).

Selain dari kalangan mahasiswa, virus perdamaian dari sayembara ini juga menjangkau dunia profesional pendidikan di Makassar. Kiki, seorang tenaga kependidikan dari Universitas Fajar (UNIFA)—salah satu kampus swasta ternama di Makassar, turut mendaftarkan diri dalam kompetisi ini.

Berbeda dengan motivasi musisi pada umumnya, Kiki mengaku langkahnya murni digerakkan oleh tema kebinekaan yang diusung oleh Teras Kebinekaan (klik untuk mendengar suara merdu Kiki di sini). Menurutnya, pesan yang terkandung di dalam proyek ini memiliki kekuatan magis tersendiri. "Lagu ini mengandung nilai universalisme dan mudah memengaruhi dengan menyentuh pendengar saat dilantunkan," ujar Kiki menjelaskan alasannya ikut serta dalam sayembara.

Sayembara Lagu Iqra Pemanasan Tahap II ini memang mewajibkan peserta menggunakan syair lagu yang telah ditentukan dengan mempertahankan kata kunci krusial seperti Rahmatan, Iqra, Ukhuwah, Pancasila, dan Islam. Melalui karya-karya yang dikirimkan oleh para peserta seperti Adelia, Juan, dan Kiki, nilai Ukhuwah Insaniyah (persaudaraan universal antarmanusia) dan Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa) benar-benar terwujud secara nyata dari Indonesia Timur.

Saat ini, seluruh karya peserta tengah melewati proses penilaian berbasis view murni di kanal YouTube resmi Teras Kebinekaan setelah melalui fase cleansing data demi menjaga sportivitas kompetisi. 

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar