Diplomasi di Tengah Genting! AS Minta Iran Akui Kesalahan dan Buka Selat Hormuz
TEHERAN — Di balik gemuruh tembakan dan ketegangan yang menyelimuti Selat Hormuz, sebuah drama diplomasi besar tengah berlangsung. Amerika Serikat secara tegas meminta Iran untuk mengakui secara terbuka bahwa penembakan kapal-kapal komersial adalah sebuah kesalahan dan berjanji untuk menghentikan aksi tersebut sebagai syarat utama dalam negosiasi kritis yang dijadwalkan berlangsung di Oman, Sabtu (11/7/2026).
Menurut laporan media AS yang mengutip pejabat anonim, Teheran secara pribadi telah mengakui kepada penasihat Presiden Donald Trump bahwa penembakan tersebut adalah sebuah kekeliruan. Namun, Iran dilaporkan menyalahkan "kelompok internal yang nakal" atas insiden yang memicu kemarahan internasional tersebut.
Presiden AS Donald Trump, dalam unggahannya di Truth Social, mengonfirmasi bahwa kedua pihak telah sepakat untuk melanjutkan pembicaraan meskipun terjadi pertempuran sengit di Selat Hormuz pekan ini. Namun, ia menegaskan bahwa gencatan senjata yang sebelumnya disepakati telah berakhir.
"Republik Islam Iran telah meminta kami untuk melanjutkan 'pembicaraan.' Kami telah menyetujuinya, tetapi Amerika Serikat telah menyatakan kepada mereka, dengan tegas, bahwa Gencatan Senjata TELAH BERAKHIR!" tulis Trump.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, membantah tuduhan tersebut. Ia menyatakan bahwa negaranya telah "menepati janjinya" tentang gencatan senjata dan menuduh AS sebagai pihak yang melanggar kesepakatan.
Pada bulan Juni, AS dan Iran memang telah menandatangani perjanjian gencatan senjata di mana Iran berjanji memberikan jalur aman bagi kapal-kapal komersial. Namun, insiden penembakan pekan ini mengguncang kepercayaan yang telah dibangun dengan susah payah.
Negosiasi pada Sabtu ini akan dipimpin oleh jajaran petinggi AS, termasuk:
- JD Vance — Wakil Presiden AS
- Marco Rubio — Menteri Luar Negeri
- Steve Witkoff — Utusan Khusus Timur Tengah
- Jared Kushner — Menantu Trump yang juga aktif dalam pembicaraan Timur Tengah
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi diperkirakan akan hadir.
Dalam pengarahan kepada wartawan Jumat (10/7), para pejabat AS mengungkapkan bahwa pesan tegas telah disampaikan melalui mediator regional: Iran harus mengeluarkan pernyataan publik yang menyatakan Selat Hormuz terbuka dan berjanji menghentikan penembakan terhadap kapal-kapal komersial.
"Mereka harus memberikan pernyataan itu kepada kami, atau kami tidak akan mendapatkan hasil yang baik bagi mereka," kata seorang pejabat AS dikutip Reuters.
Gedung Putih juga menuntut Iran secara terbuka mengakui bahwa penembakan terhadap kapal-kapal itu adalah sebuah kesalahan.
Sementara itu, sebuah delegasi dari Qatar terbang ke Iran pada Jumat untuk melakukan pembicaraan meredakan ketegangan dan mempermudah navigasi melalui Selat Hormuz. Langkah ini menunjukkan upaya multilateral untuk menenangkan situasi di kawasan yang kian memanas.
Pada dini hari Sabtu, Trump merespons laporan bahwa Iran berencana membunuhnya. Dalam unggahan di Truth Social, ia mengancam bahwa tentara AS akan "benar-benar menghancurkan dan memusnahkan semua wilayah" Iran sebagai balasan atas serangan tersebut.
Wall Street Journal dan media AS lainnya melaporkan bahwa Israel telah berbagi informasi intelijen dengan Washington bahwa Iran baru-baru ini merancang rencana pembunuhan terhadap presiden AS. Seruan terbuka untuk kematian Trump juga terdengar dalam pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Israel di kediamannya di Teheran pada 28 Februari lalu hari pertama perang Iran dengan AS dan Israel.
Sepanjang konflik, Iran berupaya menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz. Teheran bahkan mendirikan "Otoritas Selat Teluk Persia" yang mengklaim akan mengelola "izin jalur aman".
Menurut kantor berita Fars Iran, berdasarkan kesepakatan baru dengan AS, selat tersebut pada akhirnya akan dikelola oleh Iran dalam koordinasi dengan Oman termasuk kemungkinan "biaya layanan" bagi kapal yang melintas.







