Mengencingi Kuburan Homer: Kontroversi Casting The Odyssey Nolan Picu Perang Budaya Sebelum Kamera Berputar
WASHINGTON - Belum satu adegan pun ditayangkan, tetapi Christopher Nolan sudah berhasil memicu salah satu perdebatan budaya paling sengit tahun ini. Adaptasi epiknya atas The Odyssey, puisi kuno berusia hampir 2.800 tahun, justru menjadi medan pertempuran modern tentang ras, identitas, gender, dan pertanyaan abadi: Siapa yang berhak menceritakan kembali kisah tertua umat manusia?
Kontroversi bermula dari keputusan casting yang berani. Nolan mengumumkan bahwa Helen dari Troy, yang selama berabad-abad digambarkan sebagai simbol kecantikan sempurna, "berlengan putih" dan "seperti dewa" dalam syair Homer akan diperankan oleh Lupita Nyong'o, aktris kulit hitam peraih Oscar. Reaksi pun meledak.
Elon Musk, pemilik X, dengan pedas menuduh Nolan "mengencingi kuburan Homer" dan menyebutnya "rasis anti-kulit putih". Komentator sayap kanan Matt Walsh bahkan melontarkan pernyataan kontroversial: "Tidak seorang pun di planet ini yang benar-benar berpikir bahwa Lupita Nyong'o adalah 'wanita tercantik di dunia'." Namun para cendekiawan klasik dengan cepat merespons. Homer, jelas mereka, tidak pernah secara eksplisit menyebut Helen sebagai wanita tercantik di dunia. Ia hanya menyapanya dengan julukan "berlengan putih", "berambut indah", atau "putri Zeus". Gagasan tentang kecantikan mutlak Helen baru muncul kemudian, melalui mitos Penghakiman Paris. Dengan kata lain, kemarahan para kritikus tampaknya berdiri di atas fondasi yang sangat rapuh.
Penulis dan sarjana klasik Daniel Mendelsohn pun ikut angkat suara. "Matt Damon sama sekali tidak terlihat seperti orang Yunani, tetapi tidak pernah ada yang protes," sindirnya. "Lagipula, Helen menetas dari telur angsa. Seberapa literalkah kita sebenarnya?"
Namun kontroversi tak berhenti di warna kulit. Pemilihan Elliot Page, aktor transgender yang dulu dikenal sebagai Ellen Page untuk memerankan seorang prajurit Yunani memicu kemarahan dari kalangan konservatif. Pembawa acara Newsmax, Rob Finnerty, meledak: "Kita beralih dari Brad Pitt ke seorang perempuan berpakaian laki-laki, tinggi 5'1" dan berat 118 pon. Itulah prajurit terhebat dalam sejarah bagi kaum kiri?" Sementara itu, kehadiran rapper Travis Scott sebagai seorang penyair membuat Nolan harus menjelaskan bahwa itu adalah "isyarat terhadap tradisi puisi lisan, yang analog dengan rap".
Bahkan kostum dan properti tak luput dari sorotan. Baju zirah Agamemnon disebut mirip kostum Batman. Perahu Odysseus dikritik karena terlihat seperti "kapal Viking". Dialog pun jadi sasaran, ketika Tom Holland mengucapkan "Ayahku akan pulang", banyak yang menilai nadanya terlalu santai dan modern untuk sebuah epos kuno.
Namun yang paling menarik, protes justru datang dari tanah kelahiran kisah itu sendiri. Sejumlah orang Yunani merasa diabaikan. "Hollywood kembali meninggalkan Yunani dari mitologi dan epos dasar kita," tulis seorang pengamat. Jurnalis Chris Cotonou mempertanyakan, "Jika film ini bertujuan mewakili dunia, bukankah sudah seharusnya ada tempat bagi orang-orang yang paling otentik terhubung dengan sumbernya?"
Namun para cendekiawan mengingatkan bahwa The Odyssey telah diinterpretasikan ulang selama berabad-abad oleh berbagai budaya, bahasa, dan tradisi artistik. Reinterpretasi adalah bagian inti dari warisannya. Bahwa Hollywood, dengan segala kekurangannya, kembali mengangkat kisah ini justru mungkin menjadi bukti bahwa kisah Odysseus masih hidup dan masih mampu memecah belah, sekaligus menyatukan, peradaban modern.










