Iran Akui Tembak Kapal Tanker di Selat Hormuz, AS Tuntut Pengakuan Terbuka di Negosiasi Oman

Ramli Nur

TEHERAN — Di balik layar ketegangan yang menyelimuti Selat Hormuz, sebuah pengakuan mengejutkan terungkap. Para pejabat Iran secara pribadi telah mengakui kepada penasihat Presiden Donald Trump bahwa mereka telah melakukan kesalahan dengan menembaki kapal-kapal komersial dan menuding kelompok garis keras "sesat" sebagai dalang di balik serangan tersebut.

Namun, AS tidak mau berhenti di situ. Gedung Putih secara tegas menuntut Iran untuk mengakui kesalahan mereka secara terbuka sebuah langkah yang dianggap penting untuk memulihkan kepercayaan setelah pelanggaran gencatan senjata yang terjadi pekan ini.

Presiden Trump telah mengerahkan tim negosiator kelas kakap untuk menghadapi Iran:

  • JD Vance — Wakil Presiden AS
  • Jared Kushner — Menantu Presiden
  • Steve Witkoff — Utusan Khusus Timur Tengah
  • Marco Rubio — Menteri Luar Negeri AS

Pembicaraan kritis ini dijadwalkan berlangsung di Oman pada hari Sabtu (11/7/2026) , dan hasilnya akan menentukan arah hubungan kedua negara ke depan.

Seorang pejabat AS, dikutip CBS, mengungkapkan isi pengakuan Iran di balik meja perundingan:

"Mereka kembali ke meja perundingan dan berkata, 'Kami telah melakukan kesalahan. Kami telah membuat kesalahan. Mari kita terus berbicara."

Meski demikian, AS tetap bersikukuh bahwa serangan terhadap kapal-kapal komersial terjadi bukan tanpa alasan. Menurut para pejabat AS, Iran terkejut dengan volume lalu lintas minyak dan gas yang melintasi jalur selatan Selat Hormuz dan itulah yang memicu mereka mengingkari kesepakatan.

AS memberikan sinyal jelas: jika Iran terus melakukan tindakan permusuhan, respons militer dan ekonomi akan segera menyusul.

Setelah pertemuan Sabtu di Oman, pemerintah AS memperkirakan Iran akan mengambil sikap bahwa selat tersebut tetap terbuka dan dikelola seperti sebelum konflik. Namun, jika posisi Iran berbeda:

"Itu tidak akan menjadi hari yang baik bagi mereka," kata seorang pejabat AS.

Seorang pejabat lainnya menambahkan: "Kita benar-benar berada dalam momen menunggu dan melihat."

Presiden Trump memberi para negosiator AS ruang dan waktu tetapi tidak banyak waktu. Mengenai apa yang disebut presiden sebagai "debu nuklir," sisa-sisa program nuklir Iran, AS lebih suka menggali dan menyelesaikannya melalui diplomasi. Namun, jika Iran menolak bertindak seperti "negara normal," ada pilihan lain termasuk membiarkannya tetap terkubur.

Para pejabat AS menegaskan bahwa jika Iran bahkan tidak mampu menghormati bagian termudah dari kesepakatan membuka selat untuk perdagangan mustahil untuk membahas masalah yang lebih rumit seperti program nuklir Iran.

Ketika ditanya soal laporan bahwa intelijen Israel mengungkap rencana jahat terhadap Trump, para pejabat menolak berkomentar. Namun, mereka menegaskan bahwa presiden tidak membuat keputusan berdasarkan rasa takut atau ancaman.

 

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar